Buluh Sebatang, Tehnik Penyajian Makanan Khas Palembang Yang Makin Terlupakan

448
BP/DUDY OSKANDAR
Nampak tradisi buluh sebatang usai acara Sultan Mahmud Badaruddin (SMB) IV , Djayo Wikramo, RM Fauwaz Diraja SH Mkn menggelar acara zikir ratib Samman bersama Majelis Dzikir Ratib Samman jamaah Masjid Sultan Agung, 1 Ilir, Palembang, Selasa (29/1) pimpinan Ustad Ahmad Fauzi Bin KH Abdullah Zawawi Idzom.

Palembang, BP

Buluh Sebatang, merupakan kebudayaan khas daerah Palembang yang mesti terus di jaga dan dilestarikan sayang tradisi lambat laun mulai terlupakan dan banyak masyarakat Palembang tidak tahu dengan tradisi ini.
Hal tersebut nampak tradisi buluh sebatang usai acara Sultan Mahmud Badaruddin (SMB) IV , Djayo Wikramo, RM Fauwaz Diraja SH Mkn menggelar acara zikir ratib Samman bersama Majelis Dzikir Ratib Samman jamaah Masjid Sultan Agung, 1 Ilir, Palembang, Selasa (29/1) pimpinan Ustad Ahmad Fauzi Bin KH Abdullah Zawawi Idzom.
Para jemaah langsung duduk berkeliling dan berhadapan sambil memakan kue dan tekwan dengan tehnik penyajian makanan buluh sebatang.
Buluh sebatang adalan tehnik penyajian makanan pada suatu tempat, berkumpul banyak orang duduk bersila tanpa kursi dan meja sambil berkomunikasi, bercengkrama sembari menyantap hidangan berbagai makanan khas daerah Palembang.
Secara umum tehnik penyajian makan khas Palembang ada tiga jenis, pertama hidangan, kambangan dan bulu sebatang.
“ Kalau hidangan biasanya makan nasi, kalau buluh sebatang sama kambangan itu makan kue tekwan, kalau yang kambangan tadi dilakukan saat perayaan , kalau kawinan di hari disenin, nah itu untuk ibu –ibu, nah yang acara ratib Samman di Rumah Adat Kesultanan Palembang Darussalam ini yang ikut bapak-bapak biasanya ,” katanya sejarawan Sumsel Kemas Ari Panji usai acara Sultan Mahmud Badaruddin (SMB) IV , Djayo Wikramo, RM Fauwaz Diraja SH Mkn menggelar acara zikir ratib Samman bersama Majelis Dzikir Ratib Samman jamaah Masjid Sultan Agung, 1 Ilir, Palembang, Selasa (29/1) pimpinan Ustad Ahmad Fauzi Bin KH Abdullah Zawawi Idzom.
Kalau makan kue dan tekwan menurutnya itu adalah tradisi makan buluh sebatang,” Dikatakan buluh sebatang itu makannya manjang ada istilah lain buluh sebatang manjang, maksudnya itu yang makan berbaris panjang, bila diperlukan barisannya bisa lebih dari satu bisa buat dua atau tiga jalur, artinya tiap jalur bisa 20 sampai 30 orang , kalau penyajiannya sama ada pramusajinya atau ngobeng , ngobeng itu berlaku semua,” katanya.
Untuk penyajian makanan menurut Kemas Panji bagian tengah kue manjang kelilingnya bisa tekwan, bisa model tergantung tuan rumah namun kebanyakan tekwan dan model.#osk

Komentar Anda
Loading...