Hasil Tangkapan Ikan Nelayan Meningkat Hingga 80%

15

tangkapan-nelayan-antaraJakarta, BP

Menko Maritim dan Sumber Daya Rizal Ramli menyatakan, sekitar 16 juta rakyat bekerja sebagai nelayan yang taraf ekonominya belum beranjak dari kemiskinan. Meski hasil tangkapan ikan nelayan meningkat hingga 80%, namun  penghasilan nelayan tidak meningkat signifikan  karena harga ikan cukup murah.

“Setelah Menteri Kelautan dan Perikanan dipegang ibu Susi, banyak kapal nelayan asing dtenggelamkan karena mencuri ikan di perairan laut Indonesia. Dampak dari ketegasan Menteri Susi, hasil tangkapan nelayan di wilayah Sibolga, Sumatera Utara meningkat tajam. Sayangnya, rakyat Indonesia belum begitu terbiasa mengkomsi ikan laut sehingga harga ikan belum menggembirakan nelayan,” ujar Rizal di sela-sela peresmian website kementerian beralamat www.maritim,co,id di Kantor Menko Maritim,  Jakarta, Kamis (18/2).

Baca Juga:  SMB IV Ajak Masyarakat Palembang Lestarikan dan Jaga Rumah Limas Cek Mas

Menurut Rizal, untuk meningkatkan perekonomian nelayan, pihaknya berencana membangun pabrik untuk mengolah ikan  serta  industri pendingin ikan di sejumlah daerah. Ini dimaksudkan agar ikan bisa disimpan berbulan-bulan dan tidak ada yang terbuang dari ikan bila diekspor. “Selama ini kita lihat kepala ikan dan ekor ikan dibuang begitu saja. Padahal, kepala dan ekor masih bisa diolah bila kita memiliki pabrik pengolahan,” katanya.

Baca Juga:  Menag Analogikan Azan Dengan  Gonggongan Anjing, SMB IV  Minta Menag Segera Minta  Maaf

Selain mengembangkan di sektor perikanan, sektor pariwisata juga menjadi perhatian khusus pihak Kemenko Maritim dan Sumber Daya. Menko Maritim akan mengubah penggunaan anggaran di sektor pariwisata dari banyak daerah ke daerah tertentu. “Selama ini aggaran untuk sektor pariwisata dibagikan ke ratusan daerah. Tentu saja tidak kelihatan hasilnya hingga puluhan tahun.Sekarang pola itu kita ubah ari ratusan ke sejumlah daerah saja yang dianggap potensial d bidang pariwisata. Asal  tau saja, sektor wisata banyak menyerap  tenaga kerja dan mendapat devisa lumayan banyak,” tegas Rizal.

Baca Juga:  Sultan Palembang Ungkap Jejak Kejayaan Rempah Nusantara di Palembang : Dari Sriwijaya Hingga Kesultanan Palembang Darussalam

Deputi I Menko Maritim Arif Havas Oegroseno menambahkan, sala satu program yang telah dicapai adalah kesepakatan antara Indonesia dan Malaysia untuk membentuk Dewan Negara Produsen Kelapa Sawit  (CPOPC). Tujuan pembentukan dewa tersebut untuk untuk menjaga  stabilitas harga miya kelapa sawit dan membangun industri hilir dari komoditas tersebut. #duk

Komentar Anda
Loading...