Kharisma Bukit Siguntang, Sang Mahameru Hilang

Plt Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Provinsi Sumatera Selatan (Sumsel) Aufa Syahrizal, S.P, M.Sc saat menjadi pemateri dalam dialog sinergitas pelestarian nilai budaya Provinsi Sumsel , Rabu (24/7) di Hotel Garuda Mas, Palembang.
Palembang, BP
Plt Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Provinsi Sumatera Selatan (Sumsel) Aufa Syahrizal, S.P, M.Sc mengaku banyak memiliki pekerjaan rumah dari tahun lalu yang harus diselesaikan, namun menurutnya permasalahan yang terberat yang belum terselesaikan adalah masalah Bukit Siguntang.
Seperti diketahui para sejarawan dan arkeolog sebelumnya menyayangkan Bukit Siguntang telah dirusak oleh oknum pihak Pemerintah Provinsi (Pemprov) Sumsel atas nama kepentingan proyek pembangunan.
Bukit Siguntang atau kadang disebut juga Bukit Seguntang adalah sebuah bukit seluas 16 hektare di ketinggian 29-30 meter dari permukaan laut, terletak sekitar 3 kilometer dari tepian utara Sungai Musi, Kota Palembang.
Di area situs Siguntang ditemukan beberapa benda purbakala bersifat Buddhis masa Kerajaan Sriwijaya (abad ke-6-13 Masehi) dan makam leluhur orang Palembang. Dari benda-benda purbakala yang ditemukan, menunjukkan bahwa Bukit Siguntang adalah salah satu kawasan pemujaan dan keagamaan kerajaan.
Hal ini terlihat dari arca Buddha bergaya Amarawati (abad ke-2-5 Masehi) yang ditemukan pada 1920-an. Arca berbahan granit setinggi 277 senti meter tersebut disimpan di Museum Nasional, Jakarta. Di sana juga ditemukan fragmen arca Bodhisatwa, stupa, fragmen prasasti beraksara Pallawa, arca Kuweda, arca Buddha Wairocana.
“Pertama ada beberapa bangunan yang memang mengubah jati diri Bukit Siguntang, saya enggak tahu bagaimana ceritanya kok kenapa bisa dibangun seperti itu dulu, akhirnya saya di protes oleh budayawan, sejarawan bahkan orang Malaysia, Singapur protes dengan saya , arkeolog protes dengan saya tapi apalah kata, saya tidak bisa berbuat, pertama bangunan yang dibangun sekarang di Bukit Siguntang sampai detik ini belum diserahkan kepada Pemerintah Provinsi Sumsel,” kata Aufa saat menjadi pemateri dalam dialog sinergitas pelestarian nilai budaya Provinsi Sumsel , Rabu (24/7) di Hotel Garuda Mas, Palembang.
Menurutnya bicara bangunan baru di Bukit Siguntang , pihaknya tidak bisa merubah , bukan hak pihaknya , walaupun lahannya punya Pemprov Sumsel tapi bangunannya tidak bisa merubahnya karena belum ada serah terima ke Pemprov Sumsel setelah di rehab beberapa waktu lalu.
“Kalaupun mau merubahnya ada aturan lagi , undang-undang lagi, harus lima tahun dulu baru bisa dirobah, dibongkar , jadi untuk di pahami bersama Siguntang itu bukan kita tidak peduli dengan Bukit Siguntang, karena saya sekarang sudah proses sekarang, rupanya itu diminta surat oleh Balai di PU , nanti dari Balai itu mereka baru serahkan aset itu kepada Badan Aset Provinsi dari Badan Aset Provinsi baru menyerahkan kepada Dinas , instansi tehnis, kalau sudah diserahkan kepada kita baru kita punya kuasa nak kito apokan bangunan itu,” katanya.
Selain itu menurut Aufa, dirinya sudah mengirimkan surat kepada Kementrian PU PR minta izin penggunaan sementara , izin pakai, supaya bangunan di Bukit Siguntang bisa dimanfaatkan.
“ Alhamdulilah paling tidak sekarang sudah bisa digunakan untuk jadi kantor, dan ruangan lain untuk digunakan para seniman-seniman , seperti kemarin teman-teman dari seniman lukis untuk buat pamer, silahkan , tolong di rawat, jangan di rubah-rubah , dirawat saja, alhamdulilah, saya berikan kesempatan pada komunitas-komunitas generasi muda yang lainnya supaya memanfaatkan bangunan itu ,” katanya.
Aufa mengaku sedang memikirkan makam-makam yang ada di Bukit Siguntang yang banyak berubah.
“ Makam itu jadinya , nilai sejarahnya , nilai budayanya, nilai kharisma Bukit Siguntang sang Mahameru hilang dengan bangunan bangunan itu, dan Bukit Siguntang itu pernah agama Budha , mereka sering ibadah disitu, ada batu-batu besar tempat mereka ibadah, batu itu tidak ada lagi, dibongkar di gerus malah menjadi tempat air mancur , tidak ada hubungan sama sekali, saya enggak tahu desain kemarin gimana,” katanya.
Hal senada dikemukakan Kepala BPNB Sumbar, Drs. Suarman mengatakan, kalau Bukit Siguntang sudah dikenal dunia dan Bukit Siguntang menurutnya identitas melayu Sumsel.
“ Bukit Siguntang itu bukan dikenal di nusantara saja tapi dunia,” katanya.
Pihaknya mendukung upaya penyelamatan Bukit Siguntang yang dilakukan pihak Disbupar Sumsel dan memanfaatannya kedepan.
Sebelumnya Balai Pelestarian Nilai Budaya (BPNB) Sumatera Barat, Direktorat Kebudayaan Republik Indonesia berkerjasama dengan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Sumatera Selatan (Sumsel) menggelar dialog sinergitas pelestarian nilai budaya Provinsi Sumsel , Rabu (24/7) di Hotel Garuda Mas, Palembang.
Acara dibuka oleh Kepala BPNB Sumbar, Drs. Suarman dan hadiri Aufa Syahrizal, S.P, M.Sc selaku Plt Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Provinsi Sumsel , Dr. Dadang Hikmah Purnama, M.Hum, Dosen Antropologi Universitas Sriwijaya (Unsri), Rois Leonard Arios, S.Sos, M.Si selaku fungsional peneliti madya di BPNB Sumbar dan para undangan, baik dari seniman, budayawan, kalangan akademisi dan pers, perwakilan dinas kabupaten kota di Sumsel.
Sedangkan Ketua Pelaksana kegiatan dialog Sinergitas, Silvia Devi, S.Sos, M.Si, mengatakan berharap dalam kegiatan pelestarian nilai budaya ini semua stekholder terkait bisa lebih bersinergi, sebagaimana tujuan kegiatan ini.
“Tanpa adanya saling dukung dan kerjasama maka akan menjadi kerja berat bagi daerah dan lembaga2 terkait, namun akan menjadi ringan jika dilakukan bersama.” papar Silvia yang juga sebagai fungsional peneliti muda BPNB Sumbar.#osk