Oleh: Akhmad Hamdi Asysyauki
Pengamat Perkotaan / Dosen Prodi Arsitektur, FT, UM Palembang
Identitas Kota di Era Global
Di era globalisasi, kota-kota di dunia dituntut memiliki identitas yang kuat. Bukan hanya untuk menarik wisatawan dan investor, tetapi juga untuk memperkuat rasa bangga warganya. Salah satu strategi yang banyak digunakan adalah city branding – yakni membentuk citra kota melalui simbol, slogan, hingga narasi budaya yang khas. Palembang, sebagai kota tertua di Indonesia dengan jejak sejarah Sriwijaya, meluncurkan branding “Charming Palembang” sejak 2018. Sayangnya, hingga kini, branding ini belum sepenuhnya berhasil mengakar.

Branding yang Gagal Menyapa Publik
“Charming Palembang” digagas untuk memperkenalkan wajah baru kota: menawan, ramah dan penuh kehangatan. Namun, hasil penelitian menunjukkan bahwa brand ini masih belum menjadi bagian dari identitas kolektif warga Palembang. Warga dan wisatawan justru lebih mengenal ikon lama kota seperti Jembatan Ampera, Sungai Musi, Pempek dan Songket sebagai representasi Palembang. Sementara “Charming Palembang” lebih banyak muncul di logo dan spanduk pemerintah, tanpa menyentuh kehidupan nyata masyarakat.
Di Atas Kertas, Tapi Belum Jadi Ruh Kota
Brand kota idealnya menjadi bagian dari strategi pembangunan. Namun “Charming Palembang” belum dimasukkan ke dalam dokumen-dokumen kunci seperti RPJMD, RIPPDA, atau RTRW Kota Palembang. Survei terhadap pemerintah, akademisi, komunitas lokal dan pelaku usaha menunjukkan bahwa dari delapan aspek utama city branding, hanya tiga yang dinilai kuat: (1) Visi dan arah strategis, (2) Infrastruktur dan aksesibilitas, (3) Peluang ekonomi dan pariwisata. Sementara aspek lain seperti (4) budaya lokal, (5) komunitas lokal, (6) sinergi antar stakeholder, (7) komunikasi publik, (8) tata ruang kota dinilai belum maksimal.
Empat Hal yang Harus Dilakukan
Jika Palembang ingin menjadikan “Charming Palembang” sebagai brand yang hidup dan berdampak, maka perlu langkah nyata, tidak hanya di atas kertas. Empat strategi berikut dapat menjadi fokus: (1) Libatkan masyarakat lokal dalam promosi budaya, Sejarah dan kearifan lokal kota. (2) Bangun infrastruktur yang mendukung citra kota, seperti jalur pedestrian yang memadai, ruang terbuka hijau publik dan media digital di titik wisata. (3) Selenggarakan event-event tematik yang mengangkat narasi “Charming Palembang”, bukan sekadar festival rutin tanpa arah. (4) Perkuat komunikasi publik dengan narasi yang konsisten dan visual yang kuat di media sosial, media massa dan ruang publik kota. City branding bukan hanya soal slogan. Ia adalah wajah kota, jiwa Masyarakat dan arah masa depan yang harus dirasakan dalam setiap sudut kehidupan kota.
Kesempatan Tak Boleh Terlewat
Palembang memiliki semua potensi untuk menjadi kota tujuan dunia. Warisan sejarah, kekayaan kuliner, masyarakat yang kreatif, hingga aksesibilitas yang terus membaik, semua adalah modal besar. Tapi tanpa narasi dan strategi branding yang kuat, semua potensi itu akan sulit dikenali dunia luar. “Charming Palembang” bisa menjadi alat pemersatu identitas dan promosi global. Namun brand ini harus dikelola secara serius, konsisten dan berkelanjutan. Bukan sekadar proyek pencitraan, melainkan warisan jangka panjang. Kini saatnya menjadikan “Charming Palembang” bukan sekadar slogan tetapi menjadi identitas hidup Kota Palembang yang menginspirasi, membanggakan dan mendunia.#udi/rill