TACBN Apresiasi Penemuan Prasasti Pendirian Kantor Walikota Palembang dan Usulkan Pengembangan Identitas Budaya Kota Palembang

72
Anggota Tim Ahli Cagar Budaya Nasional (TACBN), Prof. Dr. Semiarto Aji Purwanto datang ke Palembang guna menghadiri undangan dari Pj. Walikota Palembang Dr. Cheka Virgowansyah, S.STP., M.E, Jumat (7/2) terkait pentingnya pengembangan identitas budaya kota Palembang, dengan menyoroti penemuan prasasti-prasasti di Gedung Walikota Palembang sebagai warisan budaya yang bisa dijadikan model bagi kota-kota lain di Indonesia. (BP/udi)

Palembang, BP- Anggota Tim Ahli Cagar Budaya Nasional (TACBN), Prof. Dr. Semiarto Aji Purwanto datang ke Palembang guna menghadiri undangan dari Pj. Walikota Palembang Dr. Cheka Virgowansyah, S.STP., M.E, Jumat (7/2) terkait pentingnya pengembangan identitas budaya kota Palembang, dengan menyoroti penemuan prasasti-prasasti di Gedung Walikota Palembang sebagai warisan budaya yang bisa dijadikan model bagi kota-kota lain di Indonesia.

Dalam pertemuan  yang digelar di  kantor Walikota Palembang , hadir diantaranya Pj. Walikota Palembang Dr. Cheka Virgowansyah, S.STP., M.E, Kepala Dinas Kebudayaan Kota Palembang Ir. H. M. Affan Prapanca, MT., IPM., Kepala Dinas PU dan Penataan Ruang (PUPR) Kota Palembang Ir. H. Akhmad Bastari, ST.,MT.,IPM., Asean Eng, anggota Tim Ahli Cagar Budaya (TACB) Kota Palembang Kemas Ari Panji, budayawan Palembang Vebri Al Lintani, Isnayadi Safrida, Genta dan Wanda Lesmana, Sejarawan Sumsel Dr Dedi Irwanto MA dan perwakilan OPD

“Ini memenuhi undangan pak Pj Walikota Palembang,  Pj walikota adalah lulusan fisip UI, dua minggu , tiga minggu lalu beliau main ke kampus, karema  Indra itu kawan kosnya kebetulan pegawai saya lalu dikenalin lalu kita ngobrol  lalu saya sampaikan kalau saya backgroudnya antropologi,”katanya.

Menurut Dekan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Indonesia (UI)  ini, dia melihat prasasti adalah budaya materinya, material culture, salah satu yang yang didorong , dikembangkan, sebagai model ditempat-tempat lain, di kota-kota lain dan Palembang menurutnya sudah punya modal  .

Baca Juga:  Menpar Arief Yahya: Lembata Harus Perkuat 3A

“Kantor Walikota sendiri , prasastinya-prasastinya lengkap yang bisa menggambarkan bagaimana identitas kota Palembang itu  terbentuk, selama ini kita cuma bisa bilang ke orang-orang , “ Wong Kito Galo”  tapi “Wong Kito Galo” itu apa sebenarnya , apa cirinya, kalau zaman dulu Ampera berani tapi nilai budaya apa, value apa,”katanya.

Karena dia itu menawarkan gagasan-gagasan dalam konteks untuk bisa dipertimbangkan untuk di rumuskan  sebagai program bagaimana mengidentifikasi dan mengembangkan identitas budaya kota Palembang .

“ Misalnya  kita lihat contoh-contoh di Jawa, kota Yogyakarta itu 30 , 40 tahun yang lalu orang mengenal Yogya itu  Jawa tetapi sekarang  bahkan orang Jawa di Yogya tidak  merasa  Yogya itu kota Jawa, karena sekitar Yogya itu kampus  puluhan , ratusan barang kali  datang dari berbagai macam tempat, berbahasa Indonesia , jangan-jangan dialeg Jakarta banyak sekali, orang-orang Yogya kalau pakai bahasa profer di Yogya enggak ada patnernya lagi, jadi identitas sebagai kota Jawa di Yogya itu hilang,”katanya.

Melihat gedung Walikota Palembang yang merupakan peninggalan kolonial Belanda menurutnya kalau di katakan unik menurutnya tidak terlalu unik karena bangunan –bangunan kolonial itu punya ciri tertentu diambil zaman barok, ada renasance sedangkan di Indonesia bangunan kolonial yang khas adalah bangunan indies karena Indonesia iklim tropis dan banyak hujan.

Baca Juga:  DPRD Sumsel Minta PTS Ikut Lakukan Verifikasi Mahasiswa Terdampak Covid-19

“ Jadi kalau dalam konteks ciri bangunan kolonialnya ini khas bangunan kolonial  tapi bukan berarti  khas Cuma dijumpai disini  dibanyak tempat ada  nah apa yang tidak terlalu banyak dijumpai , ini fungsinya sebagai kantor air, ledeng nah ini saya rasa tidak terlalu banyak di Jakarta, di kota-kota besar yang khusus pengelolaan air , tidak terlalu banyak di Bandung  ada leideng juga  tapi dengan  yang besaran yang berbeda ,”katanya.

Soal apakah Gedung Walikota ini kedepan dijadikan museum atau tetap sebagai kantor Walikota Palembang, dia melihat ada dua pendekatan, untuk gedung-gedung kuno untuk masyarakat , misalnya masyarakat adat tertentu  dan pendekatan untuk konservasi.

“ Yang pertama benar-benar di sterilkan , itu memang menjadi cagar budaya aja, tapi kedua yang bisa dikembangkan istilahnya cohemitation  jadi dipergunakan untuk kehidupan sehari-hari tapi dengan fungsi yang berbeda dan tetap membiarkan kegiatan lain disekitar tetap ada, ini gagasannya adalah  anti penggusuran tapi pada saat yang sama memberikan  edukasi pada masyarakat ,  yang ini istimewa lho, jangan diganggu dan ini bisa tetap di pakai  dengan catatan hati-hati sekali untuk di renovasi,  setiap kali renovasi didampingi Tim Ahli Cagar Budaya (TACB),”katanya.

Baca Juga:  Pemilu 2024: Inilah Enam Poin Kerjasama Bawaslu dan MUI

Dia ingin melihat kedepan Palembang sebagai kota  memiliki identitas budaya yang khas, apakah itu terkait dengan etnik tertentu, atau kebanggaan Sriwijaya  atau kebanggan Kesultanan Palembang Darussalam atau kebanggaan atas Musi (air) atau kebanggaan terhadap peradaban  yang cukup panjang.

“ Saya sudah sampaikan ke pak Kadis Kebudayaan dan Pak PJ Walikota untuk  di bicarakan secara terbuka saja  agenda kedepan, mungkin satu tahun ini pak Walikota baru ini nanti mau merumuskan kayak apa  strategi kebudayaan kota Palembang, dan kita siap mendampingi dan saya juga sampaikan juga kalau kita mau bicarakan identitas kota , sering kali identitasnya tidak tunggal  bisa macam-macam,”katanya.

Pj Walikota Palembang Dr. Cheka Virgowansyah, S.STP., M.E menambahkan kedatangan anggota TACBN  ini ke Palembang tidak lain untuk mengapresiasi  atas penemuan prasasti pendirian kantor Walikota Palembang zaman Kolonial Belanda.

“ Kemudian berdiskusi dengan para tim ahli cagar budaya kota  untuk menyiapkan program-program kedepan yang bisa dilakukan  secara kolaborasi antara TACBN dan TACB Palembang, siapapun walikotanya kedepan dan harapannya seperti itu , jadi programnya tetap jalan  dan kita masih bisa dua hal, yaitu menyelamatkan cagar budaya, artefak  yang bisa ditemukan dan kedua kita bisa mencari potensi-potensi cagar-cagar budaya maupun artefak lainnya,”katanya.#udi

Komentar Anda
Loading...