Maspriel Aries: “Menjaga Nurani Jurnalisme di Tengah Arus Deras Kepentingan”

32
Suasana saat Maspriel Aries meraih penghargaan dalam Anugerah Profesor Mahyuddin Award 2025, Minggu (14/9/2025) malam. (BP/udi)

Palembang  BP- Di tengah sorot lampu yang membias hangat di Ballroom The Zuri Hotel, Palembang, , Minggu (14/9/2025) malam itu bukan hanya tentang siapa yang naik panggung dan menerima penghargaan. Malam itu adalah tentang menghidupkan kembali nilai-nilai yang perlahan dilupakan zaman—kejujuran, integritas, ketulusan, dan kesetiaan terhadap profesi.

Dan di antara sembilan nama penerima penghargaan dalam Anugerah Profesor Mahyuddin Award 2025, satu nama dari perwakilan wartawan: Drs. H. Maspriel Aries.

Di balik kemeja sederhana dan senyumnya yang ramah, Maspriel Aries bukanlah nama asing di kalangan jurnalis Sumatera Selatan.

Namun, penghargaan yang ia terima malam itu bukan karena popularitas. Ia berdiri di atas panggung bukan karena banyak dikenal, tetapi karena ia tetap setia pada prinsip jurnalistik yang lurus dan bersih, di tengah gelombang era informasi yang makin keruh.

“Seperti wartawan, wartawan yang baik itu memperjuangkan kebenaran. Bukan yang dipanggil lalu diam, bukan yang 86,” kata Yudha Pratomo Mahyuddin, MSc., Ph.D., Ketua Profesor Mahyuddin Institute, saat menyampaikan sambutannya.

Baca Juga:  DPRD Sumsel Temukan 2 Ribu Ton Beras Tak Layak Makan Di Gudang Bulog OKUT

Maspriel Aries adalah cermin dari semangat itu. Ia menulis bukan untuk menyenangkan pembaca atau penguasa, tetapi untuk mengabarkan yang benar dan mengkritik yang keliru. Di tangannya, berita menjadi jembatan antara rakyat dan nurani sosial.

Berbagai buku dan tulisan telah banyak di lahirkan dari tangannya terutama opininya mengenai berbagai masalah yang terjadi.

Tak sedikit tulisan-tulisannya yang menyuarakan suara-suara kecil di pelosok, membuka ruang bagi mereka yang tertindas untuk didengar. Ia menulis tentang  orang-orang, masyarakat dan tempat serta waktu  yang terlupakan, kebijakan yang tidak berpihak, dan juga tentang harapan—yang kadang hanya tersisa dalam satu paragraf berita.

Profesor Mahyuddin Award sendiri bukan penghargaan biasa. Ia lahir dari niat tulus keluarga almarhum Prof. Mahyuddin Mahyuddin, tokoh pendidikan dan intelektual yang semasa hidupnya menanamkan nilai-nilai luhur pada anak-anaknya.

“Ini bukan tentang siapa yang paling hebat. Ini tentang siapa yang tetap lurus di jalan yang benar, meski banyak yang memilih jalan pintas,” kata Yudha dalam pidatonya malam itu.

Baca Juga:  Tiga Bulan Belajar Daring, Ujian Semester SMK Pun Daring

Tahun ini, tepat pada 14 September, tanggal kelahiran almarhum Prof. Mahyuddin yang ke-78—seandainya beliau masih hidup—penghargaan ini digelar. Sebuah tanggal yang dipilih penuh makna, sebagai cara keluarga mengenang dan melestarikan semangat hidup sang ayah: menjadi baik, apa pun profesinya.

Apa yang membuat Maspriel Aries berbeda? Mungkin bukan teknik jurnalistik yang rumit atau tulisan yang penuh retorika. Tetapi karena ia menulis dengan hati. Ia tak pernah menjadikan pena sebagai alat mencari kuasa, tetapi sebagai alat untuk mengabdi.

Ia bukan wartawan istana. Ia adalah wartawan rakyat. Menulis untuk mereka yang tak punya akses, suara, atau bahkan kesempatan untuk didengar.

Di tengah dunia media yang kini kerap diboncengi kepentingan politik, ekonomi, bahkan buzzer, Maspriel adalah sedikit dari yang masih berdiri di tengah—dengan kepala tegak dan tangan tetap memegang etika profesi.

Baca Juga:  Siska Marleni : Ujian Kesungguhan Bagi Para Bakal Calon Wakil Daerah

“Kami ingin penghargaan ini menjadi simbol bahwa di luar sana masih banyak orang baik. Termasuk wartawan,” ujar Yudha.

Malam itu, Maspriel Aries menerima piala dan sertifikat penghargaan  Profesor Mahyuddin Award dalam kategori Wartawan . Bukan hanya sebagai bentuk apresiasi, tetapi sebagai penegasan: bahwa kebaikan, kejujuran, dan dedikasi sejati masih diakui—dan akan selalu dihargai.

Di luar panggung, ia tetap Maspriel yang sama. Wartawan yang akan pulang ke rumah, menulis lagi, dan terus menyuarakan yang perlu disuarakan. Tanpa sorot kamera, tanpa tepuk tangan, tapi dengan cahaya kecil di nurani yang tak pernah padam.

Penghargaan ini tidak menjadikan Maspriel lebih besar dari wartawan lainnya. Tapi ia adalah pengingat bahwa menjadi jujur adalah pilihan yang harus diperjuangkan setiap hari.

Dan malam itu, kita diingatkan kembali bahwa masih ada wartawan yang tidak sekadar menulis berita—tetapi menuliskan sejarah kecil (Petite Histoire) tentang keberanian menjadi orang baik.#udi

Komentar Anda
Loading...