Lebih 15 Tahun Menyembur, Ternyata Lumpur Lapindo Mengandung Harta Karun

115
Lumpur Lapindo, diprediksi mengandung Logam Tanah Jarang. (BP/IST) 

Jakarta, BP – Sudah lebih dari 15 tahun
Lumpur Lapindo dari tanah wilayah Timur Jawa menyembur. Diketahui semburan lumpur berasal dari Sumur Banjarpanji 1, Porong, Sidoarjo, Jawa Timur di lokasi pengeboran gas milik PT Lapindo Brantas, di Kecamatan Porong, Sidoarjo, Jawa Timur.

Namun lumpur Lapindo akibat semburan gas di Sidoarjo, Jawa Timur itu ternyata terindikasi mengandung ‘harta karun’.
Hal ini diungkapkan oleh Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM).
Kepala Badan Geologi Kementerian ESDM Eko Budi Lelono membeberkan indikasi ini dan penelitian pun tengah dilakukan Badan Geologi terkait kandungan mineral di lumpur Lapindo ini. Tak tanggung-tanggung, lumpur ini terindikasi mengandung logam super langka alias Logam Tanah Jarang (LTJ) atau rare earth element.
Seperti diketahui, logam tanah jarang memiliki banyak manfaat dan bisa digunakan sebagai bahan baku dari berbagai peralatan yang membutuhkan teknologi modern saat ini, antara lain sebagai bahan baku untuk baterai, telepon seluler, komputer, industri elektronika hingga pembangkit listrik berbasis energi baru terbarukan (EBT) seperti Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS), Pembangkit Listrik Tenaga Bayu/ Angin (PLTB). Lalu, bisa juga untuk bahan baku industri pertahanan hingga kendaraan listrik.

Baca Juga:  Vebri Al Lintani Terima Bidar Sritures Award 2026, Dedikasi Budaya Sumsel Diapresiasi Universitas Bina Darma

Berdasarkan data survei Badan Geologi Kementerian ESDM tahun 2009 – 2020, tercatat saat ini untuk logam tanah jarang sendiri terdapat di Tapanuli, Sumatera Utara sekitar 20.000 ton. Lalu, di Bangka Belitung ada mineral monasit yang mengandung logam tanah jarang, dan monasit ini dijumpai bersama endapan timah dengan sumber daya sekitar 186.000 ton.

Sementara itu di Kalimantan Barat potensi logam tanah jarang dalam bentuk laterit 219 ton dan Sulawesi 443 ton.
Badan Geologi Kementerian ESDM 2019, logam tanah jarang (LTJ) merupakan salah satu dari mineral strategis dan termasuk “critical mineral” yang terdiri dari kumpulan dari unsur-unsur scandium (Sc), lanthanum (La), cerium (Ce), praseodymium (Pr), neodymium (Nd), promethium (Pm), samarium (Sm), europium (Eu), gadolinium (Gd), terbium (Tb), dysprosium (Dy), holmium (Ho), erbium (Er), thulium (Tm), ytterbium (Yb), lutetium (Lu) dan yttrium (Y).

Baca Juga:  Ponpes Harus  Jaga Ideologi Pancasila dan Kebhinekaan

Kepala Badan Geologi Kementerian ESDM Eko Budi Lelono
selain terindikasi mengandung logam tanah jarang, di dalam lumpur Lapindo ini juga terindikasi mengandung logam mineral kritis (CRM) yang jumlahnya lebih besar dibandingkan logam tanah jarang.

“Tahun 2020 penyelidikan di sana, dan teman-teman kami terlibat dan lakukan kajian secara umum di Sidoarjo. Dan ada indikasi logam tanah jarang ini, selain logam tanah jarang ada logam raw critical material yang jumlahnya lebih besar dari logam tanah jarang,” ungkapnya pada media, Jumat (21/01/22).

Tim Humas Badan Geologi Kementerian ESDM menjelaskan lebih lanjut bahwa salah satu kandungan langka yang ada di lumpur Lapindo adalah mineral-mineral yang termasuk kategori mineral kritis (CRM), yaitu Litium (Li) dan Stronsium (Sr).

Baca Juga:  Tari Sondok Piyogo Siap Tampil di Even Budaya Kambang  Iwak Harmoni, Sultan Palembang Beri Dukungan

Litium juga bisa digunakan sebagai bahan baku untuk baterai kendaraan listrik maupun pembangkit berbasis energi baru terbarukan seperti Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS).
Badan Geologi juga menyebut bahwa lumpur Lapindo ini juga bisa dimanfaatkan untuk bahan baku tembikar, bodi keramik, bata, dan genteng.
“Kandungan Litium di lumpur Lapindo memiliki kadar 99,26-280,46 ppm, dan Stronsium dengan kadar 255,44 – 650,49 ppm. Potensi Mineral Ekonomis masih dalam tahap penyelidikan umum, sehingga data belum akurat karena secara umum masih menggunakan hasil penyelidikan tahap awal yang belum rinci dan terbatas pada kedalaman dangkal,” tulis keterangan resmi Tim Humas Badan Geologi, Sabtu (22/1/22). #rid/net

Komentar Anda
Loading...