Diskusi Buku Toponimi Hidupkan Jejak Budaya dan Sejarah Sumatra Selatan di PKD Lampung 2025

82
Diskusi buku yang menggali akar sejarah dan identitas wilayah melalui kajian toponimi atau penamaan tempat. Bertempat di Gedung Olah Seni Taman Budaya Lampung (TBL), Jl. Cut Nyak Dien No. 24, Palapa, Tanjungkarang Pusat, kegiatan ini menghadirkan diskusi buku “Toponimi Sumatra Bagian Selatan” dan “Toponimi Bandarlampung”, dua karya penting yang merekam jejak penamaan tempat di wilayah Sumatra bagian selatan dan ibu kota Provinsi Lampung.(BP/udi)

Bandar Lampung, BP-  Salah satu rangkaian kegiatan penting dalam Pekan Kebudayaan Daerah (PKD) IV Provinsi Lampung 2025 adalah diskusi buku yang menggali akar sejarah dan identitas wilayah melalui kajian toponimi atau penamaan tempat. Bertempat di Gedung Olah Seni Taman Budaya Lampung (TBL), Jl. Cut Nyak Dien No. 24, Palapa, Tanjungkarang Pusat, kegiatan ini menghadirkan diskusi buku “Toponimi Sumatra Bagian Selatan” dan “Toponimi Bandarlampung”, dua karya penting yang merekam jejak penamaan tempat di wilayah Sumatra bagian selatan dan ibu kota Provinsi Lampung.

Diskusi yang digelar pada Rabu (22/10/2025) ini menghadirkan para penulis buku tersebut, yakni Anshori Djausal, Ketua Akademi Lampung, dan Iwan Nurdaya-Djafar, Sekretaris Akademi Lampung. Keduanya merupakan penulis sekaligus peneliti yang mendalami aspek kebudayaan dan sejarah lokal. Diskusi dipandu oleh moderator Dr. Khaidarmansyah, dosen IIB Darmajaya dan anggota Akademi Lampung, dengan turut hadir pula Maspriel Aries, seorang jurnalis dan penulis yang turut memberikan pandangan kritis dalam diskusi.
Dalam paparannya, Anshori Djausal menjelaskan bahwa buku “Toponimi Sumatra Bagian Selatan (Berdasarkan Peta Kurun Waktu 1920–1940)” merupakan hasil penelitian panjang yang dimulai sejak Januari hingga Desember 1995. Penelitian ini difokuskan pada nama-nama tempat yang terekam dalam peta-peta kolonial dari masa Hindia Belanda, yang mencakup wilayah Keresidenan Lampung, Sumatera Selatan, Bengkulu, dan Jambi.

Baca Juga:  PJ Bupati OKU Kembali Galakkan Jumat Bersih 

“Buku ini merupakan karya ilmiah yang merekam jejak sejarah penamaan tempat di wilayah Sumatra bagian selatan, berdasarkan peta-peta tua dari kurun waktu 1920 hingga 1940-an. Toponimi di sini mencerminkan hubungan erat antara penamaan tempat dengan budaya lokal, kondisi geografis, hingga interaksi sosial masyarakat pada masa lalu,” jelas Anshori.

Dalam buku setebal lebih dari 330 halaman ini, tercatat sekitar 3.560 toponimi, meliputi berbagai nama rupa bumi seperti umbul, kampung, bukit, gunung, sungai, hingga perkebunan. Penemuan ini menyoroti bahwa banyak nama tempat berasal dari unsur alam dan budaya lokal yang masih hidup hingga kini, serta menunjukkan pola hubungan antara orientasi lokal dengan orientasi wilayah lebih luas di Sumatra bagian selatan.

Toponimi sendiri, lanjut Anshori, merupakan bagian dari ilmu onomastika, yakni studi tentang nama-nama.

Baca Juga:  Peringatan Puncak Bulan Bung Karno 2023, Ratusan 'Banteng' PDIP Palembang Siap Merahkan GBK

“Dalam konteks ini, toponimi menjadi penting karena memuat identitas, memori kolektif, serta dinamika sejarah suatu wilayah,” ujarnya.

Sementara itu, Iwan Nurdaya-Djafar membahas bukunya yang berjudul “Toponimi Bandarlampung”. Buku ini lahir dari keprihatinan terhadap belum adanya dokumentasi serius mengenai asal-usul dan sejarah nama-nama tempat di Kota Bandarlampung.

“Karena belum ada buku yang meneliti khusus soal toponimi kota ini, saya merasa terpanggil untuk menuliskannya. Buku ini menjadi upaya mengisi kekosongan itu sekaligus menelusuri sejarah kota ini melalui nama-nama tempatnya,” tutur Iwan.

Buku setebal 314 halaman ini menyajikan daftar toponimi alam dan buatan yang tersebar di seluruh wilayah kota, mulai dari nama kelurahan, bukit, sungai, hingga nama pasar, rumah sakit, hotel, gedung, tempat ibadah, dan kawasan wisata. Tak hanya menyajikan nama, buku ini juga menelusuri asal-usul dan cerita sejarah di balik nama-nama tersebut.

“Melalui pendekatan historis, pembaca dapat membayangkan bagaimana wajah Kota Bandarlampung tempo dulu. Setiap nama tempat menyimpan sekelumit kisah yang pernah terjadi—baik peristiwa sosial, migrasi penduduk, maupun dinamika pembangunan kota,” tambah Iwan yang pada tahun ini meraih penghargaan dari Badan Bahasa sebagai Pelaku Sastra yang telah berkarya selama lebih dari 40 tahun.

Baca Juga:  Ekspedisi XI IPA 8 SMAN 10 Palembang Ekploitasi Bangker Jepang Jalan Joko

Dalam sesi diskusi, Maspriel Aries memberikan apresiasi tinggi terhadap kehadiran kedua buku ini.

Menurutnya, kajian toponimi tidak hanya berfungsi sebagai referensi sejarah dan budaya, tapi juga memiliki implikasi langsung terhadap berbagai aspek kehidupan modern, seperti tata ruang kota, penyusunan peta, pengelolaan wilayah, hingga upaya pelestarian bahasa lokal.

“Tanpa nama yang baku dan memiliki makna, peta menjadi ‘peta buta’. Toponimi memberi orientasi, identitas, dan makna pada wilayah. Buku-buku ini menjadi alat bantu dalam administrasi pemerintahan, pelayanan publik, dan bahkan dalam mitigasi bencana,” ujar Maspriel.

Ia menambahkan, studi toponimi berperan dalam pelestarian budaya karena setiap nama tempat merekam nilai-nilai dan kosakata lokal. Dengan mempertahankan nama-nama ini, maka bahasa dan tradisi lokal pun ikut terjaga.

Bahkan, toponimi dapat menjadi alat diplomasi dalam memperjuangkan klaim wilayah, sebagaimana terjadi dalam kasus Sipadan-Ligitan antara Indonesia dan Malaysia.#udi

 

Komentar Anda
Loading...