Gus Salam  Bertemu Jajaran  PWNU Sumsel dan PCNU Se-Sumsel, Usung Misi Rekonsiliasi Total dan Nilai Pesantren di PBNU

13
Pengasuh Pondok Pesantren Mamba’ul Ma’arif Denanyar Jombang, KH Abdussalam Shohib, atau yang akrab disapa Gus Salam, menggelar silaturahmi bersama jajaran Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) dan Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) se-Sumatera Selatan. Pertemuan bertajuk “Satu Tekad Bumi Sriwijaya” tersebut berlangsung khidmat di Hotel Santika Premiere Palembang pada Rabu (15/7/2026) malam.(BP/udi)

Palembang,BP-Pengasuh Pondok Pesantren Mamba’ul Ma’arif Denanyar Jombang, KH Abdussalam Shohib, atau yang akrab disapa Gus Salam, menggelar silaturahmi bersama jajaran Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) dan Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) se-Sumatera Selatan. Pertemuan bertajuk “Satu Tekad Bumi Sriwijaya” tersebut berlangsung khidmat di Hotel Santika Premiere Palembang pada Rabu (15/7/2026) malam.

Acara ini dihadiri oleh jajaran syuriyah dan tanfidziyah PCNU dari 17 kabupaten/kota se-Sumsel, sejumlah tokoh senior NU setempat. Sumatera Selatan menjadi wilayah ke-23 yang dikunjungi oleh Gus Salam dalam rangkaian ikhtiarnya maju sebagai Calon Ketua Umum PBNU periode 2026–2031.
Gus Salam mengungkapkan rasa terima kasih atas sambutan hangat dari keluarga besar NU Sumsel. Ia menegaskan bahwa kehadirannya bukan sekadar untuk memaparkan visi, melainkan untuk mendengar langsung nasihat, bimbingan, dan strategi dari para kiai di daerah demi mematangkan langkah menjelang Muktamar NU mendatang.
Gus Salam menceritakan bahwa langkah politik organisasinya bermula dari perintah (dawuh)  gurunya. Sebelum bergerak ke wilayah-wilayah, langkah pertama yang ia ambil adalah memohon restu kepada para masyayikh dan ulama sepuh.
Ia tercatat telah menemui KH Anwar Manshur dan KH Kafabihi Mahrus di Lirboyo, Kiai Zamzami, Rais ‘Aam PBNU KH Miftachul Akhyar, KH Ma’ruf Amin, hingga KH Said Aqil Siroj.
“Kami sangat menghormati hierarki struktural dan kewilayahan. Setiap masuk ke suatu daerah, kami selalu meminta izin dan mohon arahan dari pengurus wilayah setempat,” ujar Gus Salam.
Lebih lanjut, Gus Salam menjelaskan komunikasinya yang cair dengan berbagai tokoh penting NU, termasuk Sekretaris Jenderal PBNU Saifullah Yusuf (Gus Ipul) dan Ketua Umum PBNU KH Yahya Cholil Staquf (Gus Yahya).
 Ia juga telah sowan kepada Menteri Agama Prof. Nasaruddin Umar untuk bertukar pikiran sekaligus meminta izin bersilaturahmi dengan jaringan NU yang berada di bawah naungan Kementerian Agama.
Ada dua pesan utama  gurunya yang menjadi landasan perjuangan Gus Salam. Pesan pertama adalah kewajiban untuk menjaga persatuan dan merukunkan kembali seluruh elemen di dalam tubuh Nahdlatul Ulama.
Gus Salam mengartikulasikan pesan tersebut ke dalam misi Rekonsiliasi Total. Menurutnya, perbedaan pendapat dalam dinamika organisasi adalah hal yang wajar, namun tidak boleh berujung pada konflik berkepanjangan yang tidak produktif.
“Tugas utama kami adalah rekonsiliasi secara menyeluruh. Pengalaman ini pernah kami terapkan saat merangkul kembali seluruh PCNU di Jawa Timur pasca-Konferwil 2018 yang memenangkan Kiai Marzuqi Mustamar. Begitu kontestasi selesai, persaingan harus dilupakan, dan semua pihak langsung diajak bersinergi bersama,” tegasnya.
Pesan kedua dari gurunya tersebut adalah memastikan tata kelola dan manajemen PBNU ke depan tetap didominasi oleh nilai-nilai pesantren.
Gus Salam mengingatkan bahwa meskipun kader NU saat ini memiliki latar belakang yang sangat beragam—mulai dari akademisi, profesional, hingga pengusaha—akar sejarah NU tidak boleh dicabut dari rahim pesantren, sebagaimana yang dicontohkan oleh para pendiri utama seperti Mbah Hasyim Asy’ari, Mbah Wahab Chasbullah, dan Mbah Bisri Syansuri.
Untuk mewujudkan hal itu, Gus Salam mengusung misi menghidupkan kembali tiga nilai utama pesantren (ruhul ma’had) dalam manajemen organisasi, yaitu Ilmiah: Segala kebijakan organisasi dan landasan akidah harus berbasis pada ilmu.
Lalu Amaliah, Konsistensi dalam mengamalkan ilmu yang dimiliki demi kemaslahatan umat.
Dan Adabiyah, Menjaga etika, sopan santun, dan penghormatan mutlak kepada para kiai dan masyayikh.
“Tujuan kita di NU adalah berkhidmah dan mengabdi. Tentu pengabdian yang paling sempurna adalah pengabdian yang dilandasi dengan  adabiyah atau etika yang luhur,” pungkas Gus Salam .
Acara kemudian di akhirinya dengan tanya jawab  serta diskusi bersama dengan  peserta yang hadir.#udi

Baca Juga:  Kecelakaan Di Simpang Bandara Za Akhirnya Meninggal Dunia
Komentar Anda
Loading...