Sriwijaya …….

Peta Kekuasaan Kerajaan Sriwijaya
“Semoga tenteram dan makmur ………… Pada tanggal 16 Juni 682 dengan mudah dan kegembiraan ia datang dan mendirikan perkampungan, dan jadi Śrīwijaya menang, perjalanan berhasil dan menjadi makmur seterusnya”.
Inilah catatan bersejarah paling lengkap, memuat hari-hari bersejarah bagi Dapunta Hiyaŋ yang mendirikan sebuah perkampungan dan sekaligus menjadikannya sebagai pusat pemerintahan Śrīwijaya. Lebih dari 13 abad kemudian, perkampungan yang dibangun itu telah berkembang menjadi sebuah kota besar yang kini bernama Plembang.
Bagaimana perkampungan itu terus berkembang menjadi besar? Perkembangan lokasi Plembang sebagai pusat pemerintahan Śrīwijaya lebih masuk akal kalau dianggap faktor setempat berupa jaringan komunikasi dan kegiatan lalu-lintas, tukar menukar informasi dan bahan dengan frekuensi tinggi sudah terbentuk lebih dahulu, dan sudah berhasil mendorong manusia setempat untuk maju. Lokasi Plembang di muara sungai-sungai Kramasan, Ogan, dan Komering menjadikannya Plembang sebagai pasar tempat memasarkan komoditi perdagangan dari daerah pedalaman. Lewat sungai-sungai itu komoditi perdagangan dibawa ke Plembang.
Berbeda dengan nama Majapahit yang melegenda di masyarakat Jawa Timur, atau nama Pajajaran yang melegenda di masyarakat Jawa Barat, nama Śrīwijaya bukan merupakan nama yang melegenda di masyarakat Sumatra Selatan. Artinya, nama kerajaan besar itu baru muncul di masyarakat setelah Cœdès mengumumkan hasil pembacaan Prasasti Kedukan Bukit pada tahun 1918. Bahkan ketika Kern membaca Prasasti Kota Kapur – prasasti Śrīwijaya yang pertama ditemukan di Pulau Bangka – pada tahun 1913 nama Śrīwijaya masih dianggap sebagai nama seorang raja, “Sri Wijaya”.
Setelah nama Śrīwijaya muncul sebagai nama sebuah kerajaan maritim yang lahir dan berkembang pada abad ke-7-12 Masehi, banyak pakar sejarah dan arkeologi secara intensif melakukan penelitian di daerah-daerah yang diduga kuat merupakan bekas wilayahnya. Hasil penelitian para ilmuwan ini menyimpulkan bahwa wilayahnya terutama terletak di pantai timur Sumatra dan menguasai Selat Melaka. Pusat pemerintahan pada awalnya terletak di Palembang (abad ke-7-10 Masehi), kemudian berpindah ke daerah Jambi (abad ke-12 Masehi).
Di Mana IbuKota Śrīwijaya?
Tidak diketahui dengan pasti, seberapa luas kota Śrīwijaya. Namun berdasarkan tinggalan budayanya yang ditemu¬kan di Plembang, bentuk, peruntukkan dan luas kotanya dapat direkonstruksi.
Lokasi permukiman penduduk kota Śrīwijaya dengan indikatornya berupa pecahan-pecahan keramik dan tembikar, tiang-tiang kayu sisa rumah kolong, sisa industri, dan sisa barang-barang keperluan sehari-hari ditemukan di daerah yang rendah di sepanjang tepian sisi utara Musi.
Di tempat yang agak tinggi di Palembang, ditemukan sisa-sisa tempat kegiatan upacara keagamaan dengan indikatornya berupa sisa bangunan bata, arca batu dan logam, manik-manik kaca dan batu, dan barang-barang keperluan upacara religi. Sisa bangunan suci tampak mengelompok di beberapa tempat agak jauh dari tepian sungai Musi.
Sebelum Śrīwijaya menjadi sebuah kota, Dapunta Hyaŋ Śrījayanāśa telah memikirkan pembangunan sebuah taman. Prasasti Talang Tuwo yang ditemukan di Talang Kelapa, berisi tentang pembangunan Taman Śrīksetra pada tanggal 23 Maret 684 Masehi.
Berbagai jenis tanaman yang buahnya dapat dimakan ditanam di Taman Śrīksetra, dan semua itu diperuntukkan bagi semua mahluk hidup.
Pada sekitar abad ke-7-8, berdasarkan tinggalan budayanya Śrīwijaya dapat dikatakan sebuah kota.
Masyarakatnya telah mengenal stratifikasi sosial, telah mengadakan perdagangan jarak jauh, telah mengenal pencatatan/administrasi, dan adanya bangunan fasilitas umum.
Prasasti Telaga Batu dari Palembang (abad ke-7) merupakan tanda bahwa di kota Śrīwijaya tinggal para pejabat kerajaan, panglima tentara, para penegak hukum, para saudagar, para tukang/pengrajin sampai dengan para tukang cuci kerajaan yang disumpah oleh Dātu Śrīwijaya.
Setelah Śrīwijaya mengalami kemunduran dan pusat pemerintahan dipindahkan ke Jambi (abad ke-13 Masehi), beberapa abad kemudian (abad ke-15 Masehi) di Palembang terjadi masa keko¬songan pemerintahan. Berbagai penguasa dari tempat lain men¬duduki Palem¬bang, misalnya Majapahit pada abad ke-14-15 Masehi. Bahkan pada abad ke-15 Palembang diduduki oleh bajak laut Chen Zuyi dari Nan-hai sampai akhirnya lahir Kerajaan Palembang-Islam (protektorat Mataram) dan terakhir Kesultanan Palembang Darussalam.
Sebagian sejarahwan dan purbakalawan menduga bahwa pusat Śrīwijaya ada di Plembang, dan sebagian lagi menduga ada di Jambi.
Pendapat serjana-sarjana ini tentu saja dianut oleh masyarakat tempatan yang fanatik kedaerahan.
Wong Plembang ngotot ada di Plembang. Begitu juga orang Jambi ngotot ada di Jambi.
Sebetulnya dua pendapat yang saling berseberangan itu ada benarnya. Yang mengatakan di Plembang benar, dan yang mengatakan di Jambi juga benar. Akan tetapi, keduanya tidak menyatakan kronologinya. Mistinya disebutkan Śrīwijaya awal sejak berdiri tanggal 16 Juni 682 hingga sekitar abad ke-10 lokasinya ada di Plembang. Kemudian, setelah abad ke-10 sampai masa keruntuhannya mengambil lokasi di Jambi.
Berkaca pada Śrīwijaya
Kita belajar arkeologi untuk merekonstruksi sejarah kebudayaan, dan belajar sejarah untuk merekonstruksi sejarah politik, ekonomi, sosial, dan budaya masyarakat di masa lampau. Belajar arkeologi dan sejarah bukan untuk kebanggaan atau gagah-gagahan bahwa dulunya nenek moyang kita hebat, sudah maju, dan sudah beradab. Kalau sudah gitu, lantas kita mau apa? Ya, mestinya setelah mempelajari itu kedepannya kita harus lebih baik, harus bisa mengisi segala kekurangan yang telah diperbuat nenek-moyang kita.
Beberapa waktu yang lalu dalam artikel DAPUNTA HYANG ŚRĪJAYANASA SUDAH LEBIH DULU MENCANANGKAN PENANAMAN POHON dengan pembangunan sebuah taman kota dua tahun setelah membangun perkampungan Śrīwijaya.
Taman kota ini dibangun di tempat yang tinggi dengan lembah sempit yang dialiri sungai. Tanaman yang ditanam pada taman kota adalah tanaman buah sehingga hasilnya dapat dimakan oleh semua mahluk hidup termasuk manusia dan hewan.
Informasi ini diperoleh dari Prasasti Talang Tuwo yang bertanggal 23 Maret 684 yang ditemukan di daerah Kecamatan Talang Kelapa, 4 km kearah baratlaut dari pusat kota Plembang. Sebuah penelitian arkeologis telah membuktikan bahwa di daerah tersebut yang kontur rupabuminya bergelombang lemah, terdapat sisa-sisa serbuk sari tanaman seperti yang disebutkan di dalam Prasasti Talang Tuwo.
Dari informasi prasasti dan hasil penelitian arkeologis membuktikan bahwa Dapunta hyaŋg sudah memikirkan penataan lingkungan kotanya, dimana rakyat tinggal di tepian sungai pada rumah kolong atau rumah rakit, para pejabat kerajaan tinggal di darat, bangunan suci ditempatkan di daerah yang tinggi, dan taman kota ditempatkan di hulu-hulu sungai yang bermuara di kota kerajaan.
Semua itu mengambil lokasi di sebelah utara sungai Musi, sedangkan di sebelah selatannya misih merupakan rawa-rawa dangkal.
Pelajaran lain yang dapat kita petik dari Śrīwijaya adalah rasa toleransi dalam kehidupan beragama.
Sebuah bukti arkeologis dalam bentuk sebuah arca batu menggambarkan toleransi tersebut.
Arca Bodhisattwa Awalokiteswara yang ditemukan di Situs Bingin Jungut pada bagian punggungnya terdapat prasasti yang berbunyi “Daŋ Accaryya Syuta”. Daŋ Accaryya adalah gelar seorang pendeta Hindu, Syuta adalah nama sang pendeta, dan Boddhisattwa Awalokiteswara adalah arca yang dipuja oleh penganut ajaran Buddha Mahayana.
Ini artinya, seorang pendeta Hindu memberikan persembahan atau hadiah kepada masyarakat pemeluk ajaran Buddha Mahayana.
Dalam kehidupan beragama, sebuah surat menyurat antara seorang maharaja Śrīwijaya yang tidak disebutkan namanya, menyebutkan pemberian hadiah kepada Khalifah Umar bin Abdul Azis, dan sekaligus mohon dikirim mubaligh untuk mengajarkan Islam di Śrīwijaya.
Ini artinya meskipun di Śrīwijaya sebagian besar masyarakatnya pemeluk ajaran Buddha Mahayana, namun agama dan ajaran lain diberi kesempatkan berkembang.
Boleh jadi pada sekitar abad ke-9-10 agama Islam sudah ada di Śrīwijaya sejalan dengan majunya intensitas perdagangan dengan Persia. Berita asing lain juga menyebutkan adanya Gereja Nestorian di daerah Barus. Nestorian adalah salah satu aliran Kristen yang berkembang di Persia (Iran/Irak), dan Barus adalah salah satu pelabuhan Śrīwijaya.
Hal lain yang dapat kita teladani dari Śrīwijaya adalah kedaulatan di laut.
Kalau pada masa kini kita melihat banyaknya kapal yang berlayar di perairan Indonesia –meskipun itu kapal Indonesia– tetapi berbendera asing seperti berbendera Liberia dan Panama.
Kalau kapal asing bolehlah, tetapi kapal Indonesia yang pemiliknya juga orang Indonesia, mengapa harus memakai bendera asing? Hal seperti ini tidak akan pernah terjadi di Śrīwijaya. Pada masa Śrīwijaya, para saudagar asing yang datang darimana pun, baik dari Tiongkok, India, atau Persia/Arab, kalau berdagang di wilayah Śrīwijaya harus menggunakan kapal Śrīwijaya. Barang-barang dagangan yang datang ke kota Śrīwijaya, sebelum dijual ke daerah lain di wilayah kedaulatan Śrīwijaya, harus dipindahkan ke kapal Śrīwijaya. Ciri dari kapal Śrīwijaya adalah dibuat dengan teknik “papan-ikat dan kupingan-pengikat”.
Bukti arkeologis ditemukan di dasar perairan Nusantara, sebuah kapal yang dibuat dengan teknik “papan-ikat dan kupingan-pengikat” sarat dengan muatan yang berasal dari berbagai bangsa, seperti keramik Tiongkok, kaca Persia, dan arca India. Ini artinya, bahwa kapal-kapal yang berlalu-lalang di perairan sebelah barat Nusantara setidaknya di wilayah kedaulatan Śrīwijaya adalah kapal yang “berbendera” Śrīwijaya.
Akhirul kalam, bagaimana mungkin sebegitu banyaknya data tentang kehadiran Kerajaan Śrīwijaya di dalam percaturan sejarah kebudayaan Indonesia, dikatakan bahwa Kerajaan Śrīwijaya fiktif.
, marilah kita belajar dari Śrīwijaya untuk kemajuan Indonesia ke depan (Arkeolog, Bambang Budi Utomo)