Mahasiswa Modnus Belajar Alunan Musik Batanghari 9 Bersama Seniman Ali Goik

74
Seniman dan Budayawan Sumatera Selatan (Sumsel), Ali Goik terus digelorakan Batanghari Sembilan. Dihadapan mahasiswa Modul Nusantara (Modnud) PMM Universitas Sriwijaya sebanyak 23 orang. (BP/udi)

Palembang, BP- Ditengah gempuran musik K-Pop di kalangan millenial saat ini. Musik etnik lokal terasa kian menepi dari telinga anak muda. Dalam mengangkat ketersudutan musil etnik lokal.

 

Seniman dan Budayawan Sumatera Selatan (Sumsel), Ali Goik terus digelorakan alunan musik Batanghari Sembilan. Dihadapan mahasiswa Modul Nusantara (Modnud) PMM Universitas Sriwijaya sebanyak 23 orang.

 

Seniman Ali Goik memperagakan sekaligus melatih bermain musik dan lirik Batanghari Sembilan dengan petikan gitar tunggal di depan mahasiswa Modnud pada halaman lapangan tembak Jakabaring, Sabtu  (21/10).

 

“Saya sudah memiliki basic musik. Saya pelajari tuner-tuner dalam gitar Batanghari 9. Karena tunernya ini berbeda dengan musik biasa. Namun bisa dipakai untuk beberapa genre musik. Makanya, saya mengembangkan musik Batanghari 9. Yang saya gabungkan dan ciptakan dengan berbagai lagu-lagu daerah”, jelas Seniman Ali Goik.

 

Pengembangan dan penciptaan berbagai lagu dengan basis irama Batanghari Sembilan ini melahirkan berbagai lagu yang mulai akrab di telinga masyarakat Sumatera Selatan. Lagu-lagu berjudul Pesan Damai Simbur Cahaya selain mendengungkan kepedulian lingkungan namun musiknya tetap berbasis gitar tunggal Batanghari 9.

Baca Juga:  Yulizar Dinoto pimpinan Pembacaan  deklarasi kampanye bermartabat

 

Seniman Ali Goik juga menciptakan lagu Tam-Tam Duku bentuk lain pada ironi hilangnya permainan tradisional dilalap berbagai mainan games online. Lagu ini tetap berada dalam genre Batanghari Sembilan. Lagu-lagu kepedulian lain Kenceran, Jangan Bakar Hutan Kami, Tua-tua di Kota Tua, SMB II diiramakan dengan Batanghari 9.

 

“Lagu-lagu itu bukan berlirik irama Batanghari 9. Bahkan liriknya banyak tentang kepedulian sejarah, sosial-budaya, dan lingkungan bercirikan Sumatera Selatan. Namun irama dan tuner lagu-lagu tersebut tetap Batanghari 9. Ini sebenarnya kepedulian saya. Supaya irama Batanghari 9 tetap lestari dan didekati anak-anak muda”, papar Seniman Ali Goik ditengah millennial muda Modnus Unsri.

 

Seniman Ali Goik menjelaskan berbagai irama Batanghari 9 mengikuti ciri khas landscape alam Sumatera Selatan.

 

Jika di uluan Palembang tanah berawa maka irama dan syair Batanghari 9 dipengaruhi oleh kehidupan sungai ini seperti lagu nasib. Demikian jika lembah dan bukit, maka dipengaruhi oleh suasana lembah, bukit dan pegunungan, misalnya irama dan syair lagu antan delapan. Mahasiswa Modnus Unsri sangat antusias mendengarkan berbagai narasi mulai dari struktur, bentuk, isi lirik berpantun, instrument dari Seniman Ali Goik.

Baca Juga:  Perekrut Sindikat Jual Ginjal Jaringan Kamboja, Ditangkap Polisi di Palembang

 

Diakhir refleksi dan paparan Seniman Ali Goik meminta beberapa mahasiswa yang pandai bergitar untuk mengikuti latihan yang diberikannya.

 

“Di Maluku ada musik etnis seperti ini. Apalagi musik etnis Ambon yang berbasis pantai dan lautan. Namun alat musiknya lebih lengkap. Selain gitar tunggal ada tifa, totobuang, jukulele dan hawaian. Ditambah musik tiup seperti kuli bia dari kerang dan suling bambu. Kadang juga dipakai arababu, idiokoro, tahuri atau gong sedang. Namun irama hampir sama dengan Batanghari 9,” komentar Gloria Maurina Revaya Kappuw dari Ilmu Hukum Universitas Pattimura peserta PMM Modnus Unsri.

Glori ikut mempraktekkan gitar tunggal Batanghari 9 dibawah tuntutan Seniman Ali Goik.

 

Di Minahasa, Sulawesi Utara ada juga musik etnik yang disebut zani, zazanin, ma’zani, atau mahzanin. Selain gitar tunggal juga dilengkapi alat musik modern seperti saxsopone, clarinet, overton, tuba, bas, tambor dan lain sebagainya.

Baca Juga:  Hadiri Reuni Akbar SMEA Negeri Muara Enim , Heri Amalindo Mohon Doa  Maju Sebagai Calon Gubernur Sumsel

 

“Namun musik etnik Minahasa ini namun kreasi modernnya lebih kental. Karena pengaruh Barat cukup tinggi. Tetapi basic musiknya tetap gitar tunggal. Sehingga mempelajari Gitar Tunggal Batanghari 9 ini sangat menarik dan tidak terlalu sulit”, jelas Vieri Edgar Junino Sumlang dari Sastra Inggris Universitas Sam Ratulangi peserta PPM Modnus Unsri lainnya yang ikut tampil memetic gitar Batanghari 9.

 

Dr. Dedi Irwanto sebagai dosen Modul Nusantara Universitas Sriwijaya. Diakhir kegiatan berpesan untuk anak-anak muda peserta Modnus Unsri 2023 agar ketika pulang lagi ke daerah asalnya.

 

“Mau dan berkomitmen untuk melestarikan berbagai budaya setempat yang ada, termasuk musik etnis,” katanya.

 

Dedi juga memberi apresiasi tinggi pada Seniman Ali Goik yang terus menggali musik tradisional berbasis Batanghari 9. Dan meminta supaya pemerintah memberi kepedulian tinggi pada para seniman di Sumatera Selatan.  #udi

 

 

 

 

Komentar Anda
Loading...