Mengemas Kritik dengan Guyonan Teatrikal
Dari Keroncong Pesona Indonesia Tribute to Waljinah di Taman Ismail Marzuki
Jakarta, BP
Ada yang tersisa dari acara menarik Keroncong Pesona Indonesia Tribute to Waljinah, di Graha Bhakti Budaya Taman Ismail Marzuki (TIM), Jumat, 1 April lalu. Sepanjang pertunjukan penuh dengan sindiran, kritikan, dan smash, dari yang level “alusan” sampai kalimat-kalimat yang memerahkan telinga. Seniman Jogja Butet Kartarajasa yang mengkoordinasi pementasan itu membuat audience terpingkal-pingkal dari awal sampai akhir, sekalipun persiapan tak lebih dari dua minggu.
Musik tradisional gamelan dipadu dengan orchestra model “Sinten Remen” Djaduk Ferianto memang penuh kejutan. Bagi orang yang bukan berlatar belakang Jawa pun, bisa bergoyang dan menikmati ritme yang kadang cepat, kadang langgam, kadang keras, kadang lembut. Membentuk satu kesatuan musikalitas yang enak didengar. Beberapa plesetan dari lagu-lagu si Walang Kekek Waljinah, menghadirkan tawa spontan yang bukan hanya menghibur, tapi kadang menelanjangi penonton.
Tema “Sinden Republik” yang disutradarai Sujiwo Tejo, pemeran Nyi Sinden Sepuh itu memang sarat dengan problematika wong cilik. Dalang yang di twitter memiliki fans yang disebut “jancukers” itu digambarkan sebagai sosok penyanyi siden tua, yang sudah harus off, tetapi tetap saja harus aktif dari panggung ke panggung. Dia mengkader Soimah (Soimah Pancawati), Endah (Endah Laras), Sruti (Sruti Respati), Rita (Rita Tilla), dan Megan (Megan Colleen O’Donoghue).
Suasana panggung saat kelima orang itu melantunkan “Indonesia Pusaka” ciptaan Ismail Marzuki betul-betul mencengangkan. Seluruh audience ngakak habis, ketika Nyi Sinden mengkritik budaya Mesir yang dilantunkan di tempat ibadah dengan nada suara Arab. “Shalatuwasalamu’alaih.. “ dengan nada tinggi bergelombang, Nyi Sinden mempertanyakan, “Mengapa harus menggunakan nada suara orang Mesir, yang direkam di “lokananta”? Ini dijajah Mesir. Kenapa tidak di Jawa ala Jawa, di Sunda bahasa Sunda?” Dia pun mencontohkan nada pesinden Jawa yang tidak kalah syahdu. Tepuk tangan riuh tak berujung.
Miing (Miing Bagito) dan Butet (Butet Kartaredjasa) yang ditemani seorang putranya, Cak Lontong (Cak Lontong) dan Akbar (Akbar) juga membuat panggung jadi segar. Dalam atmosfer yang penuh guyon, kaya makna, Indonesia Kita hadir, dengan menggunakan lakon Sinden Sepuh. “Dulu Pancasila ditulis oleh Bapak Pendiri Bangsa ini di atas punggung seorang sinden,” kata Nyi Sinden.
Karena itu, Sinden Sepuh itu menugaskan cantrik-cantriknya untuk mencari sinden yang di punggungnya terdapat rajah. Rajah itu kunci yang harus dibedah, dan dimaknai kembali, agar relevan dengan kondisi sosial politik yang sedang berlangsung. Setelah dicari, rupanya Soimah, Surti, dan Cak Lontong saudara kandung.
Ibu mereka adalah Ngatijah, sinden legendaris yang selepas peristiwa politik 1965 dibawa aparat bersama pemain ketoprak, wayang orang, dan kesenian tradisi lainnya. Dia dianggap sudah bergabung dengan Lembaga Kesenian Rakyat (Lekra), yang pernah dianggap “terlarang” karena berada dicap berada di bawah organisasi terlarang. Para seniman ini dilenyapkan, tak tahu di mana kuburnya.
Sujiwo Tejo tidak menggunakan panggung Tribute to Waljinah itu sebagai pentas “Tembang Kenangan.” Sekedar mendendangkan kembali keroncong-keroncong yang pernah berjaya di era Waljinah. Dia justru mengemas dalam seni teatrikal yang dalam, didukung seniman-seniman yang kaya pengalaman dan matang. Pantas saja, show yang dihadiri Presiden Joko Widodo itu nyaris sempurna.
Mantan Gubernur DKI ini juga mengapresiasi legenda hidup Waljinah, dan memberikan kenang-kenangan khusus. “Ibu Waldjinah terima kasih atas totalitasnya mengabdi dan menjaga kebudayaan Indonesia,” ucap Presiden dalam sambutan singkatnya di pementasan yang didukung oleh Kementerian Pariwisata RI ini.
Waldjinah mengungkapkan rasa terima kasih atas dukungan yang diberikan oleh Presiden yang telah memberikan kepercayaan untuk melaksanakan festival keroncong di Solo. Dalam bahasa Jawa Kromo Inggil, Waljinah juga terharu atas pementasan ini. “Matur nuwun sanget Pak Jokowi,” ucap Waljinah yang membuat audience yang ada Menpar Arief Yahya, Mendikbud Anis Baswedan, Menseskab Pramono Anung dan KSP Teten Masduki itu ikut trenyuh.
Ada hal yang cukup esensial dari kehadiran Presiden Joko Widodo itu. Mantan Walikota Solo itu sangat respek dan hormat kepada para seniman sepuh, yang banyak berjasa buat menjaga marwah kebudayaan Indonesia. Tidak banyak orang yang ketika sudah di atas, masih mau turun ke bawah dan menengok ke belakang. Tapi rasa hormat Presiden itu ditujukkan dalam sikap, bersalaman, lama memegang tangan sang legenda, dan semuanya terjadi secara alamiah.
“Anak-anak muda sekarang tidak banyak yang tahu, siapa Waljinah itu. Tetapi saya sarankan googling dan buka youtube, tembang apa saja, langgam apa saja, jumlahnya berapa saja? Yang pernah Waljinah buat? Itu baru ngeh, bahwa beliau adalah seniman besar di zamannya. TIdak salah menyebut Waljinah sebagai legenda hidup kita,” ucap Menpar Arief Yahya di TIM.#rf