Politik Bukan Sesuatu yang Buruk ,  Tapi Politik Perjuangan yang Baik dengan Cara yang Baik

31
Suasana diskusi kebangasaan Pemilihan Umum (pemilu) tahun 2024 bertempat di auditorium Bina Praja Palembang, Rabu (5/7) dengan tema yang diambil adalah “Urgensi Potensi Pemilih Pemula terhadap Pesta Demokrasi 2024”. (BP/udi)

SELAMA ini stigma mengenai politik sering dicitrakan sesuatu yang buruk, kotor dan penuh intrik, contohnya saja untuk mewujudkan hajat seseorang ataupun kelompok dalam mencapai tujuan yang dikehendaki, sering kali segala upaya dilakukan, bahkan bertentangan dengan norma dan nilai yang berlaku di masyarakat. Akan tetapi, politik itu sebenarnya bukanlah sesuatu yang buruk, bahwa dalam kegiatan kita sehari – hari pun itu adalah aktifitas politik. Karena, politik itu adalah usaha untuk mencapai kehidupan yang baik.

Hal tersebut dikemukakan pengamat politik Sumsel yang juga Direktur UT Palembang, Dr. Meita Istianda, S. I. P., M. Si.

Menurut Meita,  kalau merujuk dari pendapat filsuf Socrates yang mengatakan kalau politik itu adalah perjuangan untuk menjaga kehidupan yang lebih baik.

“ Sekarang mau tidak kita ini menjadikan politik itu sebagai politik perjuangan yang baik dengan cara-cara yang baik , ini semua memerlukan edukasi terhadap semua, “katanya saat menjadi narasumber dalam diskusi kebangasaan Pemilihan Umum (pemilu) tahun 2024 bertempat di auditorium Bina Praja Palembang, Rabu (5/7) dengan tema yang diambil adalah “Urgensi Potensi Pemilih Pemula terhadap Pesta Demokrasi 2024”.

Dalam demokrasi menurutnya ada ruang bagi masyarakat sipil terlibat disitu.

‘ICMI  juga  harus ikut pengawasi prosesnya , “ katanya.

 

Sedangkan Anggota Komisi III dan Wakil Ketua Badan Pembentukan Peraturan Daerah (Bapemperda) DPRD Kota Palembang Dr Ridwan Saiman SH MH mengatakan, dirinya pernah di ajak diskusi soal sistim pemilu yang baik.

“ Sesungguhnya zaman kita ini adalah zaman gadget dimana hampir semua orang menggunakan gadget, kami di PKS pernah melakukan pemilihan dalam  PKS itu majelis syuro dengan cara one man one vote melalui gadget, kami suruh mendaftar dalam satu aplikasi dan itu luar biasa hasilnya langsung ketahunan dalam waktu sekian jam, kenapa pemilu di Indonesia ini tidak melakukan seperti itu, karena ada yang menginginkan tidak seperti itu,” katanya.

Apalagi dia melihat di Indonesia angka kecurangan pemilu memang di tunggu-tunggu dan sudah disiapkan .

Baca Juga:  TMMD Ke 104 Kodim 0418 Palembang Resmi Dibuka

“ Coba kalau semua orang itu menggunakan sidik jari atau kornea mata itu saat pemilihan serentak dengan mengklik satu tombol itu semua bisa melihat hasilnya, tapi kalau kita sebulan kemudian bisa melihat hasilnya ,” kata politisi PKS ini.

PPK menurut Ridwan jika tidak kuat imannya , itulah pusat terjadi kecurangan.

“ C1 itu setelah di hitung KPPS itu dibawa ke PPK gantian menghitung nunggu antrian semakin banyak desa PPSnya semakin lama menghitung, akhirnya karena lelah , saksi kurang akhirnya lewat maka terjadilah pengisian sesuai keinginan orang tertentu,” katanya.

Dia mencontohkan kabupaten Empat Lawang , kebanyakan PPKnya selesai penghitungannya banyak lari  , karena melakukan transaksional dan lebih memilih  lari apalagi ancaman hukuman tentang pengubahan hasil suara itu tidak berat.

“ Lebih baik dia (PPK) mengambil uang  lari karena masa penuntutan tidak lama , masa pelaporannya cuma 7 hari, bayangin bagaimana mau tegak aturan ini, bagaimana berkualitas, karena yang dipikirkan isi tas,” katanya.

Dia mengusulkan biaya penyelenggaraan pemilu dibelikan satu atau system yang tidak  bisa di hack sehingga orang itu memilih dengan cepat.

“ Itulah pentingnya political will dari pemerintah dan penyelenggara pemilu , mari kita sebagai pemuda yang peduli  dengan politik jurdil ini walaupun kita bukan panwaslu atau peserta  partai politik, kita mengawasi dalam pemilu itu apakah sebagai pemantau atau yang lain,” katanya.

Menurut Ridwan politik tidak selalu jahat tapi justru indah, karena berkah dari politik itu sangat luar biasa .

Hal senada dikemukakan  dosen dan peneliti UIN Raden Fatah Palembang  Iredho Fani Reza  MA SI dan peneliti hukum, Ismail Rumadan  yang sepakat mengenai pentingnya keterlibatan kaum milenial di dunia politik terutama dalam mengawasi pelaksanaan pemilu kedepan.

Sedangkan Wakil Ketum III Pimpinan Orwil ICMI Provinsi Sumsel Dr Ir Mukhtaruddin Muchsiri, MP,  pihaknya berharap bahwa pemuda ICMI itu memang harus menjadi kontrol pemuda provinsi Sumsel didalam membangun moralitas yang tinggi.

Baca Juga:  Mahasiswa Dukung KPU Sumsel Dan Kawal Penghitungan Suara

“Selain itu akal sehat, keilmuan, serta juga bagaimana pengaturan kehidupan yang harmonis  dan sinergi dalam berbagai elemen dan bidang,” ujarnya.

Kemudian, karena memang pemuda ICMI seperti yang disampaikan oleh Gubernur Sumsel H Herman Deru, segala bentuk moralitas itu ada dipundak pemuda ICMI, dan juga agama akan baik jika ada di sosok pemuda ICMI.

“Moralitas masyarakat akan baik di pundak pemuda ICMI. Sehingga dia menjadi simbol yang memang ini akan berat, tapi ini mulia,” ungkapnya.

Dilanjutkannya, oleh karena itu memang kita berharap adanya estafet kepemimpinan dari pengurus yang lama ke yang baru membawa angin baru segar dalam pembangunan akal sehat, keilmuan, dan pembangunan kehidupan yang baik, dan harmonis serta sinergi.

“Terkait dengan tema yang diusung, dimana yang di saran tadi bahwa elemen 3 kehidupan itu membangun akal sehat, membangun keilmuan dan pengaturan kehidupan yang harmoni,” katanya.

Dia melanjutkan, dimana ketiga itu harus menjadi ruh didalam bagaimana potensi pemuda sebagai pemilih pemula untuk mensukseskan demokrasi ditahun 2024 itu.

“Jadi kalau yang lain mungkin kita tahulah begitu misalnya adanya money politik, adanya kecurangan-kecurangan.Bagaimana Pemuda ICMI menafikan itu semua, menghilangkan, meminimalisasi itu semua, jadi kita membangun bagaimana demokrasi tanpa money politik dan lain-lainnya, itu peran dari pemuda ICMI,” katanya.

Dia menjelaskan, sebetulnya pemuda ini sekarang untuk milenial itu menempatkan 27 persen pemilih dari totalitas pemilih.

“Jadi kalau pemudanya bisa baik, berarti kita bisa memperbaiki sebanyak sekitar 30 persen kalau bisa baik, dan kita berharap bisa baik. Karena memang jumlah pemilih pemula itu sangat besar dalam hal ini yakni sebesar 27 persen, dan pemilih generasi Z juga hampir diangka tersebut, jadi 57 persen pemilih milenial dan generasi Z,” ucapnya.

Dia menjelaskan, kalau ini semua bisa cup dan bisa di handle serta di edukasi menjadi pemilih yang anti politik uang, ini sangat luar biasa. Jadi 50 persen itu memberikan warna bagi keseluruhannya. Memang semestinya keuntungan pemuda untuk yang berminat menjadi calon legislatif, artinya dia tidak tergantung dengan nomer urut 1.

Baca Juga:  Lapor Polisi, Remaja Dibacok Teman Sendiri

“Dia bisa saja muncul di nomer urut berapa, dan kemudian itu menjadi sebuah peluang. Tetapi didalam mengadvokasi pemilih pemula itu yaitu generasi Z yang di pemula kan, karena milenial sudah agak lebih tua sedikit,” bebernya.

Ditambahkannya, tapi kedua kelompok umur ini diangka 57 persen, sehingga ini menjadi peluang  yang sangat baik untuk mengajak berdemokrasi yang baik maupun untuk menjadikan serta memunculkan dari kalangan pemuda menjadi wakil-wakil kita di lembaga-lembaga legislatif dan maupun lembaga lainnya.

“Ini peluang, karena akan muncul dari generasi-generasi ya diatas mereka sedikit, atau  bahkan di generasi mereka. Dimana kita lihat hari ini, anggota legislatif banyak usianya yang masih muda-muda sekali,” katanya.

Sementara itu, Ketua Pemuda ICMI Sumsel Zainul Arifin SH MH mengatakan, ada banyak program jadi setelah pelantikan hari ini.

“Dari setiap pengurus kita mulai rapat untuk konsolidasi. Karena tahun 2024 ada pemilu.  Jadi kita mempersiapkan untuk pemilihan itu, bagaimana kita pemuda itu berkontribusi untuk masyarakat untuk kontestasi politik,” katanya.

“Untuk pemilih pemula ini kawan-kawan yang di sini bisa didorong mahasiswa. Karena ada dari banyak Universitas ada yang dari Unsri, UMP dan Muhammadiyah, itu nanti kita dorong untuk bisa berkontribusi bareng-bareng untuk ikut sosialisasikan Pilkada 2024,” bebernya.

“Untuk jangka menengah kita konsolidasi setiap kabupaten kota untuk penguatan secara internal. Jadi harapannya secara internal kawan-kawan dari seluruh itu kita dorong untuk bantu untuk konsolidasi. Jadi saling support dan tiap-tiap penguatan di internal dan kontribusi kemasyarakat jadi ada sinergi timbal balik untuk seluruh kawan-kawan di seluruh kabupaten di Sumsel,” katanya.#udi

 

 

 

 

Komentar Anda
Loading...