Prasasti Kedukan Bukit, Akte Kelahiran Kerajaan Sriwijaya
# Satu-satunya di Indonesia, Bahkan Dunia

Palembang, BP
Orang lahir ke dunia ini punya Akte Kelahiran, atau minimal Surat Kenal Lahir. Sebuah kota pada umumnya “lahir” dimulai dari sebuah pemukiman sederhana yang terdiri dari beberapa rumah tinggal lama kelamaan berkembang menjadi sebuah kota, tanpa Akte Kelahiran. Jarang dan bahkan nyaris tidak ada sebuah kota mengalami perjalanan sejarah terbentuknya dicatat dalam sebuah catatan. Apalagi dalam bentuk sebuah prasasti. Śrīwijaya boleh jadi merupakan satu-satunya kota di Indonesia bahkan dunia yang kelahirannya tercatat dalam sebuah prasasti, yaitu Prasasti Kedukan Bukit.
“Kota awal Sriwijaya di Palembang yang dibangun tanggal 16 Juni 682 masehi, satu-satunya kota di Indonesia dan mungkin didunia yang mempunyai akte kelahiran, yaitu Prasasti Kedukan Bukit,” kata Arkeolog Nasional Bambang Budi Utomo, Selasa (22/8).
Prasasti Kedukan Bukit menurutnya merupakan prasasti tertua yang berangka tahun yang ditemukan di Indonesia. Bahkan dalam prasasti ini terdapat tiga pertang¬galan dalam satu angka tahun 682 Masehi. Pertanggalan tersebut merupakan pertanggalan perjalanan sejarah terbentuknya Śrīwijaya. Prasasti ini dikenal juga dengan nama Prasasti Śrīwijaya I, dan sekarang disimpan di Museum Nasional, Jakarta, dengan nomor D.146.
Sedangkan isi dari transkripsi dan terjemahan Prasasti Kedukan Bukit setelah diinterpre¬ta¬sikan kembali —terutama pada unsur pertanggalan baris ke-8— oleh de Casparis (1956: 11-15) dan Boechari (1992: A1-4).
1.swasti śrī śakawarṣātīta 604 ekādaśī śu-
2.klapakṣa wulan waiśākha ḍapunta hiyaṃ nāyik di
3.sāmwau maṅalap siddhayātra di saptamī śukla¬pakṣa
4.wulan jyeṣṭha ḍapunta hiyaṃ marlapas dari mi¬nāṅa
5.tāmwan mamāwa yaṃ wala dua lakṣa daṅan kośa
6.dua ratus cāra di samwau daṅan jālan sariwu
7.tlu rātus sapulu dua wañakña dātaṃ di mata yap
8.sukhacitta di pañcamī śuklapakṣa wulan …
9.langhu mudita dātaṃ marwuat wanua …
10.śrīwijaya jaya siddhayātra subhikṣa …
yang artinya:
1.Selamat! Tahun Śaka telah lewat 604, pada hari kesebelas
2.paro-terang bulan Waiśākha Dapunta Hiyaŋ naik di
3.perahu “mengambil siddhayātra”. Pada hari ketujuh paro-terang
4.bulan Jyestha Dapunta Hiyaŋ bertolak dari Mināńa
5.sambil membawa dua laksa tentara dengan perbekalan
6.sebanyak dua ratus (peti) berjalan dengan perahu dan yang berjalan kaki sebanyak seribu
7.tiga ratus dua belas datang di Mukha –p-
8.dengan sukacita. Pada hari ke lima paro-terang bulan Āsādha
9.dengan cepat dan penuh kegembiraan datang membuat wanua
10.Śrīwijaya. menang, perjalanan berhasil dan menjadi makmur senantiasa.
“Demikian isi Prasasti Kedukan Bukit seperti yang dibaca oleh Boechari (1986: 4-18; 1989),” katanya.
Berdasarkan isi prasasti itu, diperoleh dua nama tempat, yaitu Mināṅa dan Mukha –-p-, dan sebuah tempat yang kemudian menjadi pusat Kadā¬tuan Śrīwijaya. Sejak dikenalnya Śrīwijaya sebagai nama sebuah kerajaan oleh Cœdès pada tahun 1918, banyak pakar sejarah dan arkeologi yang berusaha men¬cari lokasi nama-nama yang disebutkan di dalam prasasti itu.
Itulah Kota Śrīwijaya yang dibangun dimulai dari sebuah perkampungan kecil yang kemudian menjadi sebuah kota dengan segala kelengkapannya. Dua tahun setelah membangun perkampungan Dapunta Hyaŋ, tepatnya pada tanggal 23 Maret 684 Masehi kemudian membangun Taman Śrīksetra sebagai sebuah taman kerajaan. Karena letaknya yang strategis di persimpangan jalan sungai, kota ini terus berkembang dan akhirnya menjadi Palembang .
Mengenai Pemkot Palembang yang menetapkan hari kelahiran kota Palembang tanggal 17 Juni dan bukan 16 Juni berdasarkan prasasti Kedukan Bukit, menurut Bambang kalau 17 Juni itu hasil kesepakatan orang-orang Palembang dulu.
“Sebetulnya itu tidak keliru, mereka udah tahu tanggal 16 Juni tapi mau menyamakan dengan 17 Agustus , dulu yang menetapkan dari Palembang dari DPRD,” katanya.#osk