Plastik Berbayar Untungkan Bisnis Ritel
Palembang, BP
Sejak 21 Februari 2016, sudah ada kebijakan pemerintah tentang kewajiban membayar plastik dengan harga Rp200, namun nyatanya pantauan di lapangan konsumen tidak terlalu dibebankan. Mayoritas masyarakat, masih enggan membawa plastik sendiri.
Demikian terpantau di Transmart Jakabaring, Nissa (30) warga Jakabaring, mengatakan tidak keberatan dengan membeli plastik dengan harga Rp200. Dirinya menilai membawa plastik dari rumah sendiri ataukah membawa plastik kadang membuat tambah ribet.
“Masih beli, enggak bawa plastik dari rumah. Ribet sendiri kalau pun akan dibawa. Beli Rp200 nggak apa-apalah, yang penting sampai ke rumah barang belanjaan aman,” katanya, Minggu (27/3).
Senada dikatakan Sinta (26). Menurutnya berbelanja di supermarket, sudah sepadan dengan barang yang dibeli. Misalnya dalam pembelian susu formula, biasanya membutuhkan dua hingga tiga lapis plastik, jika pun harus membeli harga tersebut masih sesuai.
“Rp200 masih sesuai, kalau sudah harganya tinggi mungkin bisa bawa plastik dari rumah. Tadinya mau bawa keranjang belanja yang terbuat dari kain dari rumah, tapi kelupaan, jadi beli saja tidak apa-apa,” katanya.
Seperti diketahui, program pemerintah mewajibkan membayar plastik Rp200 dengan harapan konsumen bisa membeli barang dengan membawa plastik sendiri dari rumah, sehingga upaya ini dapat mengurangi pemakaian plastik. Hanya saja, kebijakan justru menguntungkan ritel.
Ekonom Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Enny Sri Hartati mengatakan, angka Rp200 per plastik merupakan angka yang rasional, dan tentunya akan memberikan efisiensi bagi perusahaan ritel.
Kondisi ini, pasti akan berujung pada efisiensi dari perusahaan ritel, terutama untuk pengeluaran perusahaan itu sendiri. Nah pengeluaran berkurang tentunya diharapkan akan mengurangi harga jual barang ritel sendiri, tapi itu butuh waktu.
“Kebijakan plastik berbayar mewajibkan konsumen membayar Rp200 untuk kantung plastik bila tak membawa saat berbelanja, bukanlah suatu masalah. Kebijakan plastik berbayar ini, tentunya bertujuan untuk mengubah perilaku konsumen dalam penggunaan plastik,” katanya.
Secara lingkungan memang baik, karena plastik itu ‘kan susah untuk didaur ulang. Tapi sebetulnya kita ‘kan punya sistem daur ulang tapi belum maksimal. Demi menjaga dan mengurangi tingkat kerusakan lingkungan yang lebih parah, penerapan plastik berbayar bisa dipahami dan merupakan hal yang rasional. Itu’kan bisa mengubah behavior (kebiasaan) masyarakat pada penggunaan plastik. Namun demikian, nominal Rp200 per bungkus, sepertinya belum akan memberikan efek jera bagi konsumen untuk tidak lebih membatasi penggunaan bungkus plastik.
“Mungkin untuk pertama kali tidak memberatkan tapi ‘kan kalau terus menerus lumayan, jadinya konsumen akan membawa tempat belanjaannya sendiri, seperti keranjang,” jelas dia.#ren