Pelemahan Rupiah Jangan Digunakan Untuk Kampanye

Jakarta, BP–Anggota Komisi XI DPR RI Mohamad Misbakhun menegaskan, pelemahan rupiah terhadap dolar AS jangan digunakan untuk kampanye berlebihan di tahun politik menuju pilpres 2019. Karena akan merugikan seluruh rakyat.
Menurut Misbakhun, rupiah melemah disebabkan faktor eksternal (global) dan internal. Untuk internal karena terkait impor BBM sangat tinggi yang menyedot 26 miliar dollar AS per bulan. Atau 3 juta kilo liter BBM diimpor setiap hari.
“Yang pasti tingkat kepercayaan pasar khususnya pengusaha nasional dan internasional sangat tinggi pada Presiden Jokowi. Saya kira kalau bukan Jokowi preiden akan jatuh,” ujar Misbakhun di ruangan wartawan DPR, Jakarta, Kamis (6/9).
Karena tingkat kepercayaan investor dan pengusaha sangat tinggi, serta sentimen pasar positif, maka pelemahan rupiah tersebut masih lebih baik dibanding Turki, Argentina, India dan negara Eropa lain. Sehingga perekonomian Indonesia masih tumbuh dengan baik sekitar 5,2 persen.
Selain itu, kata dia, UU devisa Indonesia masih mengikuti rezim devisa bebas. “UU devisa ini punya peran besar pada fluktuasi rupiah dan valuta asing termasuk dollar AS sehingga bisa keluar-masuk seenaknya ke luar negeri. Makanya secara struktur harus diperbaiki,” tuturnya.
Dikatakan, Thailand dan Vietnam lebih baik dibanding Indonesi karena ekspor mereka surplus. Untuk itu, pemerintah terus melakukan perbaikan termasuk mengurangi impor bagi infrastruktur BBM.
Anggota Komisi XI Refrizal menyatakan, sejak lama dia sudah mengingatkan pemerintah, Menko Ekonomi, Menteri keuangan dan Bapenas bahwa membangun itu mudah sangat mudah. Cuma, uangnya dari mana? Dan jika membangun harus membuat kajian, apakah efektif atau tidak.
“Membangun itu penting, tetapi harus menggunakan skala prioritas serta bernilai ekonomis,” jelasnya.
Refrizal menilai, kebijakan pemerintah ini tidak simetris arahan presiden dengan beberapa Menteri. Misalkan, menteri perdagangan kerjanya mengimport saja, harusnya menteri perdagangan memperdagangkan barang Indonesia ke luar Indonesia.
Eva Sundari dari PDIP mengatakan, depresiasi rupiah karena kebijakan Trump, menaikkan suku bunga. Strategi ataupun kebijakan dari Amerika ini memukul emerging market sehingga yang mengalami depresiasi rupiah tidak hanya Indonesia tetapi sejumlah negara di dunia.
Dia berharap gejolak rupiah tidak sampai berkepanjangan. Kalau kemudian sampai Desember dan berdampak efisiensi, rasionalisasi sampai PHK, akan menjadi isu yang serius. #duk