Kemenpar Terus Geber Perbatasan

12

Jakarta, BP

Menyentuh kawasan perbatasan dengan pariwisata, itu adalah cara yang paling smart untuk menghidupkan ekonomi di borderland. Kemenpar terus menggelar event, seperti  festival, kesenian, musik, dan lainnya agar ekosistem ekonominya mulai terbentuk. “Selain economic value, yang mengadirkan lebih banyak wiatawan mancanegara, juga punya nilai social value,” jelas Menpar Arief Yahya.
Yang dimaksud social value itu, kata Menpar Arief Yahya adalah, memberikan perhatian yang lebih baik kepada warga Indonesia yang kebetulan lahir, besar dan hidup di daerah perbatasan. Harus diakui, negeri indah yang terbentang dari Sabang sampai Merauke itu sangat luas dan semua membutuhkan perhatian. Kenyataanya, dalam membangun harus ada prioritas-prioritas. Dan mereka yang berada di perbatasan lebih sering menjadi korban “kurang perhatian.” Itu.
“Karena itu, kami hadir di kawasan perbatasanm,” ungkap Arief Yahya. Deputi Bidang Kelembagaan Kementerian Pariwisata Ahman Sya pun mulai menindaklanjuti kerjasama Brunei Darussalam-Indonesia-Malaysia-Philippina East ASEAN Growth Area (BIMP-EAGA) dengan menggelar pertemuan di Davao, Philippina, sejak 23-26 Februari 2016.
”Ada 8 cluster kami bahas rutin, dan kami tindaklanjuti sesuai arahan dari para menteri negara-negara tersebut,”ujar Deputi Bidang Kelembagaan Kementerian Pariwisata, Ahman Sya. Delapan cluster itu terkait dengan agriculture, transport, trade and investment, power infrastructur, ICT, tourism, environment, socio cultural and education.
Seperti diketahui, kerja sama BIMP-EAGA ini dibentuk secara resmi pada pertemuan tiga menteri di tahun 1994. Tujuannya untuk meningkatkan kesejahteraan, pariwisata, dan perekonomian di bawah daerah perbatasan BIMP-EAGA.
Daerah perbatasan yang terlibat di Indonesia adalah Kalimantan Barat, Kalimantan Timur, Kalimantan Selatan, Kalimantan Utara, Kalimantan Tengah, Sulawesi Barat, Sulawesi Utara, Sulawesi, Sulawesi Tenggara, Sulawesi Selatan, Sulawesi Barat, Gorontalo, Maluku, Maluku Utara, Papua, dan Papua Barat.
”Pertemuan ini adalah strategic planning meeting, kami berharap dipertemuan ini akan menghasilkan deliverables prioritas. Kemenpar akan menggelar pertemuan khusus juga untuk membicarakan proyek prioritas dengan negara-negara tetangga tersebut ,” jelas pria yang meraih S2 di Belgia itu.
Pria asal Ciamis Jawa Barat itu juga menambahkan, bahwa Pariwisata juga hal yang sangat penting dinilai oleh BIMP-EAGA. Pasalnya, konsentrasi semua pihak di kerjasama ini adalah pengembangan community based ecotourism. ”Ini adalah implementasi dari kerjasama SUB regional ASEAN. Kami konsisten membuat promotional, booklet, dan signature events leaflet. Dan kami juga aktif melakukan kerjasama promosi bersama melalui website www.equator-asia.com,” beber pria yang juga pernah menjadi Dosen di Jakarta.#duk

Komentar Anda
Loading...