
Palembang, BP — Daerah Aliran Sungai Lumpur di pesisir tenggara Sumatra, ternyata kaya dengan situs-situs arkeologi. Sungai Lumpur bermuara di “Teluk Cengal” kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI) yang menghadap Laut Jawa.
Menurut mantan Kepala Balai Arkeologi (Balar) Palembang yang juga seorang arkeolog Nurhadi Rangkuti mengatakan, kalau tim arkeologi mencari bukti tentang adanya bandar pelabuhan abad ke-9 — 11 Masehi (masa berkembangnya perniagaan maritim Sriwijaya) di kawasan lahan basah tersebut.
“Puluhan situs yang terdapat pada ranting dan anak sungai Lumpur menyimpan artefak-artefak impor dari Cina dan Persia, berupa keramik, kaca, coin, dan manik-manik,” katanya, Rabu (25/10).
Menurutnya, Tiang-tiang bangunan tempat tinggal banyak ditemukan di sekitar sebaran artefak. Puluhan bangkai kapal kayu ditemukan di mana-mana. Juga ditemukan sisa-sisa dermaga kayu di bahu sungai Lumpur.
Bukti-bukti arkeologis bagi sebagian orang menurutnya, adalah harta karun. Banyak orang berburu harta karun sampai berminggu-minggu dan tinggal di tenda-tenda darurat bersama anak istri.

“Ketika berhasil mendapatkan barang berharga untuk dijual, penggali menancapkan bendera merah putih pada titik lokasi penemuan. Bagi mereka bendera merah putih adalah lambang rezeki dan keberuntungan. Sayangnya bukti-bukti arkeologis tersebut banyak yang tidak sampai ke tangan arkeolog dalam upaya untuk merekonstruksi peradaban masa lalu di pesisir tenggara Sumatra,” katanya.
Seperti hiasan telinga emas serupa dengan yang diterbitkan dalam buku Old Javanese Gold juga ditemukan di Sumatera.
“Ayo…gimana caranya menyelamatkan artefak-artefak tidak lari keluar negeri. Informasi artefak-artefak dibeli kolektor. Mendata artefak dari pemburu harta karun juga dapat memberikan gambaran kehidupan masa lalu,” katanya. #osk