Puisi Tanpa Kata di Kanvas Fir Azwar

Palembang, BP- Di tengah riuhnya dunia pendidikan dan kesenian Sumatera Selatan (Sumsel) , nama Fir Azwar hadir sebagai sosok multidimensi: pencipta lagu, penyair, pelukis, sekaligus pendidik. Ekspresi baginya bukan sekadar pilihan, melainkan jalan hidup.
Karya-karyanya, baik musik maupun lukisan, adalah cerminan perjalanan batin—kadang tenang dan reflektif, kadang liar dan penuh ledakan emosi. Fir dikenal luas lewat lagu-lagu daerah penuh makna, seperti Bidar Melaju dan Lenggang Zapin Palembang. Namun, sejak kembali aktif melukis pada 2019, ia menunjukkan transformasi artistik yang mencolok.
Jika dulu warnanya lembut dan garisnya rapi, kini kanvasnya dipenuhi ledakan kontras tajam dan jejak emosi yang tak tertahan. Fir melukis bukan untuk memanjakan mata, tetapi untuk menggugah kesadaran. Tema ekologis—alam pesisir, sungai Musi, ikan belido, hingga perahu kajang—menjadi motif berulang, bukan sekadar ornamen, melainkan simbol memori kolektif dan keresahan sosial.
Perjalanan seni Fir tidak berhenti di studio pribadinya. Pada November 2022, ia menggelar pameran Sukma Ekologis di Auditorium RRI Palembang bersama Iqbal J Permana. Dari 53 karya yang ditampilkan, 30 di antaranya milik Fir. Kolaborasi keduanya bahkan melahirkan lukisan berbentuk ikan belido, ikon Sungai Musi yang sarat pesan ekologis dan budaya.
Fir juga membawa karya-karyanya ke Hotel The Alts Palembang—ruang alternatif bagi seniman lokal untuk menjangkau publik urban. Puncaknya, ia tampil di Gedung Kesenian Bandar Lampung, memperluas jangkauan karyanya hingga lintas daerah dan generasi.
Tidak hanya berkarya, Fir juga menciptakan ruang pertemuan seni di Padepokan Seni Rendezvous, Kalidoni, Palembang. “Tempat ini bukan sekadar studio atau galeri, melainkan ruang hidup bagi seni dan budaya. Rendezvous menjadi wadah pertemuan lintas generasi dan lintas disiplin,” ujarnya, Jumat (5/9/2025).
Di sana, ia rutin menggelar pembacaan puisi, diskusi sastra, hingga peringatan tokoh besar seperti Chairil Anwar. Pada perayaan ulang tahun ke-102 Chairil Anwar, Fir bersama Komunitas Batanghari 9 dan para budayawan kembali menghidupkan semangat puisi sebagai medium perlawanan dan refleksi.
Melihat lukisan Fir seperti membaca puisi tanpa kata. Satu kanvas bisa menghadirkan amarah, nostalgia, dan harapan sekaligus. Ia tidak menawarkan jawaban, melainkan mengundang pertanyaan tentang identitas, ruang hidup, serta relasi manusia dengan alam dan sejarah.
Keliaran dalam karyanya bukan pemberontakan, melainkan kejujuran. Sebagai kepala sekolah dan guru Bahasa Indonesia, Fir menjaga nilai-nilai pendidikan dan budaya. Namun dalam dunia seni, ia memilih menjadi penjelajah—menjembatani tradisi dengan kebebasan, menggabungkan disiplin dengan spontanitas.
Fir Azwar membuktikan, seorang seniman tidak harus memilih antara akar dan sayap. Ia memiliki keduanya, sekaligus.#udi