Forkesi Sumsel Gelar Edutrip LRT, Fun Walk, dan Kopdar Peringati Hari Disabilitas Internasional 2025

17
Forum Keluarga Spesial Indonesia (Forkesi) Chapter Sumatera Selatan (Sumsel) menggelar rangkaian kegiatan Edutrip Naek LRT, Fun Walk, dan Kopdar dalam rangka memperingati Hari Disabilitas Internasional sekaligus Milad Forkesi Sumsel Tahun 2025, Minggu (30/11/2025).(BP/udi)

Palembang,BP- Forum Keluarga Spesial Indonesia (Forkesi) Chapter Sumatera Selatan (Sumsel) menggelar rangkaian kegiatan Edutrip Naek LRT, Fun Walk, dan Kopdar dalam rangka memperingati Hari Disabilitas Internasional sekaligus Milad Forkesi Sumsel Tahun 2025, Minggu (30/11/2025).
Kegiatan ini diikuti oleh puluhan anak penyandang disabilitas beserta orang tua. Rombongan memulai perjalanan dengan menaiki LRT Palembang dari Stasiun Punti Kayu menuju Jakabaring. Setibanya di sana, peserta melakukan fun walk memasuki kawasan Jakabaring Sport City (JSC) sebelum melanjutkan acara inti.

Ketua Forkesi Chapter Sumsel, Devie Wahyuni, menjelaskan bahwa Forkesi Sumsel kini telah memiliki sekitar 200 anggota, terbanyak berasal dari Kota Palembang.
“ Kegiatan kita hari ini adalah memperingati hari disabilitas internasional yang memang tanggal 3 Desember nanti tapi karena kita mau sekalian milad Forkesi Sumsel yang ke 7 tahun , jadi kegiatan kita berupa edutrip naik LRT bareng , kita tadi ada fun walk (Jalan bareng) masuk Stadion Jakabaring , disini kita ngobrol santai,”katanya.
Menurutnya saat pihaknya membutuhkan sekretariat yang tetap karena saat ini sekretariat masih dirumah pribadi .
“Jadi rencana kita itu ingin mendirikan Rumah Ramah ABK yang bisa menjadi tempat kreatif untuk mengasah keterampilan anak-anak berkebutuhan khusus,”katanya.

Baca Juga:  David Hardianto Aljufri Setuju Pemekaran Kikim Area

Selain itu, Forkesi juga menyoroti kebutuhan terapi untuk anak berkebutuhan khusus ini yang lanjut karena tidak di cover Kartu Indonesia Sehat (KIS) lagi tapi sudah di cover oleh Sentra.
“ Kendalanya lagi yang menengah pertengahan karena kebutuhan terapi khan enggak enggak sebatas itu dan yang bingung itu perekonomian yang sedang-sedang , dimana biaya-biaya terapi cukup mahal , jadi mereka kadang stop terapinya dan tidak berlanjut lagi, padahal terapi-terapi perlu sekali untuk mereka selain sekolah-sekolah juga,”katanya.
Sedangkan kebutuhan pribadi anak-anak disabilitas ini menurutnya ada beberapa yang sudah di bantu cuma pihaknya akan melakukan pendataan lagi untuk yang membutuhkan alat bantu dengar , kursi roda yang mungkin masih belum dapat lalu melatih keterampilan anak-anak .

Baca Juga:  DPRD Sumsel Bahas Dua Raperda Inisiatif Baru, Raperda  Kesejahteraan Lansia dan Raperda Penguatan Pembinaan Idiologi Pancasila

“ Kami rencana kemarin membuat eskul renang ataupun melukis mengasah keterampilan mereka dan mereka ini rata-rata masih yang kecil-kecil tapi yang dewasa ada juga yang disini dan sebenarnya kita forum keluarga yang umur disabilitas tidak di batasi diharapkan semua yang memiliki anak yang berkebutuhan khusus bisa bergabung disini ,”katanya.

Salah satu orang tua peserta, Trigustina, turut membagikan kisah perjalanan putranya, M. Ridho Putra, yang lahir dengan kondisi khusus.
Trigustina yang merupakan warga 3 Ilir ini menceritakan bahwa Ridho lahir prematur dengan berat hanya 9 ons setelah mengalami pendarahan berkepanjangan selama kehamilan. Usai menjalani perawatan di inkubator selama dua bulan, Ridho terus menjalani terapi sehingga bertambah beratnya .

“ Lalu keluar diterapi di rumah disinari , dipanasi pakai lampu yang 100 watt dan dengan keberasan Allah dia berkembang.
“Waktu umur dua tahun, kakinya yang satu agak gemetar di terapi terus, sudah terapi ternyata dia CP jadi harus terapi terus kata dokter dan dengan lahir kecil itu banyak kekurangan terutama saraf motorik , yang sistimnya yang CP yang kejang sering keras , tidak bisa lagi dilatih tapi terus di latih akhirnya bisa,”katanya.

Baca Juga:  Pembawa 4 Kg Sabu dan 5.000 Ektasi ke Palembang di Tangkap

Ridho menurutnya sekolah di YPAC dari TK dan sekarang sudah lulus dari Universitas Terbuka tamat tahun 2024 jurusan Ilmu Komunikasi.
Trigustina mengatakan keluarganya selalu memberikan perhatian lebih untuk Ridho yang merupakan anak bungsu dari empat bersaudara.

“ Saudaranya yang lain normal ,”katanya.
Dengan kondisi Ridho , dirinya selalu memanjakan Ridho karena Ridho adalah anak istimewa yang harus dibedakan dengan yang lain .

“ Ridho tidak minder karena di kasih tahu dulu , ibu selalu ngomong contohnya pak Prof Daud Busroh yang disabilitas tapi bisa jadi professor, pernah ibu ajak jalan-jalan Ridho di jalan khan ada yang minta-minta , Ridho yang dapat cobaan seperti itu tapu Ridho masih bersyukur dengan Allah SWT,” katanya.#udi

Komentar Anda
Loading...