Anton Charliyan: Mahkota Binokasih Simbol Persatuan sekaligus Jatidiri Masyarakat Sunda

15
TASIKMALAYA, BP – Ketua Majelis Adat Sunda (MASDA) Jawa Barat (Jabar), Anton Charliyan, berpandangan bahwa Mahkota Binokasih merupakan simbol persatuan sekaligus jati diri masyarakat Sunda. Pandangan tersebut disampaikan dalam kirab budaya di Kabupaten Tasikmalaya, Senin (4/5/2026) malam.

Kirab bertajuk “Napak Tilas Pajajaran” itu merupakan bagian dari rangkaian Milangkala Tatar Sunda 2026 yang digelar Pemprov Jabar.

Kegiatan ini sebelumnya telah berlangsung di Sumedang dan Kawali, Kabupaten Ciamis, sebelum dilanjutkan di Kabupaten Tasikmalaya.

Acara dihadiri langsung Gubernur Jabae Dedi Mulyadi, jajaran Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda), tokoh adat, serta masyarakat yang memadati jalur kirab.

Baca Juga:  Program TMMD Kodim 0110 Abdya, Jembatan Menuju Perkebunan Masyarakat Rampung Dikerjakan

Prosesi kirab menampilkan berbagai atraksi budaya, mulai dari tarian tradisional, iring-iringan kuda pengawal, hingga kereta kencana yang membawa Mahkota Binokasih sebagai simbol warisan Kerajaan Pajajaran.

Baca Juga:  'Apakah Benar dari Zaman Sriwijaya? Penemuan Barang Kuno Oleh Warga, Belum Ada Kajiannya'

Adapun rute kirab yang semula direncanakan berakhir di Kampung Naga, Kecamatan Salawu, dialihkan ke Pendopo Kabupaten Tasikmalaya untuk menghindari kemacetan.

Menurut Anton Charliyan, kirab budaya tidak sekadar seremoni, melainkan sarana memperkuat kebersamaan dan kebanggaan terhadap warisan leluhur.

Ia menjelaskan, Mahkota Binokasih memiliki filosofi “penuh kasih sayang” yang mencerminkan harapan agar pemimpin menjalankan pemerintahan secara bijaksana dan berorientasi pada kesejahteraan masyarakat.

Baca Juga:  Presiden Prabowo dan Gibran Ikut Baris-berbaris di Retret Menteri, Akmil Magelang

Ia menambahkan, simbol tersebut juga merepresentasikan identitas dan legitimasi masyarakat Sunda yang perlu dijaga di tengah arus modernisasi.

Baca Juga:  KPD Bersama Ikatan Keluarga Sarkub Nusantara di Kawah Tekurep Gelar Ziarah Bersama

Sementara itu, Dedi Mulyadi dalam sambutannya menekankan pentingnya menjaga amanah leluhur dalam kehidupan sehari-hari.

Gubernur yang akrab disapa KDM itu  mengingatkan agar nilai-nilai budaya tetap menjadi dasar dalam pembangunan, termasuk dalam pelayanan kepada masyarakat.

Dalam kesempatan itu, Bupati Tasikmalaya Cecep Nurul Yakin menyerahkan naskah “Amanat Galunggung” kepada Gubernur Jabar sebagai simbol estafet nilai kepemimpinan.

Baca Juga:  Abah Anton Kunjungi Brimob Srigunting Cineam, Serahkan Kujang Pusaka dan Beri Gelar Kehormatan

Naskah tersebut memuat pesan tentang pentingnya menjaga budaya, lingkungan, serta semangat kebangsaan bagi generasi penerus.

Baca Juga:  SMB IV Sebut Pentingnya Promosi Bagi Kemajuan Kesenian di Sumsel

Kirab dimulai dari kawasan Universitas Cipasung dan berakhir di Pendopo Kabupaten Tasikmalaya. Sepanjang rute, masyarakat tampak antusias menyaksikan rangkaian kegiatan budaya.

Rangkaian Kirab Budaya “Napak Tilas Pajajaran” dijadwalkan berlanjut ke sejumlah daerah di Jawa Barat, termasuk Garut, Cianjur, dan Kota Bogor.

“Kegiatan ini diharapkan menjadi sarana edukasi budaya sekaligus memperkuat jati diri masyarakat Sunda di tengah perkembangan zaman,” harap KDM. (red)

 

Komentar Anda
Loading...