Pelemahan Rupiah Jangan Digunakan Untuk Kampanye

25
Mohamad Misbakhun

Jakarta, BP–Anggota Komisi XI DPR RI Mohamad Misbakhun menegaskan, pelemahan rupiah terhadap dolar AS  jangan  digunakan untuk kampanye berlebihan di tahun politik menuju pilpres 2019. Karena akan merugikan seluruh rakyat.

Menurut Misbakhun, rupiah melemah disebabkan faktor eksternal (global) dan internal. Untuk internal karena  terkait impor BBM  sangat tinggi yang menyedot 26 miliar dollar AS per bulan. Atau  3 juta kilo liter BBM diimpor setiap hari.

“Yang pasti  tingkat kepercayaan pasar khususnya pengusaha nasional dan internasional sangat tinggi pada Presiden Jokowi. Saya kira kalau bukan Jokowi preiden akan jatuh,” ujar Misbakhun di ruangan wartawan DPR, Jakarta, Kamis (6/9).

Baca Juga:  Tiga Rumah di Ario Kemuning Terbakar

Karena tingkat kepercayaan investor dan pengusaha sangat tinggi, serta sentimen pasar  positif, maka pelemahan rupiah tersebut masih lebih baik dibanding  Turki, Argentina, India dan negara Eropa  lain. Sehingga perekonomian Indonesia masih tumbuh dengan baik sekitar 5,2 persen.

Selain itu, kata dia, UU devisa Indonesia masih mengikuti rezim devisa bebas. “UU devisa ini punya peran besar pada fluktuasi rupiah dan valuta asing termasuk dollar AS sehingga bisa keluar-masuk seenaknya ke luar negeri. Makanya secara struktur harus diperbaiki,” tuturnya.

Baca Juga:  Fraksi PKS: Perlu Komitmen Kuat Wujudkan Demokrasi Pancasila yang Substantif

Dikatakan,  Thailand dan Vietnam  lebih baik dibanding Indonesi karena ekspor mereka  surplus. Untuk itu, pemerintah terus melakukan perbaikan termasuk mengurangi impor bagi infrastruktur BBM.

Anggota Komisi XI Refrizal menyatakan,  sejak lama dia sudah mengingatkan pemerintah, Menko Ekonomi, Menteri keuangan dan Bapenas bahwa membangun itu mudah sangat mudah. Cuma, uangnya dari mana? Dan jika membangun harus membuat  kajian, apakah efektif atau tidak.

“Membangun itu penting, tetapi harus menggunakan skala prioritas serta bernilai ekonomis,” jelasnya.

Refrizal menilai,  kebijakan pemerintah ini tidak simetris arahan presiden dengan beberapa  Menteri. Misalkan,  menteri perdagangan kerjanya  mengimport saja,  harusnya menteri perdagangan memperdagangkan barang Indonesia ke luar Indonesia.

Baca Juga:  Tiga Pelaku Begal HP Ditangkap

Eva Sundari dari PDIP mengatakan, depresiasi rupiah karena  kebijakan Trump, menaikkan suku bunga.  Strategi ataupun kebijakan dari Amerika ini memukul   emerging market sehingga yang mengalami depresiasi rupiah tidak hanya Indonesia tetapi sejumlah negara di  dunia.

Dia berharap gejolak rupiah tidak  sampai berkepanjangan.  Kalau kemudian sampai Desember dan berdampak efisiensi, rasionalisasi sampai PHK, akan menjadi isu yang serius. #duk

Komentar Anda
Loading...