Lestarikan Budaya Membaca Kitab Kuning
Palembang, BP

KITAB KUNING-Ketua DPRD Sumsel Giri Ramanda bersama Ketua DPW PKB Sumsel Drs H Ramlan Holdan, membunyikan rebana menandai pembukaan semifinal MKK, Sabtu (6/5)
ROIS Syuriah Pengurus Wilayah Nahdatul Ulama (PWNU) Sumsel yang juga Pimpinan Pondok Pesantren Sabilul Hasanah KH Muhammad Mudarris menilai, saat ini sudah sangat sedikit santri ponpes yang bisa membaca kitab kuning. Hal ini dikarenakan perkembangan zaman membuat budaya membaca kitab kuning semakin memudar di kalangan santri.
Hal ini disampaikan KH Muhammad Mudarris dalam sambutannya di acara semifinal Musabaqah Kitab Kuning (MKK) tingkat provinsi di Asrama Haji Palembang, Sabtu (6/5) sore. Oleh karena itu, kata dia, acara musabaqah kitab kuning ini sangat perlu dilakukan dan diagendakan setiap tahun agar budaya membaca kitab kuning ini bisa tetap dilestarikan.
“Sebenarnya kitab kuning ini sama dengan Alquran pada umumnya, hanya saja di kitab kuning tidak ada tanda baca, jadi pembaca membaca huruf arab gundul. Dari ratusan ponpes di Sumsel ini, mungkin tidak lebih dari 20 persen santri yang dapat membaca kitab kuning ini. Maka dari itu, acara seperti ini harus terus dilakukan,” katanya.
Ketua Panitia Acara Musabaqah Kitab Kuning (MKK) Antoni Yuzar mengatakan, sebelum sampai pada semifinal sudah dilakukan seleksi di 16 kabupaten kota di Sumsel.
“Hari ini (kemarin-red) kita sudah masuk semifinal, pelaksanaan lombanya kita lakukan dua hari saja. Setelah ini, untuk juara 1 putra putri akan dibawa untuk mengikuti MKK di tingkat nasional,” ujar Politisi PKB ini.
Untuk teknis penilaian, kata dia, semua diserahkan dengan 16 dewan juri yang terdiri dari Kiyai Ponpes dan PWNU Sumsel untuk menentukan siapa yang akan mewakili Sumsel dalam perebutan juara di tingkat nasional.
“Untuk tingkatan ini terdapat dua lomba, yakni Qiroatul Kitab Fathul Qorib dan Hifzul (hafalan) Nadhom Imriti. Lalu, untuk tingkatan Ulya, lomba baca Kitab Ihya Ulumuddin dan Hifzu nNdhom Alfiah Ibnu Malik. Di semifinal ini sudah ada 16 wasit siap menilai peserta yang kurang lebih berjumlah 250 terdiri dari 148 peserta dari tingkaan Ula dan 96 peserta dari tingkatan Ulya,” urai dia.
Ketua DPW PKB Sumsel Ramlan Holdan mengatakan. gelaran MKK ini merupakan bagian dari kepedulian PKB untuk melestarikan khazanah di Ponpes.
“Kita lombakan untuk membangkitkan bahwa kitab kuning ini ada dan terus dipakai sebagai bagian pendidikan,” ujarnya.
Mengenai hadiah, pemenang akan mendapatkan uang pembinaan dan diberangkatkan ke Jakarta oleh PKB guna memperebutkan juara 1,2 dan 3 nasional. Untuk pemenang tingkat nasional kategori Qiraatul Qutub dan Hifzul Nadhom baik putera maupun puteri yaitu juara 1 mendapatkan hadiah Rp10 juta, umrah dan pembinaan, serta biaya pendidikan Rp20 juta. Sementara juara II mendapat biaya pendidikan Rp15 juta.
Oosk