Ketua DPR RI: Orang Indonesia Suka yang Natural

27
Bambang Soesatyo

Jakarta, BP–Ketua DPR RI Bambang Soesatyo mengakui disrupsi dalam komunikasi politik membuat siapa saja bisa membangun persepsi di masyarakat. Jika tidak otentik, percuma saja karena  terus berpura-pura.

“Orang Indonesia suka  yang natural. Presiden Jokowi kalau posting foto meresmikan proyek, hanya  sedikit yang merespons. Kalau posting bersama keluarganya  pasti banyak yang suka,” kata Bambang Soesatyo dalam acara Tren 2018: Branding Otentik Tokoh Politik di Jakarta, Kamis (20/12).

 Bambang mencontohkan dirinya, setiap kali dia posting peresmian acara di akun Instagram miliknya, responsnya tidak terlalu banyak. Tapi, begitu dia post soal motor, banyak yang suka.

Baca Juga:  Anggota MPR Dukung Fatwa MUI Tingkatkan Partisipasi Pemilih

Bamsoet mengakui  tidak terlalu suka berpura-pura. Hobi motor gede dan mobil listrik tidak dia tutup-tutupi  agar terlihat sederhana di mata masyarakat. “Saya sewajarnya saja. Justru dengan saya apa adanya, banyak masyarakat yang mengajak  berkomunikasi. Dari situlah engagement positif saya tercipta,” katanya.

Di era disrupsi, lanjut Bamsoet,  pola komunikasi politikus sudah banyak berubah. Bahkan peran konsultan politik  mengelola percakapan di media sosial tidak terlalu sentral. Sebab, politikus sejatinya bisa mengelola sendiri.

“Saya melihat apa selera dan kebiasaan orang-orang yang menyukai post saya. Dari situ saya bisa membuat kesimpulan sendiri,” jelas Bambang.

Baca Juga:  Masa Transisi, 8 Pejabat Lubuk Linggau Terima SK Pelaksana Tugas

Dikatakan, modal engagement positif menjadi modalnya  mengelola komunikasi dengan masyarakat yang banyak mengeluhkan kinerja DPR. “Ada tiga isu yang saya hadapi di dewan. Korupsi, hanya sedikit RUU yang disahkan, sama anggota DPR yang malas,” katanya.

Untuk wakil rakyat yang kerap membolos, kata Bamsoet, tidak semua mangkir dari tugas. Biasanya mereka sedang  turun ke konsituennya. Bertemu masyarakat untuk menyerap aspirasi. Itu bukan membolos tapi juga bagian dari tugas mereka seperti diatur undang-undang.

Baca Juga:  Anak SD di Palembang Diundang Tawuran Sarung via Chat Medsos

Hal senada diungkapkan CEO Polaris Iman Sjafei. Menurut dia, branding tiap politikus berbeda. Tidak bisa main copy dan paste. Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini yang mencitrakan dirinya marah-marah ke bawahan. Orang tetap respek karena memang sudah jadi bawaannya untuk ngotot dalam pembenahan pelayanan publik.

“Zumi Zola (Gubernur Jambi) berusaha copy paste Risma. Ternyata malah dia yang mendapat citra negatif. Begitu juga Ridwan Kamil yang kerap menyindir jomblo dalam setiap unggahannya. Kalau ada politikus lain yang meniru bisa aneh. Nggak match,” paparnya. #duk

Komentar Anda
Loading...