Daun Pandan Jadi Pengharum Toilet
Guna mewujudkan sekolah sehat, dipakailah daun pandan untuk mengharumkan toilet. Tiga hari sekali, siswa piket bertugas menggantinya dengan yang baru agar baunya tetap semerbak.

BERBAGAI usaha dilakukan guna menunjang penilaian sekolah berbasis lingkungan (Adiwiyata). Seperti yang dilakukan Madrasyah Ibtidaiyah (MI) Daarul Aitam, yang berada di Jalan Telaga Swidak, Lr Rukan IV, Kelurahan 14 Ulu, Kecamatan Seberang Ulu (SU) II, Palembang. Sejak berdiri tahun 1972, baru pada 2016 madrasah ini diusulkan Walikota Palembang untuk mengikuti seleksi sebagai sekolah Adiwiyata tingkat Kota Palembang.
Berbagai persiapan sudah dilakukan sejak 2015. Mulai dari penambahan tanaman, tim pengetahuan Adiwiyata atau sumber daya manusia (SDM) dan sarana prasarana lingkungan Adiwiyata. Serta tidak kalah pentingnya menanamkan kesadaran kepada siswa untuk mencintai lingkungan sekitar, khususnya di sekolah.
“Kami sangat terkejut menjadi bagian sekolah penilaian Adiwiyata. Kami ini sekolah swasta, jadi kami tidak terlalu memikirkan akan menjadi salah satu peserta dari penilaian Adiwiyata. Kendati tidak terpikir, kami untuk perancangan visi misi Adiwiyata sendiri sudah sejak 2014 lalu, dari mulai kebersihan sekolah dan lain-lain,” kata Kepala Sekolah Madrasyah Ibtidaiyah (MI) Daarul Aitam Evi Agustina, SAg, didampingi Ketua Tim Adiwiyata Sekolah Sy Kalsum, SPd, kepada BeritaPagi, Kamis (3/3).
Menurutnya, sekolah yang mempunyai 536 siswa ini sudah sejak lama menerapkan tanaman tanpa air di pekarangan sekolah. Jadi tanaman yang ada harus dari tanah, karena kalau memakai pot air itu akan mengakibatkan tumbuhnya jentik nyamuk.
“Jadi kalau di sekolah lain itu masih ada tanaman hidroponik dari air, maka kami mengubahnya dengan tanah, sehingga tidak menimbulkan jentik nyamuk,” jelasnya.
“Selain itu, kami tidak memakai pengharum toilet yang mengandung zat kimia, tetapi kami memakai pengharum alami dengan menggunakan daun pandan. Setiap tiga hari kami ada siswa piket khusus untuk mengganti daun pandan yang ada di toilet mereka,” ujarnya.
Sekolah yang memiliki 19 guru ini juga mengajarkan anak untuk mencintai tanaman dan hobi menanam. Lahan di belakang sekolah disulap jadi hutan sekolah. Di sini dilakukan proses pembibitan, apotik hidup, dan bank sampah. Hutan sekolah juga melibatkan guru dan siswa tentang bagaimana cara pembibitan yang semuanya menggunakan barang bekas.
“Kami ingin memberikan pelajaran kepada anak-anak tentang bercocok tanam, serta mengimplementasikan Kurikulum 2013 (K13). Anak-anak belajar bagaimana cara proses pembibitan, menanam tumbuhan sederhana, seperti tanaman lidah buaya, buah-buahan, bumbu dapur, apotik hidup, pisang, dan masih banyak tanaman lainnya,” ujarnya.
Lebih lanjut Evi menjelaskan, selain mengajarkan anak untuk bercocok tanam, pihaknya juga memiliki Bank Sampah. Di sana anak-anak biasa mengumpulkan sampah yang ada di lingkungan sekolah, seperti plastik air mineral dan bungkus makanan kecil. Nantinya barang- barang ini akan ditukarkan dengan berbagai alat tulis mulai dari pensil, pena, penghapus, dan buku.
“Ini kami lakukan agar anak-anak terbiasa untuk memungut sampah, khususnya di pekarangan sekolah. Hasilnya mereka bisa dapatkan berbagai macam alat tulis. Hasil dari Bank Sampah ini sendiri dipergunakan guru dan siswa untuk membuat berbagai kerajinan yang dipergunakan di sekolah,” bebernya.
Sementara itu, Ketua Tim Adiwiyata Sekolah Sy Kalsum, SPd, mengatakan, dengan menjadi bagian Adiwiyata ini, pihaknya akan meningkatkan penghijauan di lingkungan sekolah. Tujuannya agar enak dipandang serta nyaman buat anak-anak. Tidak lupa juga kantin sekolah yang senantiasa sehat dan bersih.
“Kami sudah didatangi oleh tim penilaian oleh para juri Adiwiyata seperti dari Badan Lingkungan Hidup (BLH) Kota Palembang, Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga (Disdikpora) Kota Palembang dan Dinas Kesehatan. Serta pihak lainnya yang menjadi tim penilaian Adiwiyata,” pungkasnya. # adi kurniawan