Dua Kali Masjid Agung Palembang Tak Gelar Shalat Jumat, Yang Pertama Saat Perang Lima Hari Lima Malam

Syafruddin Yusuf
Palembang, BP
Masjid Sultan Mahmud Badarrudin I Jayo Wikramo atau biasa disebut masjid Agung Palembang meniadakan shalat Jumat mulai hari ini, Jumat (27/3).
Peniadaan shalat Jumat dan diganti shalat zhuhur di rumah masing-masing, terkait seruan bersama Pemerintah Kota Palembang, Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kota Palembang, dan Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Dewan Masjid Indonesia Kota Palembang tertanggal 26 Maret 2020.
Dalam seruan bersama itu yang ditandatangani Walikota Palembang H Harnojoyo, Ketua DPD Dewan Masjid Indonesia Kota Palembang, H Denu Priansyah, dan Ketua Umum MUI Kota Palembang, H Saim Marhadan, peniadaan shalat Jumat dikarenakan makin meningkatnya penyebaran virus Corona atau Covid-19 baik dari jumlah pasien maupun jumlah yang wafat.
Terkait kebijakan peniadaan shalat Jumat, pengurus Masjid Agung Palembang menutup seluruh akses masuk ke masjid terbesar di Kota Palembang ini.
Sebenarnya kejadian ini bukan kali pertama , Masjid Sultan Mahmud Badarrudin I Jayo Wikramo atau biasa disebut masjid Agung Palembang tidak menggelar shalat Jumat.
Hari Jumat, 3 Januari 1947 saat puncak perang lima hari lima malam di Palembang, Masjid Sultan Mahmud Badarrudin I Jayo Wikramo atau biasa disebut masjid Agung Palembang pernah tidak menggelar shalat Jumat.
“ Hari ketiga pertempuran perang lima hari lima malam itu Masjid Agung tidak menggelar shalat Jumat , karena hari ketiga itu pertempuran paling hebat waktu itu khan , daerah sekitar Masjid Agung khan pertahan dari beberapa laskar, kalau tentara Belandanya itu di arah Charitas, Lapangan Hatta,” kata , Jumat (27/3).
Apalagi daerah sekitar Masjid Agung memang saat itu menurutnya dikuasai oleh Belanda.
“ Karena itu waktu itu tanggal 3 Januari 1957 ,Masjid Agung tidak menggelar shalat Jumat, jangan lupo tanggal 3 hari Jumat itu Kapten Arivai , dulu pangkatnya Lettu, itu tertembak di daerah Boom Baru , maka itu Masjid Lawang Kidul juga tidak menggelar shalat jumat, karena juga daerah pertempuran, Masjid Lawang Kidul khan dekat Boom Baru, jadi tanggal 3 Januari 1947 ada dua masjid di Palembang tidak menggelar shalat Jumat yaitu Masjid Agung dan Masjid Lawang Kidul,” katanya.
Akibat peperangan tersebut banyak korban berjatuhan di sekitar Masjid Agung Palembang.
Selain Masjid Agung dan Masjid Lawang Kidul menurut Syafruddin memperkirakan ada masjid lain di kota Palembang terutama deket sungai.
“ Seperti Masjid Suro, kemungkinan tidak menggelar shalat jumat waktu itu karena disitu ada perlawanan juga, ada kemungkinan ya,” katanya.
“ Hari Jumat, tanggal 3 Januari 1947 Belanda juga melakukan pembakaran besar-besaran di rumah-rumah rakyat di daerah Limbungan sekarang jadi rumah susun, karena di Limbungan itu pusat Laskar Hisbullah Fisabililah dan laskar-laskar lain, dan bagi Belanda ini rumah-rumah ini dianggap markas maka di bakar Belanda,”katanya.
Dengan demikian menurut dosen sejarah Universitas Sriwijaya (Unsri) , ini dua kali Masjid Sultan Mahmud Badarrudin I Jayo Wikramo atau biasa disebut masjid Agung Palembang tidak menggelar shalat jumat, pertama saat hari jumat tanggal 3 Januari 1947 saat perang lima hari lima malam dan jumat , 27 Maret 2020 karena virus corona covid-19.
Masjid Agung menurutnya memang waktu itu menjadi lokasi pertahanan pejuang kalau dulu dikenal dengan jalan guru-guru.
Syafruddin mengakui kalau memang banyak korban tewas depan Masjid Agung Palembang dan baru aman hari keempat.
“Tiga hari itu gencar serangan Belanda, hari keempat kurang Belanda melakukan serangan , hari kelima itu mulai terjadi perundingan, dan tanggal 6 itu mayat-mayat depan Masjid Agung sudah bisa di ambil , karena tanggal 5 sudah gencatan senjata, waktu gencatan senjata itulah mayat-mayat itu bisa diambil, jadi kalau dia busuk wajar, khan 24 jam batas kita ini , itu sampai enam hari wajar kalau busuk,”katanya.
Sebelumnya perang Lima Hari Lima Malam di Palembang terjadi pada tanggal 1 hingga 5 Januari 1947.
Pertempuran Lima Hari Lima Malam di Palembang merupakan perang tiga matra dimana Belanda melibatkan kekuatan darat, laut, dan udara.
Belanda sangat berkepentingan untuk menguasai Palembang secara total karena tinjauan Belanda terhadap Palembang dari aspek politik. ekonomi dan militer.
Dalam aspek politik, Belanda berusaha untuk menguasai Palembang karena ingin membuktikan kepada dunia internasional bahwa mereka benar-benar telah menguasai Jawa dan Sumatera. Ditinjau dari aspek ekonomi berarti jika Kota Palembang dikuasai sepenuhnya maka berarti juga dapat menguasai tempat penyulingan minyak di Plaju dan Sei Gerong.
Selain itu, dapat pula perdagangan karet dan hasil bumi lainnya untuk tujuan ekspor. Sedangkan jika ditinjau dari segi militer, sebenarnya Paskan TRI dan pejuang yang dikonsentrasikan di Kota Palembang merupakan pasukan yang relatif mempunyai persenjataan yang terkuat, jika dibandingkan dengan pasukan-pasukan di luar kota.
Selain itu korban yang tewas dalam perang tersebut sangat banyak.
Perang ini berawal insiden yang terjadi pada 1 Januari 1947 karena Belanda melanggar garis demarkasi di sekitar benteng yang kemudian melakukan penembakan-penembakan. Akhirnya pihak TNI dan pejuangpun mengadakan pembalasan sehingga kota Palembang menjadi panas.
Berdasarkan perundingan dengan badan-badan perjuangan, kemudian diputuskan untuk mencegah Belanda menguasai Palembang harus diadakan serangan langsung kepada pertahanan Belanda antara lain, Rumah Sakit Charitas, Gedung Borsumij, 13 Ilir, Boombaru, Handelsaken, 28 Ilir, Talangsemut, Baguskuning, Plaju dan Benteng.
Serangan hari pertama dan kedua berjalan baik tapi dalam serangan hari ketiga Belanda telah mengerahkan seluruh kekuatannya baik darat, laut maupun udara.
Akhirnya pada 5 Januari 1947 ada perintah penghentian tembak menembak dari Panglima Divisi Garuda II Bambang Utoyo dan Gubernur Sumatera Selatan Dr. A.K. Gani. Gencatan senjata pun dilangsungkan pada 6 Januari 1947 mulai pukul 06.00 (pagi). Seluruh pasukan bersenjata diperintahkan mundur sejauh 20 km dari batas kota Palembang. #osk