“Sambeyang Rame”, BPK Wilayah VI dan Unsri Gelar Pameran Arsitektur Tradisional Sumsel di OPI Mall Palembang

56
Kepala BPK Wilayah VI, Kristanto Januardi, S.S., M.M didampingi Dosen Arsitektur Unsri Dr Iwan Murawan Ibnu ST MT (BP/udi)

Palembang,BP- Balai Pelestarian Kebudayaan (BPK) Wilayah VI Sumatra Selatan bekerja sama dengan Universitas Sriwijaya (Unsri) akan menggelar pameran warisan budaya bertajuk “Sambeyang Rame” pada 7–9 November 2025 di Atrium OPI Mall, Palembang.

Pameran ini akan menampilkan kekayaan arsitektur tradisional dari berbagai daerah di Sumatra Selatan, lengkap dengan miniatur bangunan, pertunjukan seni, dan ruang dialog kebudayaan.

Istilah “Sambeyang Rame” bermakna gotong-royong atau saling bahu-membahu. Melalui tema ini, BPK Wilayah VI dan Unsri ingin menyampaikan pesan penting bahwa pelestarian warisan budaya membutuhkan kerja sama dari seluruh lapisan masyarakat, khususnya generasi muda.

Kepala BPK Wilayah VI, Kristanto Januardi, S.S., M.M., mengatakan bahwa pameran ini merupakan bagian dari upaya pelindungan dan pemajuan kebudayaan sebagaimana diamanatkan dalam Undang-Undang Nomor 5 Tahun 2017 tentang Pemajuan Kebudayaan.

Baca Juga:  Kasus Covid-19 di Sumsel Terus Meningkat,   DPRD Sumsel Sebut Pemerintah Belum Maksimal

“Arsitektur tradisional adalah wujud kekayaan intelektual masyarakat Sumatra Selatan sejak berabad-abad silam. Di balik kemegahan bangunannya, tersimpan pemikiran luhur yang perlu dijaga antargenerasi,” ujar Kristanto didampingi Dosen Arsitektur Unsri, Dr. Iwan Murawan Ibnu, S.T., M.T.

Dalam pameran ini, pengunjung dapat menyaksikan sembilan miniatur bangunan tradisional dari berbagai daerah di Sumatra Selatan.

Beberapa di antaranya adalah Ghumah Baghi dari Suku Basemah, Lamban Tuha dari Suku Ranau, Lamban Cara Ulu, Lamban Ulu Ogan, serta bangunan cagar budaya dari Musi Banyuasin seperti Rumah Putih Pintu Gribik, Rumah Batu, dan Rumah Panggung.
Selain itu, akan ditampilkan pula Rumah Gudang khas Palembang dan Rumah Limas yang menjadi ikon tepi Sungai Musi.

Baca Juga:  998 Sumur Minyak Ilegal di Sumsel di Tutup Polisi

“Pameran ini terbuka untuk umum dan gratis. Kami juga menyiapkan informan yang akan menjelaskan makna serta filosofi di balik setiap bangunan tradisional,” tambah Kristanto.

Pameran Sambeyang Rame juga akan menjadi ruang budaya dan dialog kebudayaan. Pada hari pertama, setelah pembukaan, akan digelar talkshow tentang potensi dan tantangan pelestarian arsitektur tradisional di Sumatra Selatan.

Rangkaian kegiatan juga dimeriahkan oleh berbagai pertunjukan seni seperti Wayang Palembang, Jidur Padamaran, Dulmuluk, dan Tari Kebagh — Warisan Budaya Takbenda Indonesia tahun 2018.

Pada hari kedua, pengunjung akan disuguhkan penampilan Sastra Tutur Sembah Panjang dan Tari Cang-Cang yang baru ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda tahun 2025. Acara juga akan diisi dengan lomba sketsa arsitektur tradisional yang diiringi penampilan Batanghari Sembilan dan Band Candei.

Baca Juga:  AHY Bakal Lantik Ketua DPD Partai Demokrat Sumsel dan Jajaran

Memasuki hari terakhir, agenda akan diisi dengan permainan tradisional Cuki, Pencak Keraton Palembang Asli, serta teatrikal Ande-Ande Panjang Putri Byuku dan Serambe Klentangan. Pertunjukan ditutup dengan penampilan Band Diroad dan lomba mewarnai rumah tradisional untuk anak-anak.

Kristanto berharap, pameran ini dapat menjadi pengingat bagi masyarakat bahwa warisan budaya bukan sekadar peninggalan masa lalu, tetapi juga cerminan identitas bangsa di masa depan.

“Rumah-rumah tradisional di Sumatra Selatan mengajarkan kita tentang kearifan dalam menyesuaikan hunian dengan kebutuhan dan lingkungan. Sudah selayaknya kita belajar dari warisan budaya yang ada untuk membangun masa depan yang lebih bijak,” pungkasnya.#udi

Komentar Anda
Loading...