Miniatur Prasasti Talang Tuwo, Suvenir Sumsel Untuk Jaga Bumi
PERSOALAN lingkungan hidup sangat menonjol di Indonesia, mulai dari persoalan kebakaran dan perambahan hutan, banjir, kekeringan, habisnya keanekaragaman hayati, yang diyakini sebagai dampak dari eksplorasi sumber daya alam yang tidak ramah lingkungan. Persoalan ini ternyata juga memberikan dampak bagi Bumi, yakni mendorong terjadinya perubahan iklim.
Ironinya, salah satu wilayah yang lingkungannya mengalami kerusakan tersebut yakni Sumatera Selatan. Kerusakan ini sebagai dampak dari berbagai kebijakan pemerintah terkait eksplorasi kekayaan alam yang mengalami puncaknya sejak pemerintahan Orde Baru yang dipimpin Soeharto. Disebut ironi, lantaran Sumatera Selatan dulunya merupakan wilayah yang sangat baik penataan lingkungannya. Saat wilayah ini masuk dalam kekuasaan Kerajaan Sriwijaya. Ini berdasarkan catatan sejarah, tidak pernah disebutkan Sumatera Selatan di masa kuno mengalami bencana alam yang luar biasa, seperti banjir, kekeringan, atau juga terserang wabah penyakit yang mematikan banyak manusia dan hewan.
“Kita sebenarnya tidak perlu heran mengenai kondisi Sumatera Selatan di masa Sriwijaya, karena penataan lingkungan ini sudah diamanahkan raja Sriwijaya melalui Prasasti Talang Tuwo, sebuah prasasti penanda dari penataan lingkungan. Prasasti dibuat beberapa tahun setelah didirikan wanua yang saat ini diyakini sebagai kota Palembang,” kata Dodi Suwandi R, seniman yang membuat miniatur Prasasti Talang Tuwo, Kamis (25/2).
Miniatur Prasasti Talang Tuwo yang dikerjakan Dodi menggunakan bahan resin dan kayu dengan ukuran 14 cm x 9 cm.
Dengan pemahaman ini, seniman yang juga aktif dalam gerakan lingkungan dengan penanaman bambu ini langsung bersedia melakukan pembuatan miniatur Prasasti Talang Tuwo saat ditawarkan Tim Kerja Spirit Sriwijaya untuk Pelestarian Lingkungan. Tim Kerja Spirit Sriwijaya untuk Pelestarian Lingkungan merupakan kelompok kerja sejumlah pekerja budaya, sejarawan, dan aktivis lingkungan hidup berdasarkan nilai-nilai keluhuran Sriwijaya, seperti Dr. Najib Asmani, Nurhadi Rangkuti, Taufik Wijaya, Dr. Yenrizal dan Dian Maulina.
“Saya percaya dengan membuat miniatur ini, yang kemudian dibagikan kepada para penyelenggara negara, pimpinan perusahaan, pendidik, dan tokoh masyarakat, baik di Indonesia maupun international, amanah menjaga lingkungan hidup yang tercermin dalam prasasti tersebut akan membangun kesadaran kita bersama untuk menjaga Bumi,” kata Dodi.
Jaga alam untuk kemakmuran
Budayawan Nurhadi Rangkuti mengatakan, spirit dari penjagaan lingkungan hidup dari Prasasti Talang Tuwo yakni kemakmuran. “Kemakmuran! Itulah kata pembuka isi Prasasti Talang Tuwo yang diterbitkan oleh raja Sriwijaya, Dapunta Hyang Sri Jayanasa pada 23 Maret 684 Masehi. Sebelumnya kata yang sama tersebut pula pada Prasasti Kedukan Bukit bertarikh 16 Juni 682 Masehi ketika sang raja mengadakan perjalanan suci dari Minanga Tamwan dan sampai di ibukota kerajaan beliau meletakan batu pertama pembangunan permukiman (vanua) baru. Kemakmuran menjadi kata kunci bagi raja Sriwijaya pada masa itu. Kemakmuran tidak sekadar kata atau janji, melainkan suatu tindakan nyata yang dilakukan raja untuk membahagiakan semua makhluk yang hidup di muka bumi,.”
Artinya, guna mencapai kemakmuran tersebut, manusia harus memperlakukan alam atau lingkungan secara baik. “Prasasti ini memuat peristiwa pembangunan Taman Sriksetra atas perintah raja. Di taman itu ditanam berbagai tumbuhan seperti pohon kelapa, pinang, aren, sagu, bambu haur, wuluh dan sebagainya. Taman Sriksetra menjadi acuan untuk pengembangan taman-taman atau kebun-kebun lainnya yang dilengkapi dengan bendungan-bendungan dan kolam-kolam,” kata Nurhadi
Pada masa itu taman, kebun, bendungan dan kolam tersebar di berbagai tempat. Semua itu untuk kebahagian semua manusia, tumbuhan dan hewan. Raja menginginkan semua kebun dengan berbagai tumbuhan hidup subur dan berlebih panennya, demikian pula ternak-ternak yang dipelihara penduduk terus bertambah.Raja mempunyai komitmen tidak ada lagi orang yang lapar, tidak ada lagi pencuri, pembunuh atau pezinah.
Amanat Dapunta Hyang Sri Jayanasa melalui Prasasti Talang Tuo sangat jelas, “Kelola lingkungan untuk kemakmuran semua mahluk. Andai amanat itu dilaksanakan di zaman ini, alangkah bahagianya semua mahluk yang hidup di bumi Sriwijaya sekarang,” kata Nurhadi.
Dr. Najib Asmani, menilai bangsa Indonesia, umumnya bangsa di Asia Tenggara, harus bangga telah memiliki amanah dari pemimpin Sriwijaya tersebut. “Prasasti Talang Tuwo jelas amanah bagi kita. Jika kita ingin selamat di dunia maupun akhirat, jagalah lingkungan, jagalah Bumi.”
Prasasti ini, kata Najib, sangat luar biasa. “Ketika hutan masih bagus, sungai masih banyak, hewan masih banyak dan beragam, bukan perintah mengeksplorasi yang dilakukan raja Sriwijaya tapi menatanya. Mereka jelas telah memikirkan kehidupan kita pada saat ini.”
Terkait dengan penyebaran miniatur Prasasti Talang Tuwo dikatakan Najib, Gubernur Sumatera Selatan Alex Noerdin sangat mendukung. Bahkan dia telah menuliskan pesan di tapak miniatur tersebut yang isinya, “Semoga nilai-nilai luhur Sriwijaya ini menjadi pendorong semangat kita menjaga masa depan Bumi”.
“Souvenir miniatur Prasasti Talang Tuwo ini akan dibagikan dalam berbagai event di Palembang maupun event di luar Palembang yang melibatkan pemerintah Sumatera Selatan,” kata Najib. #