Sumpah Pemuda Simbol Perjuangan Anak Muda  

38
Dyah Roro Esty

Jakarta, BP–Anggota MPR RI dari Fraksi Golkar Dyah Roro Esty  menegaskan,  Sumpah Pemuda merupakan simbol perjuangan anak muda untuk bersatu nusa, bangsa dan bahasa. Yang telah dilakukan  pemuda  masa lalu sebagai nikmat bagi  bangsa Indonesia saat ini.

“Sekarang kita merasakan nikmat dari perjuangan para pemuda. Peran anak muda sangat penting. Bisa kita lihat dari bonus demografi mempunyai potensi yang memberi harapan,  namun di sisi  lain juga bisa membawa ancaman. Akan menjadi ancaman bila bonus demografi tak disiapkan dengan baik. Jika akses pendidikan  sulit, lingkungan  buruk, susah mendapat air bersih,  merupakan ancaman terhadap bonus demografi dan  pelanggaran hak asasi manusia”, ujar Dyah di ruangan  wartawan DPR, Jakarta, Senin (28/10) dalam sebuah diskusi bertajuk Memaknai Hari  Sumpah Pemuda.

Baca Juga:  Fajri Romadhon Sebut Siapapun Boleh Gantikan Dirinya! Tapi Taat Prosedur dan Administrasi

Menurut Dyah, kabar baik dari bonus demografi  akan menjadi kekuatan bangsa Indonesia di pentas dunia. Untuk itulah pemerintah diharapkan  memberi beasiswa kepada anak-anak muda.

Anggota MPR Herman Khaeron mengatakan,  Sumpah Pemuda pada Kongres II Pemuda Tahun 1928 merupakan salah satu tahapan kulminasi menuju Indonesia merdeka  17 Agustus  1945. Gerakan pemuda saat itu mendapat inspirasi dari gerakan pemuda seperti Budi Utomo, pemuda dari kaum terpelajar. “Sebuah sikap kesatria anak muda untuk mendeklarasikan Sumpah Pemuda”, jelas Herman.

Herman menambahkan,  Sumpah Pemuda  sebagai nilai luhur yang menyatukan bangsa Indonesa dalam satu nusa, bangsa dan bahasa.   Sikap  pemuda  masa itu patut diacungi jempol, karena  dalam suasana  terbatas, diawasi  intel  Belanda, mereka berani mengadakan pertemuan dan bertekad  Indonesia merdeka. “ Makna penting dari para pemuda,  mereka adalah kekuatan, kreatifitas, dinamis dan motivasi,” tutur politisi Partai Demokrat tersebut.

Baca Juga:  Pertamina Patra Niaga Kilang Plaju Tekankan Aspek Keselamatan di Area Kerja, Kembali Gelar Mindset & Culture Day

Sikap anak muda seperti itu lanjut Herman,  tidak hanya terjadi  tahun 1928. Menjelang Indonesia merdeka, Agustus 1945, Soekarno juga diculik anak muda, pemuda, agar segera memproklamasikan kemerdekaan. “Dalam era kemerdekaan, anak-anak muda juga mempercepat pergerakan,”katanya.

Bangsa ini mendapat tantangan berupa persoalan ekonomi yang bisa mengatur dunia politik dan masalah fundamentalis agama. Seharusnya  kita menyudahi pembicaraan yang menguras energi. “Harapan saya stop diksi yang mengarah pada perpecahan. Saya  mengajak pemuda untuk bersikap lebih produktif, seperti berperan dalam proses pengambilan kebijakan. Bonus demografi bila tidak dikelola akan menjadi musibah. Kita harus tetap optimis, hentikan bicara soal perbedaaan, saatnya kita bersatu”, tegasnya.

Baca Juga:  Wakil Ketua MPR: Anak Muda Tetap Optimis di Masa Pandemi

Romdony, wartawan muda berbakat   menyebut bangsa ini disatukan oleh semangat yang sama sebagaimana dilakukan  pemuda tahun 1928. Semangat persatuan tersebut  perlu dirawat serta menghindari hal-hal bersifat memecah belah. “Mari kita membikin berita yang tidak mengadu domba,” papar Romdony. #duk

 

Komentar Anda
Loading...