Wakil Ketua DPRD PALI Sampaikan Belasungkawa  Usai Banjir Bandang di Aceh, Sumut, dan Sumbar

12
Firdaus Hasbullah (BP/ist)

Palembang,BP- Wakil Ketua DPRD Kabupaten Penukal Abab Lematang Ilir (PALI), Firdaus Hasbulah SH MH, menyampaikan belasungkawa atas banyaknya korban akibat bencana banjir bandang dan tanah longsor yang melanda Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat dalam beberapa hari terakhir.

Firdaus menilai, bencana tersebut tidak lepas dari dugaan kerusakan ekosistem dan penggundulan hutan yang semakin meningkat. Kondisi itu, katanya, berperan besar dalam memperparah risiko banjir bandang karena hilangnya fungsi resapan air.

Baca Juga:  Datangi Polda Sumsel, Kuasa Hukum dr Richard Lee Akan Propamkan Oknum Polisi

“Pohon dan vegetasi hutan berfungsi seperti spons alami yang menyerap dan menyimpan air hujan. Akar pohon menciptakan pori-pori dalam tanah yang memungkinkan air meresap lebih dalam,” ujarnya, Sabtu (29/11).

Ia menjelaskan, ketika hutan digunduli, fungsi penting tersebut hilang. Tanah menjadi padat sehingga air tidak lagi dapat meresap secara optimal.

“Saya turut berbelasungkawa atas wafatnya saudara-saudara kita yang tertimpa musibah di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat. Semoga bencana ini menjadi pelajaran bagi kita semua, bahwa pelestarian alam sangat penting bagi keberlangsungan hidup,” tambahnya.

Baca Juga:  Belanda Jalankan Kartel Narkoba Selama Berabad-Abad (Dan Membayar Untuk Perangnya)

Firdaus juga mengajak masyarakat PALI, Pemerintah Kabupaten PALI, serta Pemerintah Provinsi Sumatera Selatan untuk bersama-sama menjaga kelestarian alam. Ia mendorong gerakan penanaman pohon secara berkelanjutan agar ekosistem hutan tetap terjaga.

“Akar pohon berfungsi mengikat tanah dan mencegah erosi. Jika hutan gundul, lapisan tanah atas yang kaya nutrisi akan mudah terbawa arus,” jelasnya.

Baca Juga:   Pemprov DKI Jakarta Gelar  Jakarta Travel Fair 2023 di Gelar di Palembang, Kejar Target 30 Jutaan Wisatawan Nusantara

Menurutnya, kerusakan ekosistem mengubah cara kerja siklus air secara alami. Lanskap yang seharusnya mampu menyerap dan mengelola air hujan berubah menjadi jalur cepat aliran air, yang pada akhirnya memicu banjir bandang destruktif.

“Karena itu, menjaga hutan berarti menjaga keselamatan kita bersama,” tegasnya.#udi

Komentar Anda
Loading...