UN Siswa SLB Dibantu Pengawas
Palembang, BP
Pelaksanaan hari kedua Ujian Nasional (UN), SMA sederajat lainnya berjalan lancar dan para peserta menghadapi UN pun sangat antusias. Seperti, di Sekolah Luar Biasa (SLB) A Panti Rehabilitasi Penyandang Cacat Netra (PRPCN) Palembang, berlangsung lebih santai, kendati pada saat ujian dibantu pengawas. Hal ini dikarenakan mata pelajaran Matematika, banyak sImbol-simbol yang tidak begitu dimengerti oleh para peserta.
Kepala SLB A PRPCN Suwandi mengatakan, UN SMA tahun ini diikuti lima pelajar. Diantaranya, tiga perempuan, dua laki-laki. Semua anak ini mempunyai kecerdasan normal sehingga dipercaya mengikuti ujian nasional. Hanya memang dalam beberapa hal siswa di lembar jawaban masih ada yang dibantu guru pengawas. Seperti, soal matematika dirasa sulit oleh siswa menurutnya adalah hal yang wajar.
“Khusus di sekolah disini yang ikut UN hanya siswa penyandang tuna netra atau kelainan pada penglihatan. Dibantu oleh pengawas khususnya pelajaran matematika ini karena kesulitan simbol atau lambang,” katanya kepada BeritaPagi, Selasa (5/4).
Ia menjelaskan, metode UN yang diikutinya berbeda dengan siswa di sekolah regional. Soal dan lembar jawaban anak didiknya tersebut menggunakan huruf braille yang disiapkan oleh Pusat Pendidikan (Puspendik).“Kesulitannya dalam mengerjakan soal karena lambang-lambang matematika diberikan dalam bentuk braille. Guru pengawas turut mendampingi tanpa ada rambu-rambu ke arah jawaban, hanya membacakan soal,” ujarnya.
Adapun jumlah soal dan jadwal mata pelajaran yang diujikan tetap sama dengan peserta UN lainnya. Ruangan ujian pun diawasi tim guru sebanyak dua orang. Diakuinya, guru pengawas ini adalah mereka yang ahli dalam bidang braille. “Kalau di sekolah lainnya, guru mungkin hanya terfokus memperhatikan dan mengawasi siswa. Tapi untuk pelaksanaan UN di SLB, guru pengawas juga menjadi fasilitator,” bebernya.
Ia menambahkan, siswa sudah disiapkan UN sejak awal tahun ajaran baru dan mengintensifkan membaca buku pengayaan dan latihan dengan menggunakan huruf braille. Hal ini dilakukan agar siswa terbiasa membaca dan mau berfikir aktif serta menganalisa maksud soal. “Kami juga memberikan motivasi kepada siswa agar lebih rajin belajar, kami berikan mereka fasilitas perpustakaan sekolah,” tegasnya.
Dia pun mengaku, tidak banyak mengubah sistem pembelajaran meski hasil UN hanya sebagai pemetaan kualitas pendidikan. Hanya saja dia berharap agar siswa disabilitas tersebut tetap berkeinginan melanjutkan ke perguruan tinggi. Sebab, mayoritas siswa hanya puas dengan keterampilan pijat urut yang diperoleh selama belajar di SLB.
“Sedikit siswa melanjutkan ke perguruan tinggi, kita ingin mengubah maindset mereka agar tetap semangat mencari ilmu meski dalam keterbatasan,” terangnya. Selain pijat urut, pihak sekolah juga memberikan keterampilan lain diantaranya komputer berbasis braille dan pembinaan rohis. Diharapkan, ilmu tersebut bisa bermanfaat saat melanjutkan pendidikan lebih tinggi.
“Sudah banyak penyandang disabilitas yang sukses seperti Didik Rasyidi. Kami ingin siswa juga terinspirasi dengan tokoh yang mampu beraktivitas dengan kondisi penglihatan kurang baik,” harapnya.#adk