Sahur Berdarah di Ibukota Kesultanan Palembang

171
Kemas Ari Panji

Sekretaris Masyarakat Sejarawan Provinsi Sumatera Selatan Kemas A.R. Panji, S.Pd., M.Si menambahkan , Belanda sengaja menggunakan siasat licik untuk menaklukkan Palembang setelah dua perang sebelumnya kalah.

“Mereka buat perjanjian bahwa akan saling menghormati di hari suci. Saat bulan puasa dilakukan gencatan senjata Palembang dan Belanda tidak boleh menyerang atau berperang pada hari minggu dan jumat. Tapi Belanda mengingkari janji pada hari jumat pagi Belanda mulai melakukan pergerakan atau penyerangan ketika Palembang tidak siap dan sedang melakukan ibadah puasa,” katanya.

Baca Juga:  Temukan Kembali Sejarah Keris Palembang yang Hilang

Serangan dadakan ini tentu saja, menurut Ari, melumpuhkan Palembang karena mengira di hari Minggu orang Belanda tidak menyerang.

Setelah melalui perlawanan yang hebat, tanggal 25 Juni 1821 Palembang jatuh ke tangan Belanda. Kemudian pada 1 Juli 1821 berkibarlah bendera Belanda di Benteng Kuto Besak, maka resmilah kolonialisme Hindia Belanda di Palembang dimulai.

Baca Juga:  PT Waskita Gali Kembali Lokasi Penemuan Batu Nisan Kuno di Pertokoan Tengkuruk Permai

Lalu tanggal 13 Juli 1821, menjelang tengah malam, SMB II beserta keluarganya menaiki kapal Dageraad dengan tujuan Batavia.

Dari Batavia SMB II dan keluarganya diasingkan ke Ternate sampai akhir hayatnya 26 September 1852.

Sebelumnya Konvensi London 13 Agustus 1814 membuat Britania (Inggris) menyerahkan kembali Palembang kepada Belanda termasuk semua koloninya di seberang lautan sejak Januari 1803.

Baca Juga:  Pantomim Palembang Tampil  di Mimori 2022

Kebijakan ini tidak menyenangkan Raffles karena harus menyerahkan Palembang kepada Belanda. Serah terima terjadi pada 19 Agustus 1816 setelah tertunda dua tahun, itu pun setelah Raffles digantikan oleh John Fendall.

Komentar Anda
Loading...