Banyak Titik Rawan Aksi Kejahatan di SU I
SEBERANG Ulu I mempunyai banyak titik rawan aksi kejahatan seperti begal, perampokan, penodongan, jambret dan lain-lain yang sering terjadi belakangan ini, padahal kawasan tersebut sangat dekat dengan Mapolresta Palembang.
Terlebih kondisi di sana umumnya sepi serta berada di perbatasan wilayah sehingga banyak akses untuk melarikan diri. Kawasan yang sedang berkembang dengan banyak perumahan dengan keadaan sepi ini yang menjadi sasaran empuk penjahat.
Demikian tanggapan, Kriminolog Dr Sri Sulastri, MH, MHum terkait maraknya aksi kejahatan di Jakabaring Palembang. Dengan situasi kriminalitas yang cukup tinggi ini, seharusnya aparat kepolisian merasa risih.
“Wajar di sana menjadi sasaran penjahat, karena mulai jam 21.00 ke atas pasti mulai sepi, namun masyarakat malah berpasangan atau yang pacaran untuk berduan di sana. Inilah yang membuat kesempatan penjahat,” ujar Sri.
Untuk itu, menurut Sri, penegak hukum yang bertugas dekat dengan kawasan tersebut agar lebih waspada. Mungkin juga meningkatkan patroli di sepanjang jalan-jalan yang kondisinya terlihat sepi.
“Memang jumlah polisi memang terbatas untuk meng-cover seluruh kawasan di sana. Namun, itu bukan menjadi alasan bagi penegak hukum,” tegas Sri.
Maraknya aksi kejahatan ini, ditambahkan Sri, bukan karena perekonomian yang saat ini sedang memprihatinkan dengan keperluan biaya hidup yang sangat tinggi, namun terjadi karena adanya kesempatan bagi penjahat.
“Memang diperlukan tindakan yang tegas baik dari pemerintah setempat maupun aparat penegak hukum, karena jika dibiarkan kedepannya akan lebih parah lagi. Bagi masyarakat perlu lebih hati-hati, hindari jalan yang sepi terlebih jika lewat Jakabaring pada malam hari,” kata Sri.
Sementara itu, pengamat hukum Harma Hellen, SH, MH mengatakan, sulit menurunkan tingkat kriminalitas di Kota Palembang.
“Sulit untuk menurunkan angka kriminalitas di Palembang ini, karena perekonomian kita saja belum sejahtera, sehingga tindak kriminalitas tidak akan hilang,” katanya, Kamis (14/1).
Selain itu, menurut Harma, kebanyakan pelaku kejahatan berasal dari masyarakat yang kurang mampu, di mana yang menjadi faktor utamanya adalah bertambahnya tingkat pengangguran karena kurangnya lapangan perkerjaan.
“Mereka yang memilih untuk terlibat aksi kejahatan kebanyakan karena mengharapkan uang Rp50.000 sampai Rp100 ribu untuk memenuhi kebutuhan sehari-harinya. Sehingga semakin banyak orang-orang yang mengambil jalan cepat untuk mendapatkan suatu uang dengan cara melakukan tindakan kriminal,” jelas Harma.
Disinggung mengenai hukuman yang diberikan kepada pelaku kejahatan tidak pernah membuat jera, misal terancam 5 tahun penjara namun dipenjara selama 6 bulan atau 8 bulan, menurut Harma, hukuman itu diberikan setelah dilihat dari tindakan kejahatan pelaku oleh pemeriksa di kejaksaan.
“Selama ini rata-rata mencuri, jambret mereka butuh uang dengan cepat. Apalagi narkoba, kebanyakan hanya kurir saja yang tertangkap, sedangkan bandar pelaku utamanya tidak pernah tersentuh polisi, seharusnya bisa disentuh jika memang dilakukan,” ujar Harma.
Untuk itu, ditambahkan Harma, jika ingin menurunkan angka kriminalitas juga tidak dapat dilakukan dari satu sisi, melainkan dari berbagai faktor seperti pendidikan, ekonomi, agama dan itu semua harus terkait.
“Jadi memang harus dilakukan dari berbagai bidang, seperti ulama, penegak hukum, masyarakat, keluarga, pendidikannya agar mereka tidak begitu cepat memilih jalan pintas dengan cara yang salah. Berikan juga pembinaan agama dilingkungan tempat tinggal,” tutur Harma. #rio