Wali  dan Jasanya Mengenalkan dan Mengamalkan Islam di Nusantara (Bagian Terakhir)

177

Oleh : Azim Amin Ketua Yayasan Najahiyah Palembang

 

Dari pernikahan ini, dikaruniai Allah seorang putra dinamai Pangeran Santri dg julukan Sunan Ngadilangu. Sunan Muria berperan besar dalam pendirian kerajaan Islam dan masjid di Bintara Demak. Terletak jauh dr pusat kerajaan Majapahit di Mojokerto, Jawa Timur.

Sunan Muria, selain suka hidup menyendiri mengarang lagu2 tembang pengiring gamelan yg dusukai rakyatnya setempat, juga sangat perhatian dg hidup kaum lemah, faqir miskin, para pengrajin dan nelayan. Beliau mempunyai sejumlah santeri yg dididik ajaran Islam di  psantrennnya yg terletak di atas bukit Muria, arah utara kota Kudus sekarang, sekitar 18 km. Beliau aktif membuka pelajaran Islam bersnuansa seni. Kesenian Islami ini digunakan utk mengenalkan ajaran Islam secara luas  di tengah kehidupan masyarakatnya. Beliaupun menciptakan beberapa tembang  diantaranya yg dikenal seperti tembang Sinom dan tembang kinanti yg sangat digemari masyarakat setempat. Kedua tembang ini menjadi lebih dikenal masyarakat Jawa.

8. Sunan Kudus, nama aslinya Jakfar Sodik. Beliau adalah putra Raden Usman Haji, yakni sunan Ngudung di Jipang Panulan. Utara kota Belora.

Berprofesi sebagai guru mengajar agama Islam dan menyebarkan ke penduduk setempat. Merupakan salah seorang kubarul auliya;  tokoh wali dan berpengaruh besar dikalangan petinggi kerajaan Islam Demak. Dijuluki  Syaikhul ‘Allamah, karena ilmunya luas, baik dalam vak ilmu tauhid, ushul, hadits peradaban dan ilmu mantik. Lebih khusus lagi dlm bidang ilmu fiqih. Karya tulisnya yg terkenal dalam ilmu peradaban, adalah dua karya;  Gending Mijil (lirik dan instrumen/ musi gamelan, dan tembang pangkur. Beliau berperan besar  menasehati kaum kerabat kerajaan Demak di Jipang, sewafatnya Pangeran Aria Penangsang untuk melakukan hijrah ke kuto Gawang; Palembang, guna menghindari pertumpahan darah yg lebih besar. Sunan Kudus wafat tahun 1560.M.

9. Sunan Gunung Jati. Muhammad Nuruddin disebut oleh umat dengan beberapa nama dan julukan.diantaranya; Sayid Kamil,Balqiya,Machdum Jati,Syekh Nurullah, Syarif Hidayatullah. Sumber lain mengatakan, nama aslinya Syekh Nuruddin Ibrahim bn Israil, Rohimahullahu Ta`ala. Dijuluki Suna Gunung Jati atau Fattahullah dan Falatihan,seperti sebutan orang-orang berbangsa Portugis.Semula mengenalkan (7) ajaran Islam ke penduduk yg berdiam di wilayah Barat provinsi Jawa Barat.dan daerah Sunda Kelapa yg sekarang dinamai Jakarta. Nama sebutan aslinya negeri Jayakarta, provinsi DKI Jakarta.Beliau memiliki ilmu agama dan masyarakat luas dan dalam.Dikenal salah seorang pejuang Besar.

Baca Juga:  Resmi Serahkan Dokumen  Pendaftaran Bacaleg ke KPU , PPP Sumsel Raih Status Lengkap Dengan Benar

Masa kecilnya menuntut imu di Pasai saat usia 20 th, menyadari Pasai dijajah Portugis yg sangat merugikan rakyat yg datang dari tanah pelabuhan besar  Malaka, setelah berhasil merampasnya pada tahun 1511.M. Beliau tak rela melihat fakta penjajahan ini. Lalu beliau meninggalkan Pasai menuju Hijaz; kota Makkah al Mukarromah. Selain untuk menambah ilmu agama Islam, dan bahasa Arab, juga menunaikan ibadah haji sekitar 3 tahun lamanya.

Sepulang dari tanah suci Makkah, masih menyaksikan Pasai dijajah bangsa Portugis. Beliau meneruskan di kota Demak. Masa ini Sultan ke-3 Demak dijabat Raden Teranggono (1521-1547). Beliau disambut dan dimuliakan para pembesar kerajaan Demak .Pada masa Sultan Raden Fatah,  Patih Unus putra Mahkota hingga menjabat Sultan Demak ke-2 (1518-1521) wilayah kekuasaan Demak luas sekali. Demak memiliki armada dan pasukan AL. Pernah menyerang Malaka, namun gagal. Karena itu, Sunan Gunug Jati   ke Dmak minta dukungan Sultan Tranggono mengusir bangsa Portugis yg menjajah Sunda Kelapa dan wilayah Jawa Barat yg amat luas. Perjuangan beliau berhasil. Maka dinobatkan Sunan, karena dimuliakan penduduk setempat. Kemudian dijadikan saudara, dan dinikahkan dengan adiknya (adik Raden Treanggono)  yang cantik dan cerdas disebut Kisah. Setelah dinikahkan, diutusnya mengurus rakyat di wilayah Banten.

Menjadikan Sunda Kelapa merdeka, maka Sunan Ggunung Jati menyerang para kepala kapal/ Nakodanya, yg tersandar di sepanjuang pantai Sunda Kelapa 1526.M. Lalu memerangi Fransisco De Sa dan mengusirnya kembali ke malaka 1527.M.   Kemudian merebut Cirebon tahun 1528.M. Mengembangkan kekuatan armada laut Demak dan membangun sarana perhubungan sepanjang sungai dan pantai utara Jawa dari Sunda Kelapa ke Banten hingga ke Jawa Barat. Dari Cirebon, Demak hingga ke Gresik, untuk melancarkan pengiriman hasil kekayaan sumber daya alam ke berbagai daerah.  Masa itu, masih dibawah kekuasaan Demak semua.

Baca Juga:  ACT Sumsel Gelar Operasi Pangan Gratis Sasar Masyarakat Prasejahtera

Sewafatnya sultan Demak ke-3 Raden Tranggono tahun 1547. Terjadi perebutan tahta kerajaan diantara keluarga dalam, antara Adipati Pajang, Adi Wijaya dengan Adipati Jipang, Aria Penangsang,  Peristiwa berdarah dalam rebutan tahta kerajaan ini membuat diri Sunan Gunung Jati uzlah/ tak mau ikut campur. Wafat di Cirebon, tahun 1570.M.

 

Sebagaimana para Sunan lainnya, Sunan Gunung Jatipun mendirikan masjid dan Psantren. Para penuntut ilmu datang dari berbagai penjuru Nusantara ke Cirebon, termasuk dari negeri Cina. Karena hubungan kerajaan Demak masa itu dengan dinasti Ming terjalin baik, Santri yg telah cakap, diizinkan pulang ke desanya masing-masing untuk membina masyarakat ditempat kediamannya menjadi insan beriman dan bertaqwa pula, diantaranya pulang ke seluruh Jawa Barat, Banten, Kalimantan, Sulawesi,  dll.

 Makna Haul dan Menziarahi Para Wali/ Sunan

Agenda Haul, diisi dengan amalan –amalan mustahab/ sunnah seperti mengkhatamkan al Quran 30 juz, membaca kitab maulid, yasinan, tahlilan, do’a, dll,  untuk mengenang jasa para pendahulu dalam mengenalkan dan mengamalkan ajaran agama Islam, khususnya dalam mengislamkan para leluhur yang menziarahinya itu. Jasa besarnya itu diawali dengan penuh kesadaran tinggi akan tanggung jawab memikul amanah, seperti disabdakan Nabi Muhammad SAW. “ ballighuu ‘aani walau aayatan: sampaikan apa apa yg terjadi dari kehidupanku, walau sepenggal peristiwa”.  Amanat tersebut telah dilaksanakan mereka  penuh pengorbanan, mulai menuntut Ilmu dan berilmu, serta mengamalkannya penuh dengan tantangan dan hambatan pula, sehingga berbuah pencerahan. Pencerahan ini harus tetap dipelihara dan dirawat oleh generasi ulama sekarang, Terutama bentuk pengorbanan Jiwa raganya demi tegaknya Kalimatullahi hiyal Ulya itu seperti apa? Agar dapat diteladani dan diterapkan dalam kehidupan yg penuh tantangan sepanjang zaman, kalau sekarang karakter ulama` bisa mati terbunuh dg dg hoax. dll. Sabda Nabi Muhammad SAW sbb: (8)

Baca Juga:  Kadisdik Sumsel Izinkan Pelajar SMA/SMK di Wilayah Zona Kuning dan Hijau Belajar Tatap Muka

كلمة الله هي العليا، فهو في سبيل الله- عن ابي موسى الاشعري رواه البخاري و مسلم

“ Siapa –umatku- yg memerangi – keadaan yg belum baik; kemiskinan, kebodohan, dll – untuk meluhurkan ajaran agama Islam, maka dirinya adalah pejuang di jalan Allah”. Hadits riwayat Imam Bukhoey dan Muslim dr sahabat Abi Musa al Asy’ary. Tafsir Ibnu Katsir.juz 1. Hal 227. Mesir. 1356/1937.

Juga tercantum dalam surat Yasin/36: 12, dan surat al Baqoroh/2:154.

“sesungguhnya Kami Menghidupkan orang-orang mati, dan Kami menuliskan apa yg telah mereka kerjakan dan bekas-bekas yg mereka tinggalkan. Dan segala sesuatu Kami kumpulkan dalam kitab Induk yang nyata.” )

“Janganlah kamu katakan mati, orang-orang yg terbunuh pada Sabilillahi (jalan Allah) namun mereka hidup, tetapi  kamu tiada ingat.” Al Baqoroh/2: 154.

Adapun rangkaian ziarah, didorong oleh Sabda Nabi Nabi Muhammad SAW.

حديث بريدة  قال رسول الله ﷺ: كنت نهيتكم عن زيارة القبور فزوروها، رواه مسلم

Aku pernah melarang kalian menziarahi kubur, sekarang ziarahilah. .

عَنْ ابْنِ عُمَرَ، أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: «اذْكُرُوا محاسن مَوْتَاكُمْ، وَكُفُّوا عَنْ مَسَاوِئِهِمْ»h

Dari Ibnu Umar bahwa Rasulullah shalallahu alaihi wasallam bersabda: “Sebutlah kebaikan orang-orang yang telah wafat di antara kalian dan cegahlah untuk menyebut keburukan mereka” (HR Tirmidzi)

Wallahu a’lam bis showab. Smg bermanfaat utk saudaraku yg sepaham. Amin ya Robbal  ‘aalamiin(9). #

 

 

 

 

 

Komentar Anda
Loading...