
Palembang,BP- Revitalisasi Makam Adipati Palembang Ario Damar atau Ario Dillah, putra Raja Majapahit Brawijaya V, yang berada di kawasan 20 Ilir, Kecamatan Ilir Timur I, Palembang, menuai sorotan keras.
Sejumlah sejarawan, budayawan, dan Tim 11 Percepatan Pemajuan Kebudayaan Palembang menilai hasil revitalisasi jauh dari standar dan terkesan asal jadi.
Kritik tersebut mencuat setelah Tim 11 Percepatan Pemajuan Kebudayaan Palembang melakukan peninjauan langsung ke lokasi makam pada Sabtu (17/1/2026) sore. Mereka mendapati berbagai kerusakan meski revitalisasi baru saja dilakukan dan belum diserahterimakan ke Pemerintah Kota Palembang.
Akhirnya Walikota Palembang Drs Ratu Dewa Msi melakukan sidak Makam Adipati Palembang Aryo Damar atau Aryo Dillah, putra Raja Majapahit Brawijaya V, yang berada di kawasan 20 Ilir, Kecamatan Ilir Timur I, Palembang dengan didampingi Kepala Dinas Kebudayaan kota Palembang Sulaiman Amin dan jajaran, Rabu (21/1/2026).
Juga hadir diantaranya Ketua Ketua Tim 11 Percepatan Pemajuan Kebudayaan Palembang, Hidayatul Fikri atau Mang Dayat, Wakil Ketua Tim 11 Percepatan Pemajuan Kebudayaan Palembang, Vebri Al Lintani, anggota Tim 11 Percepatan Pemajuan Kebudayaan Palembang, Raden Genta Laksana, Konten Kreator Palembang Susan Oktarina, Kiki Kirana.
Dalam sidak tersebut, Ratu Dewa marah dan kesal lantaran revitalisasi yang dilakukan dalam makam tersebut asal jadi , sesekali Ratu Dewa menggeleng-menggeleng kepala melihat bagian-bagian revitalisasi yang asal jadi tersebut.
“ Banyak hal yang tidak sesuai dengan speknya, makanya aku minta dengan pak Kadin (Kepala Dinas Kebudayaan Palembang Sulaiman Amin, jangan diterima dulu dengan pihak pengembangan, pihak ketiganya, “kata Ratu Dewa dengan nada tinggi
Untuk itu menurut Dewa, revitalisasi makam ini harus diperbaiki dahulu sesuai dengan speknya , karena revitalisasi makam ini menurutnya tidak sesuai dengan speknya.
“ Jadi sejengkal saja duit rakyat harus dipertanggungjawabkan , aku dak galak model mak ini, kasihan dengan pak Kadinnya sudah siang malam ngontrol begawe disini dan modelnyo mak ini ,”katanya.
Dewa mengakui , kemarin ada beberapa makam bersejarah di Palembang rencananya ingin Pemkot Palembang di revitalisasi, di perbagus.
“ Itu bae tempat makam Ario Damar bae tidak di sentuh sama sekali, kita ingin tempat ini menjadi tempat orang berziarah disini, juga disana dibagusin, kalau ini kasat mato sangat tidak pas dengan anggaran yang kito siapkan kemarin, kenyataannya begini, kita minta pak Kadin Kebudayaan jangan diterimo dulu, kito jingok pertanggungjawaban dari pihak ketigo ini,”katanya.
Sedangkan Ketua Tim 11 Percepatan Pemajuan Kebudayaan Palembang, Hidayatul Fikri atau Mang Dayat, mengatakan pihaknya tidak puas dengan hasil pembangunan tersebut. Padahal, Tim 11 sebelumnya terlibat dalam penyusunan Detail Engineering Design (DED) bersama seniman, budayawan, dan sejarawan.
“Kalau melihat langsung di lapangan, banyak pekerjaan yang tidak sesuai dengan DED yang sudah kita susun. Hasilnya jauh dari harapan,” ujar Mang Dayat.
Ia menyoroti masih adanya genangan air di area makam, kesalahan penulisan huruf Arab Melayu, ornamen yang rusak dan hanya ditempel, hingga kualitas kayu atap pendopo yang dinilai rendah dan banyak bocor. Kondisi ini diperparah dengan empat tiang penyangga pendopo yang hanya ditempel, tanpa plafon, serta lisplang yang tidak dicat.
“Revitalisasi ini justru terkesan memisahkan antara makam dan pendopo. Lampu tenaga surya di area makam juga tidak berfungsi optimal, listrik belum hidup, dan pengerjaan terlihat terburu-buru serta kotor,” katanya.
Mang Dayat menegaskan ironisnya, keberadaan bangunan baru tersebut justru tidak dibarengi dengan perbaikan utama pada makam Aryo Damar itu sendiri.
Hal senada dikemukakan Wakil Ketua Tim 11 Percepatan Pemajuan Kebudayaan Palembang, Vebri Al Lintani, juga menyampaikan kekecewaannya. Ia menilai revitalisasi dilakukan tanpa standar teknis yang memadai.
“Ini terlihat dikerjakan tidak profesional. Paku masih menempel, pengerjaan tidak rapi, dan banyak ornamen asal pasang. Jelas tidak sesuai DED,” tegas Vebri.
Vebri yang juga Ketua Aliansi Masyarakat Penyelamat Cagar Budaya (AMPCB) menduga adanya ketidaksesuaian antara anggaran dan hasil pekerjaan. Ia menyebut pihaknya akan mendorong audit keuangan proyek tersebut.
“Kami curiga ada permainan. Karena itu kami akan melaporkan ke Kejati Sumsel agar diusut tuntas,” katanya.#udi