Sahur Berdarah di Ibukota Kesultanan Palembang

144
Lukisan suasana perang Palembang. (BP/IST)

Palembang, BP–Minggu, 24 Juni 1821, ketika rakyat Kesultanan Palembang Darussalam sedang makan sahur, pasukan Kolonial Belanda secara tiba-tiba menyerang ibukota kota Kesultanan Palembang Darussalam. Perang ini merupakan pertempuran ketiga antara Kesultanan Palembang Darussalam dan Belanda setelah dua pertempuran sebelumnya Belanda kalah melawan pasukan Palembang Darussalam. Inilah babak baru perlawanan Sultan Mahmud Badaruddin (SMB) II Palembang terhadap pemerintahan Kolonial Belanda.

Baca Juga:  Mahasiswa Unsri Kagumi Koleksi Museum AK Gani

Bagi Mayor Jendral De Kock, yang memimpin armada perang Belanda, penyerangan ini adalah kesempatan Belanda menang perang walaupun harus melanggar kesepakatan gencatan senjata sebelumnya.

Menurut arkeolog dari Balai Arkeologi Palembang, Retno Purwati, gencatan senjata tersebut hanya akal-akalan pemerintah Kolonial Belanda untuk mengalahkan Palembang yang selama ini susah di taklukkan.

“Iya benar, ini kembali ke soal kelicikan Belanda. Saat perang berlangsung dan melewati hari Jumat, perang sepakat dihentikan, sementara untuk menghormati umat muslim yang menjalankan ibadah Shalat Jumat. Dengan analogi itu, SMB II mengira saat memasuki bulan puasa, Belanda juga akan menghormati bulan itu dengan cara menghentikan perang, ternyata pemikiran SMB II meleset, Belanda ternyata curang,” kata Retno, Senin (21/8).

Baca Juga:  Kesultanan Palembang Darussalam Jalin Kerjasama Bersama Kerajaan dan Kesultanan di Sultra

Namun, kata Retno, justru di saat puasa inilah Belanda menyerang dengan gencar ke Benteng Kuto Besak.

Komentar Anda
Loading...