Nikmati Waktu Singkat Menyaksikan GMT

32

Gerhana Matahari Total (GMT), yang akan terjadi pada 9 Maret mendatang, akan memberikan pesona tersendiri sebagai fenomena alam yang langka. Maka sangat sayang jika dilewatkan durasi nikmat gelap pekat 1 menit 50 detik plus minus 2 menit.

Simulasi Gerhana Total2PENELITI dari Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN) Pusat Sain dan Teknologi Atmosfir Saipul Hamdi menjelaskan bahwa, GMT merupakan fenomena alam saat posisi matahari, bulan, dan bumi berada pada satu garis lurus. Efeknya, sebagian permukaan bumi akan terkena bayangan gelap bulan.

Perbedaannya dengan gerhana bulan, ini terjadi saat sebagian atau keseluruhan penampang bulan tertutup oleh bayangan bumi. Itu terjadi bila bumi berada di antara matahari dan bulan pada satu garis lurus yang sama, sehingga sinar Matahari tidak dapat mencapai bulan karena terhalang oleh bumi.

Sementara Meteorid adalah benda-benda yang berukuran lebih kecil dari asteroid tapi lebih besar daripada molekul. Ketika meteoroid ini memasuki atmosfer bumi, ia akan terbakar dan menguap. Meteorid adalah asteroid yang masuk ke atmosfer tapi tidak sampai ke bumi karena habis terbakar di atmosfer. Meteoroid yang berhasil lolos dari atmosfer akan melanjutkan perjalanannya menuju permukaan bumi. Inilah yang dinamakan meteor.

Dikatakannya, berdasarkan hitungan para akronomi dunia, durasi ketika proses terjadinya GMT sekitar dua jam, dimulai pukul 06.20 saat proses bulan memasuki matahari, kemudian pukul 07.20 terjadinya gerhana total, setelah itu satu jam kemudian proses matahari kembali normal.

Baca Juga:  Kwarda Sumsel Gelar Latihan Gabungan se-Sumatera

“Gerhana pada posisi total berdurasi 1 menit 50 detik plus minus 2 menit. Pada saat itu kegelapan bumi seperti sesaat matahari terbenam atau sesaat matahari akan terbit. Tidak benar-benar gelap,” jelasnya.

Dikatakannya, GMT dapat dilihat di mana pun. Baik itu di halaman rumah, balkon rumah, tidak mesti pada ketinggian namun dapat posisi yang tepat mengarah pada matahari terbit tidak terhalang oleh gedung atau pepohonan.

“Ada beberapa titik tempat yang bisa melihat GMT yakni 100 Km dari pusat GMT atau Ampera, kenapa Ampera, karena merupakan salah satu ikon Palembang,” ujarnya.

Gerhana matahari yang terjadi di Indonesia pada Maret mendatang adalah gerhana matahari total, yakni gerhana matahari yang 100% tertutup oleh bulan. Sehingga sangat aman untuk dilihat langsung oleh mata. Namun periode ini terjadi dengan sangat singkat dan memang jarang terjadi.

Kendati demikian, gerhana matahari total memiliki fase, yakni fase gerhana matahari cincin, sabit, dan gerhana matahari sebagian. Pada fase-fase tersebut, sangat tidak disarankan untuk melihat langsung matahari tanpa menggunakan alat khusus dalam rentang waktu yang lama.

“Saat gerhana benar-benar total itu tidak berbahaya, tetapi durasinya singkat hanya 1 menit 50 detik plus minus 2 menit tergantung wilayahnya, tetapi harus hati-hati jangan menatap langsung pada matahari sebelum dan sesudah posisi gerhana totalnya, terutama pada saat posisi sesudah gerhana total itu akan ada satu titik cahaya terang seperti cincin, itu jangan dilihat langsung harus pakai kacamata,” terangnya.

Baca Juga:  Kampung Al Munawar Terus Berbenah Hadapi GMT

Meskipun hari itu sedang ada GMT, masyarakat jangan khawatir. Karena bisa melakukan aktivitas seperti biasanya, dan tidak berbahaya. “Karena tidak berfokus untuk melihat ke arah matahari yang dalam keadaan gerhana. Misalkan pergi ke pasar, ke kampus, apa pun itu aktivitas lainnya,” ungkapnya.

Untuk memprediksi keberulangannya secara global, kata dia, gerhana dikelompokkan ke dalam suatu kelompok yang disebut siklus saros tertentu. Gerhana-gerhana pada siklus saros tertentu akan berulang hampir setiap 18 tahun 11 hari.

Sebagai contoh, gerhana matahari total 9 Maret 2016 nanti adalah anggota ke-52 dari 73 anggota pada siklus saros ke-130. Gerhana sebelumnya yang berasosiasi dengan GMT 9 Maret 2016 ini adalah GMT pada 26 Februari 1998 yang kala itu melintasi belahan bumi bagian barat dari Pasifik sampai pantai Atlantik Afrika. Adapun gerhana sesudahnya yang berasosiasi dengan GMT 9 Maret 2016 tersebut adalah GMT yang terjadi pada 20 Maret 2034.

“Jadi sangat disayangkan jika tidak menyaksikan GMT yang durasinya cukup singkat dan terjadi dalam kejadian yang sama dengan tahun ini sekitar 130 tahun lagi,” ujarnya.

Ia menegaskan, GMT tidak berkaitan dengan mitos-mitor dan ini merupakan fenomena alam. Bahkan banyak orang berburu untuk melihat GMT. “Dalam satu tahun, GMT bisa terjadi 12 kali, tapi di berbagai tempat yang tempatnya tidak terjangkau, mungkin di Samudra Pasifik,” tukasnya.

Baca Juga:  Saat GMT, Ampera Ditutup 12 Jam

Senada itu, pengamat budaya dari Universitas Indo Global Mandiri (UIGM) Palembang Erwan Suryanegara mengatakan, mitos-mitos tentang gerhana matahari telah tercipta sejak bertahun-tahun lamanya. Tidak semua orang mempercayai adanya mitos gerhana matahari dan ada juga yang masih percaya. Seperti penculikan matahari juga serigala dan naga yang menelan matahari.

Dijelaskannya, masyarakat perkotaan dan masyarakat yang telah mengedepankan logika, tidak terlalu lagi percaya dengan mitos-mitos itu. Bahkan termasuk di Sumsel, untuk kaitannya dengan mitos gerhana matahari tidak ada karena masyarakat Sumsel dominan percaya pada leluhur tidak dengan pemujaan kepada matahari. Kepercayaan itu biasanya berasal dari Tiongkok juga Vietnam.

Kepercayaan terhadap mitos yang dilakukan oleh orang Sumsel puluhan tahun lalu sempat ada. Mereka mempercayai saat gerhana, tidak boleh keluar rumah begitu juga wanita hamil. Namun hal itu juga tidak sepenuhnya diartikan secara harfiah saja, tetapi ada nilai filosofinya.

“Bukan benar-benar sembunyi karena adanya GMT takut ada hal buruk terjadi, tetapi lebih pada beribadah, sembahyang gerhana matahari terutama oleh muslim. Dalam arti bersyukur agar hidup lebih harmonis dengan alam,” katanya.

Kepercayaan masyarakat itu saat ini sudah saat jarang sekali terjadi dan bahkan tak terlihat. “Karena masyarakat saat ini sudah lebih aware dan melek dengan media dan ilmu pengetahuan, bahkan banyak yang mencari tahu dan ingin menyaksikan,” katanya. #Opit

 

Komentar Anda
Loading...