Universitas Katolik Musi Charitas Gelar Kuliah Umum dan Bedah Buku Aldera

PALEMBANG, BP – Universitas Katolik Musi Charitas (UKMC) menggelar Kuliah Umum dan Bedah Buku ALDERA yakni Potret Gerakat Politik 1993-1999, di Universitas Katolik Musi Charitas Palembang, Jumat (2/12/2022).
Kegiatan ini menghadirkan salah satu pelaku sejarah gerakan politik kaum muda dan kini tengah bertugas dan diberi tanggung jawab dengan menjabat sebagai anggota VI BPK RI, Dr. Pius Listrilanang, S. I, MSi., CFrA, CSFA.
Buku Aldera ini sendiri pun ditulis oleh Teddy Wibisana, Nanang Pujalaksana, dan Rahari T. Wiratama, dengan mendatangkan narasumber yakni Kemas Khorul Mukhlis selaku Direktur Lintas Politika Indonesia, dan Dr. M. Husni Thamrin, M. Si selaku Kajur Ilmu Komunikasi FISIP Unsri yang dimoderator oleh Mickey.
Dr. Antonius Singgih Setiawan, SE., M. Si selaku Rektor Universitas Katolik Musi Charitas dalam sambutannya menyampaikan, kegiatan ini diadakan guna menceritakan kepada pemuda pemudi khusunya mahasiswa mengenai sejarah pergerakan bangsa dan menjadikan pergeralan tersebut sebagai inspirasi dan semangat perjuangan yang akan terus dilakukan hingga akhir hayat.

“Kegiatan hari ini adalah untuk merefleksikan diri. Harapannya agar teman-teman mahasiswa yang keadaanya sudah baik akan semakin lebih baik dan dapat tetap berjuang serta kokit sehingga mendapatkan kehidupan yang lebih baik kedepan,” ujar Antonius dalam sambutannya.
Sementara itu Dr. Pius Listrilanang, S. IP, M.Si, CFrA, CSFA, mengatakan, Aldera merupakan organisasi yang berperan penting dalam proses demokrasi di Indonesia. Diawali dengan perjuangan para mahasiswa yang menghabiskan masa mudanya untuk memperjuangkan tujuan demokrasi tersebut.
Ia menghabiskan waktu yang cukup lama, berawal dari gerakan mahasiswa ini muncul diakhir tahun 80an yang dimulai dengan memperjuangkan kasus-kasus tanah dan sebaginya, serta mengorganisir gerakan mahasiswa sampai akhirnya tahun 93 sadar untuk harus bergerak cepat secara terpimpin dengan tujuan yang jelas yakni mewujudkan demokrasi.
“Aldera ini relatif sepi dari pemberitaan karena lebih banyak mengorganisir dibawah tanah, oleh karena itu saya pikir teman-teman aldera harus menulis sendiri sejarahnya agar di masa yang akan datang mereka tahu ada pemuda-pemudi yang menghabiskan masa mudanya untuk fokus memperjuangkan demokrasi tersebut,” ujarnya saat disinggung alasannya memperkenalkan Aldera secara luas ke masyarakat.

Narasumber M. Husni Thamrin dalam kegiatan bedah buku tersebut mengungkapkan bahwa buku tersebut menggambarkan kejujuran dengan menceritakan sejarah secara realitas. Terdapat tiga poin penting yang dipetiknya dalam buku ini yakni, pertama buku ini mengisahkan perjuanahan Pius dalam memperjuangkan keyakinan dan tujuannya, kedua, di buku ini diceritakan bagaimana pergerakan Aldera yang merupakan proses evolusi dari gerakan mahasiswa di zaman itu, dan yang terakhir buku ini menceritakan realisme sejarah dan politik di masa itu.
“Di sini saya simpulkan bahwa, kita boleh mempunyai idealisme sendiri tetapi bagaimanapun sejarah pada akhirnya juga yang menentukan, ada banyak hal yang kita duga itu tidak terjadi padahal telah kita pikirkan dengan matang, banyak hal yang mengkotasi cita-cita ideal akhirnya kita kembali kepada realitas itu sendiri,” ujarnya.
Menurutnya, di buku inilah arti demokrasi itu benar adanya, kita tidak bisa melakukan justifikasi bahwa semua yang kita lakukan sudah pasti benar. Karena demokrasi itu tidak boleh demokrasi tunggal bahkan oleh negara itu sendiri.
Di kesempatan yang sama, Kemas Khoirul Mukhlis berpendapat bahwa Aldera merupakan organisasi politik mahasiswa yang gencar bersuara dalam menyampaikan aspirasinya demi menghapuskan kemiskinan dan ketidakadilan di Indonesia.
Dikatakannya, mahasiswa dapat mengambil berbagai hal positif dalam perjuangan Pius memperjuangkan suara dan tujuan Indonesia, seperti menerapkan bahasa unjuk rasa demonstrasi seperti di zaman 90an tersebut.
Menurut Mukhlis, mahasiswa dan para pemuda pemudi saat ini menyalahgunakan bahasa unjuk rasa demontrasi tersebut.
“Kalau dulu unjuk rasa dilakukan apabila tidak tercapainya suatu dialog musyawarah, tetapi sekarang, orang ingin menyampaikan aspirasinya melalui unjuk rasa tanpa dilakukan dialod dan musyawarah dahulu. Saya berharap kita bisa kembalikan lagi bahasa unjuk rasa ini seperti dahulu,” katanya.
Ia mengatakan, tugas Aldera dalam merobohkan bangunan 32 tahun tersebut telah tuntas dan berhasil, kini para pemuda dan pemudi generasi saat ini diharapkan dapat menyelesaikan persoalan saat ini maupun kedepannya guna mencapai tujuan yang lebih baik dengan mengikuti jejak Pius yang berkomitmen memperjuangkan kebangsaan. #adl