Kerajaan Sriwijaya Memerangi Kerajaan Kediri, Kesultanan Perlak dan Kerajaan Singasari
Demikian pula sultan-sultan yang ada di Sumatera bagian utara sejak berdiri kerajaannya. Tetapi ada kekhawatiran, sultan tersebut semuanya tidak suka berbakti kepada sang Maharaja Sriwijaya. Bukankah sultan yang ada di Sumatera bagian utara tersebut adalah pemeluk agama Islam. Sedangkan sang Maharaja Sriwijaya memeluk agama Budhayana. Oleh karenanya Sultan Parlak yaitu Sultan Makhdum Abdulmalik Syah ibnu Muhammad Amin Syah tidak mau berbakti dan tidak mau memberikan upeti kepada Maharaja Sriwijaya.
Sultan Abdulmalik sudah berkata, katanya, “Kerajaanku ini kelak akan menjadi merdeka tidak lagi berbakti kepada Maharaja Sriwijaya. Bersamanya Kerajaan Mesir dan Parsi, juga Kerajaan Ghujarat menjadi pemimpin kerajaan-kerajaan di Bumi Sumatera serta diberinya bantuan bagi sultan-sultan yang ingin melepaskan diri dari kekuasaan Kerajaan Sriwijaya. Pada akhirnya sang maharaja mendengar hal itu, kemudian murka tiada berkeputusan.
Oleh karena itu pada seribu seratus Sembilan puluh tujuh (1197) Tahun Saka, bala tentara Sriwijaya kemudian menyerang Sultan Parlak dan terjadilah pertempuran yang seru. Bala tentara Kerajaan Parlak kalah perang dan dikuasai.
Sedangkan Sultan Parlak gugur di medan perang. Bukankah pasukan Sriwijaya demikian besar semuanya tidak terhitung banyaknya. Meskipun Kerajaan Sriwijaya mendapat bantuan dari Maharaja (Cina) di antaranya yaitu senjata, perlengkapan perang, serta bermacam-macam barang, dengan tujuan untuk menjaga serangan musuh yang menyerbu Bumi Sriwijaya, tetapi kemudian Sriwijaya kalah perang melawan bala tentara Singhasari yang dipimpin oleh Senapati Kebo Anabrang pada tahun itu juga. Kemudian digantikan kisahnya sementara. Demikianlah.
Adapun Kerajaan Tumapel kemudian disebut Kerajaan 10 Singhasari pada waktu sang Prabu Jayawiçnuwardhana menjadi raja, banyaklah sahabatnya dari berbagai negeri. Beberapa di antaranya yaitu, Kerajaan Sunda di Bumi Jawa Barat dengan Kerajaan Melayu Dharmmasraya di Bumi Sumatera.
Kerajaan-kerajaan di Bumi Sanghyang Hujung, kerajaankerajaan di Tanjungpura, kerajaankerajaan di Bumi Bharata, Kerajaan Singhala, kerajaan di Bumi Ghaudi, beberapa kerajaan di Bumi Sopala, Kerajaan-kerajaan Syangka, Campa, Yawana, Tumasik, Singhanagari, Kerajaan Cina, dan banyak lagi yang lainnya. Raja Melayu Dharmmaçraya yaitu Sri Trailokyaraja Maulibhuçana Warmmadéwa gelarnya, memperistri Putri Raja Syangka.
Dari perkawinannya mempunyai anak beberapa orang. Tiga orang diantaranya masing-masing yaitu yang tertua di kemudian hari menggantikan ayahnya menjadi raja dengan gelar Tribhuwanaraja Mauliwarmmadéwa. Yang kedua perempuan, Dara Kencana namanya. Dan yang ketiga Dara Puspa namanya, serta masih ada beberapa lagi anak Raja Melayu ini.
Pada waktu Prabhu Kertanagara menjadi Rajamuda Singhasari memperistri Dara Kencana. Sedangkan Dara Puspa diperistri oleh Rajamuda Kerajaan Sunda yaitu Rakryan Saunggalah Sang Prabhu Ragasuci namanya. Dari perkawinannya, Prabhu Kertanegara dengan Dara Kencana lahirlah beberapa orang anak. Dua orang di antaranya yaitu Dara Jingga namanya dan Dara Petak namanya. Dari perkawinan Dara Puspa dengan Rakryan Saunggalah lahirlah beberapa orang anak, salah satu di antaranya yaitu sang Prabhu Citragandha Bhuwanaraja gelar kebesarannya, kelak menggantikan mertuanya yaitu Prabhu Ghuru Dharmmasiksa menjadi raja Sunda.
Pada saat sang Tribhuwanarajamauli Warmmadewa berkuasa di Kerajaan Melayu Dharmmaçraya, Maharaja Cina tidak berkeinginan menaklukkan kerajaan-kerajaan yang ada di pulau-pulau Bumi Nu santara. Seperti Kerajaan Melayu dan kerajaan kerajaan lainnya yang ada di Sumatera. Sedangkan Kerajaan Sriwijaya sebagai penguasa Sumatera bagian utara dijadikan sahabat oleh Maharaja Cina. Padahal sesungguhnya ada keinginan untuk mengalahkan dan menguasai Bumi Nusantara, menjadi raja segala raja.