Syarat Bangun Boulevard di Ujung Jembatan Ampera

569

Revolusi kita adalah juga satu revolusi kebudayaan, untuk merobah satu susunan kebudayaan kolot, feodal, kolonial menjadi satu kebudayaan Indonesia yang baru.
Malahan lebih daripada lima ini! Revolusi kita kataku, adalah juga satu revolusi untuk membuat satu macam manusia Indonesia baru. Manusia Indonesia itu Saudara-saudara, bukan yang baru, manusia Indonesia seperti yang sudah-sudah, hmm, badannya kecil-kecil, kerempeng-kerempeng. Ngerti tidak, perkataan kerempeng? Bukan manusia yang gagah, yang jiwanya tegap, tetapi manusia yang, kata orang Jawa: “Nun inggih”, “sumuhun dawuh”, kata orang Sunda.

Tidak, tetapi manusia yang jiwanya tegap, badannyapun, potongannya bagus-bagus. Ya, membikin satu jenis manusia Indonesia baru, dengan jiwa Indonesia yang baru pula.
Karena itu Bapak berkata, revolusi kita ini revolusi macam-macam revolusi, dikumpulkan dalam satu revolusi yang mahabesar.

Baca Juga:  SMB IV Prihatin Masih Banyak Mahasiswa Tidak Mengerti Sejarah dan Budaya Palembang

Bahkan pernah saya katakan, dengan mengejek Duta besar Sovyet Uni yang duduk disana itu, saya berkata bahwa revolusi Indonesia malahan lebih besar dan lebih luas daripada revolusinya Duta besar Sovyet Uni.

Lebih besar daripada revolusi Amerika. Amerika itu pernah berevolusi Saudara-saudara! Amerika itu pernah dijajah oleh Inggris. Kemudian dalam tahun 1776 mengadakan satu revolusi, melepaskan dirinya daripada penjajahan Inggris, sehingga Amerika menjadi satu negara yang berdiri sendiri. Tapi revolusinya itu cuma revolusi nasional saja. Hanya revolusi politik saja. Yaitu sekadar mengenyahkan kolonialisme Inggris dari bumi Amerika.
O, kita bukan, bukan cuma politik atau nasional saja. Tidak! Revolusi kita adalah revolusi yang luas, yang macam- macam. Dan hebatnya macam-macam revolusi harus kita jalankan serentak sekaligus bersama-sama.

Karena itu aku katakan revolusi Indonesia, didalam pidato saya kemarin pada waktu memperingati Hari Penerbangan Nasional: Revolusi kita adalah satu revolusi simultan. Sekali lagi: Revolusi kita adalah satu revolusi simultan. Harus serentak-sekaligus-bersama-sama, artinya sekarang ini kita menjalankan, ya revolusi nasional, ya revolusi politik, ya revolusi ekonomi, ya revolusi sosial, ya revolusi kulturil, kebudayaan, ya revolusi membuat manusia baru, ya revolusi didalam segala hal. Dan coba kita, misalnya saja sedang kita ini mengadakan perjuangan memasukkan Irian Barat kedalam wilayah kekuasaan Republik.

Baca Juga:  Komunitas Pecinta Ziarah Palembang Harap Semua Pihak Jaga Makam Bersejarah

Dalam pada kita menjalankan perjuangan itu, kita ya menambah produksi padi, kita ya mengadakan revolusi dilapangan kebudayaan, kita ya mengadakan revolusi dilapangan politik, kita ya mengadakan revolusi dilapangan sosial dan lain-lain sebagainya. Simultan! Nah, maka membuat jembatan Musi pun adalah satu unsur kecil daripada revolusi simultan itu tadi.

Karena itu harus kita tanggulangi, harus kita jalankan dengan semangat yang revolusioner. Jangan ngulerkambang kita membuat jembatan musi itu. Jangan kita setengah-setengah, jangan kita Senen-Kemis menjalankan jembatan Musi itu.

Baca Juga:  Menambah Khazanah Kesenian , Mini Album Daerah Palembang Karya  Wanda Lesmana Di Launching

Sebab harus kerja keras membanting tulang, memeras kita punya tenaga agar supaya 10 April 1964 selesai. Boleh potong ayam, boleh potong kambing, boleh makan ikan belida. Empek-empek boleh! Saya tidak tahu ini, yang menjalin pidato itu menjalin perkataan empek-empek itu dalam bahasa Inggrisnya apa. I think you cannot translate the word, “empek-empek”.

Tidak bisa disalin didalam bahasa Inggris. Disalin dalam bahasa Indonesiapun tidak bisa, apa lagi dalam Bahasa Jawa, atau bahasa Kalimantan, tidak bisa. Itu khas, khas bahasa Palembang, “empek-empek”.

Komentar Anda
Loading...