Syarat Bangun Boulevard di Ujung Jembatan Ampera

569

Ah, Saudara-saudara, kita menjalankan revolusi simultan dilapangan ekonomi, sosial dan lain-lain sebagainya, juga dilapangan masional, politik masional. Maka oleh karena itu saya amat bergembira sekali bahwa Saudara-saudara menyambut pidato Pak Achmadi tadi dengan semangat yang gegap gempita.

Kemarinpun sudah saya katakan bahwa meskipun kita mau berunding, tetapi toh kita bertekad bulat untuk memasukkan Irian Barat didalam wilayah kekuasaan Republik dalam tahun ini juga.
Sekarang ini sudah bulan April, tanggal 10. Kalau aku hitung, April, Mei, Juni, Juli, Agustus,

September, Oktober, November, Desember, tinggal 9 bulan lagi, Saudara-saudara.
Sebelum sembilan bulan ini lalu, Irian Barat harus sudah masuk didalam kekuasaan Republik. Ini perlu saya tegaskan sekali lagi. Kita sudah bersumpah, engkau sudah bersumpah kepada batinmu sendiri, engkau sudah bersumpah, engkau sudah bersumpah, engkau hai prajurit-prajurit sudah bersumpah, kita sekalian sudah bersumpah memasukkan Irian Barat kedalam wilayah kekuasaan Republik dalam tahun 62 ini juga.

Nah, tapi kita mau berunding. Begini Saudara-saudara, tempo hari tanggal 19 Desember tahun yang lalu saya memberikan Trikomando Rakyat atau Trikora. Pokok isi daripada Trikomando itu apa? Ya, Saudara-saudara tahu, sudah tahu semuanya, saya beri perintah kepada seluruh Angkatan Perang untuk siap sedia, setiap waktu kalau mendapat perintah untuk membebaskan Irian Barat.

Baca Juga:  Kisah Hj Anna Kumari yang Terus Lestarikan Tradisi Rebu Kasan di Kota Palembang

Kepada Rakyat juga. Satu: gagalkan Negara Papua. Dua: pancangkan Sang Merah Putih di Irian Barat. Tiga: mobilisasi umum akan kita laksanakan. Pokok, pokok, pokok arti daripada Trikomando ialah, bahwa kita harus membebaskan Irian Barat, bahwa kita harus menduduki Irian Barat, bahwa kita harus memancangkan Sang Merah Putih, Sang Dwiwarna di Irian Barat. Itu adalah pokok arti daripada Trikomando Rakyat. Didalam Trikomando ini, coba bacakan, tidak kuberitahu jalannya apa.

Tidak kukatakan harus Trikomando TNI, atau membebaskan Irian Barat ini, harus dengan perundingan. Tidak! Atau tidak pula tertulis disitu harus kita gempur dengan Angkatan Bersenjata. Tidak. Tidak. Cuma sekadar aku perintahkan: gagalkan “Negara Papua”, kibarkan bendera Sang Merah Putih di Irian Barat.

Baca Juga:  Ketua PN Palembang Kena Sanksi Penundaan Pangkat Satu Tahun

Pokoknya dua ini, tiga yaitu dengan mobilisasi umum dan lain-lain sebagainya, asal Irian Barat dalam tahun ini juga menjadi satu bagian kekuasaan defacto daripada Republik Indonesia. Jalannya macam-macam. Oleh karena itu Bapak berkata, kita memasukkan Irian Barat kedalam wilayah kekuasaan Republik tahun ini juga dengan segala jalan. Segala jalan itu apa? Ya segala.

Seperti itu tadi, tulisan tadi bagaimana bunyinya? “Dengan damai atau dengan kekerasan”. Itu segala, Saudara-saudara. Kalau bisa dengan jalan damai, ya dengan jalan damai, kalau harus dengan kekerasan, ya harus dengan kekerasan pula. Segala jalan, kataku, harus kita jalankan. Kalau misalnya mesti, umpamanya saya ketawa-ketawa, dengan misalnya saya de Quay atau Luns, – tahu tidak nama de Quay? Tahu tidak nama Luns?-kalau umpamanya bisa saya masukkan Irian Barat kedalam wilayah kekuasaan. Republik dengan, hmmm, ketawa-ketawa dengan de Quay, dengan Luns, akan saya jalankan itu Saudara-saudara.

Baca Juga:  Ketika Balaputradewa Tinggalkan Tahta Mataram dan Kembali ke Sriwijaya

Kalau kita memasukkan Irian Barat dengan jalan perundingan, insya Allah itupun harus kita jalankan. Asal tahun’62 Irian Barat masuk kedalam wilayah kekuasaan Republik. Tetapi sebaliknyapun kalau harus dengan hantaman senjata, kita tidak dengan tedeng aling-aling kita berkata: hayo kita gempur pihak Belanda di Irian Barat. Segala hal harus kita jalankan. Ha, memang sebagai dikatakan oleh Pak Achmadi itu, imperialisme itu kita tidak beri ampun, Saudara-saudara.

Kita malahan sudah terlalu lama memberi ampun kepada imperialisme di Irian Barat. Terlalu lama. Sekarang datanglah saat yang kita dalam tahun ini pula, tidak memberi ampun kepada imperialisme di Irian Barat.

Nah, ini pegang teguh ya! Bung Karno, katakanlah Bung Karno itu apa, entah Presidenkah, entah Panglima Tinggikah, entah Panglima Besar Komando Tertinggi Pembebasan Irian Baratkah, entah Pemimpin Besar Revolusikah, entah paling akhir ini dijadikan Panglima Besar Komando Tertinggi Ekonomi seluruh Indonesiakah, atau ya, sekadar Bung Karno, sebetulnya itu yang saya paling senang.

Komentar Anda
Loading...