Pelaku Pembunuhan Sekeluarga di Banyuasin Lebih dari Satu

Palembang, BP
Pembunuhan sadis satu keluarga besar terjadi di Kabupaten Banyuasin, tepatnya di Jalur 16, Trans Swakarsa Mandiri (TSM) Desa Indrapura Kecamatan Muara Sugihan, Kabupaten Banyuasin.
Mirisnya, para korban dibuang di perairan di sungai desa setempat dengan keadaan sudah membusuk. Bahkan, tiga diantaranya dibungkus menggunakan karung, sementara satu jenazah berusia 14 tahun jenis kelamin perempuan sudah kehilangan kaki dan tangannya.
Identitas para korban diketahui Pertama Tasir bin Syarat (65), Kartini binti Tasir (37), Winarti Binti Mansyur (14) dan Ariam binti Antar (6). Keempatnya merupakan keluarga besar yang sesungguhnya terdiri dari lima orang yang terdiri dari Pak Tasir dan istri beserta seorang anaknya serta dua orang cucu.
Sedangkan untuk Ropiah yang diketahui berusia enam puluh tahun hingga kini belum diketemukan petugas di lokasi kejadian.
Sebelumnya petugas menemukan sepasang pria dan wanita mengambang di sungai Banyuasin dengan terbungkus dalam karung, Jumat 13 Mei 2016, lalu di hari berikutnya kembali ditemukan satu korban mengambang tak jauh dari lokasi penemuan awal. Di hari Minggu 15 Mei 2016 satu korban lagi temukan dibungkus dalam karung.
Kabid Humas Polda Sumsel Kombes Pol R Djarod Padakova, Senin (16/5), mengatakan jika keempat korban yang ditemukan dengan kondisi mengenaskan merupakan keluarga besar dari Tasir yang merupakan warga Desa Indrapura, Jalur 16, Trans Swakarsa Mandiri (TSM) Desa Indrapura, Kecamatan Muara Sugihan, Kabupaten Banyuasin.
Dengan terungkapnya hal itu, akhirnya identias mayat-mayat yang sebelumnya tak diketahui identitasnya dan ditemukan hanyut serta mengapung di Perairan Jalur Banyuasin secara tiga hari berturut-turut kini diketahui. Dan inilah identitas keempatnya.
Pertama Tasir bin Syarat (65), Kartini binti Tasir (37), Winarti Binti Mansyur (14) dan Ariam binti Antar (6). Keempatnya merupakan keluarga besar yang sesungguhnya terdiri dari lima orang yang terdiri dari Pak Tasir dan istri beserta seorang anaknya serta dua orang cucu.
“Untuk Ropiah yang diketahui berusia enam puluh tahun hingga kini belum diketemukan petugas di lokasi kejadian,” kata Djarod.
Sedangkan Kanit Pidum Polres Banyuasin, Ipda Sugeng Sarwan ketika di temui disela-sela otopsi jenasah para korban di kamar Mayat Rumah Sakit Bhayangkara Polda Sumsel mengatakan kalau pihaknya masih mengejar para pelaku yang lebih dari satu orang.
“Rumah korban ini berada ditengah sawah dan jauh dari penduduk dan dekat sungai, hari ini kita melakukan otopsi para korban di rumah sakit Bhayangkara Polda Sumsel dan memang kita lihat banyak luka bacokan di tubuh para korban dan ini jelas tindak kejahatan,” katanya, Senin (16/5).
Mengenai sesosok mayat laki-laki yang ditemukan, Senin (16/5) pagi di perairan Dusun Cahaya Kenten antara Jalur 25 dan 23 Kecamatan Air Sugihan Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI), bukan merupakan anggota dari keluarga Tasir. Hal itu setelah dipastikan mayat yang memiliki jenis kelamin laki-laki tersebut sudah diambil keluarganya.
“Mayat yang ditemukan pagi tadi bukan anggota keluarga Tasir. Karena saat ini, mayat tersebut telah diambil keluarganya, info mayat itu orang gila,” kata Sugeng.
Datangi TKP
Sementara itu Direktur Kriminal Umum (Dirkrimum) Polda Sumsel Kombes Pol DTM Silitonga didampingi Kapolres Banyuasin AKBP Prasetyo mendatangi rumah Tasir yangg diduga menjadi tempat eksekusi kelima korban yang ditemukan membusuk di perairan sungai Air Sugihan Muara Padang, Senin (16/5).
Lokasi rumah Tasir yang berada di Desa Indrapura Jalur 14 Air Sugihan, memang ditemukan banyak bercak darah. Dari itulah, guna melakukan penyelidikan.
Kabid Humas Polda Sumsel Kombes Pol R Djarod Padakova saat ditemui di Mapolda Sumsel, Senin (16/5). Menurut Djarod, Dirreskrimum Polda Sumsel turun langsung untuk memimpin melakukan olah tempat kejadian perkara (TKP).
“Pagi ini, Dirreskrimum bersama rombongan termasuk Kapolres Banyuasin AKBP Prasetyo serta Tim Lafbor telah menuju ke lokasi kejadian untuk melakukan olah TKP,” katanya.
Informasi yang beredar, korban merupakan warga transmigrasi baru di Jalur 16 Desa Indrapura. Tasir awalnya pendatang dari pulau Jawa yang akan menjadi petani ditempat itu.
Tasir sendiri telah menjual tanah di Jawa seharga Rp 600 juta baru-baru ini. Namun, uang tersebut rupanya telah dititipkan korban kepada keluarganya. Hingga muncul dugaan korban tewas dibantai dengan motif perampokan.
“Katanya jual tanah di Palembang uangnya Rp 600 jutaan. Kemudian beli tanah yang sekaligus ada rumahnya di desa Indrapura. Sisanya kabarnya juga dititipkan dengan tetangga uang itu. Tapi pastinya saya gak tahu,” kata teman korban, Karso.
Katanya juga rumah yang sudah dibeli itu mau ditempati paginya. Tapi malah kejadian kayak gini. “Malah katanya sudah dibersihin rumah yang sudah dibeli itu, pokoknya besok mau di tempati,” kata Karso .
Menurutnya Tasir merupakan warga yang pendiam dan tidak neko-neko. Dia sendiri terakhir bertemu dengan saudara jauhnya itu ketika menggiling padi hasil panen Tasir tahun lalu.
Menurutnya warga TSM memang jarang berkomunikasi degan warga Indrapura. Alasannya jarak yang lumayan jauh membuat hubungan antar warga tidak seintim warga lainnya.#osk