Emporium Palembang 1950-an

(Penelusur Sejarah Palembang)
Oleh : Rd. Muhammad Ikhsan
(Penelusur Sejarah Palembang)
Enam puluhan tahun yang lalu geliat kota Palembang menuju kota dagang modern mulai terasa. Selain Jakarta, Semarang dan Surabaya, kota di tepian Musi ini mempunyai kedudukan yang mengemuka di lapangan masyarakat niaga di kepulauan Nusantara. Sejak berabad-abad silam. Ia sebuah pusat perdagangan, suatu emporium.
Tengok saja buku pelajaran sejarah dari tingkat sekolah dasar hingga sekolah menengah atas, niscaya menampilkan masa keemasan Sriwijaya sebagai kota pelabuhan dagang.
Pengakuan khalayak yang lebih dalam ditemukan pada banyak literatur sejarah. Di antaranya pada satu kesempatan mengantar buku yang berasal dari disertasi Dr Mestika Zed, Kepialangan Politik dan Revolusi Palembang 1900-1950, Audrey Kahin seorang penulis dari AS menyebut karakteristik geografi Palembang yang menonjol senantiasa karena lokasi stategisnya yang dicirikan oleh Prof OW Wolters sebagai “pesisir pantai Sumatera Tenggara yang menguntungkan”.
Dari tempat itu kerajaan Sriwijaya dapat meraih posisi puncak dalam perniagaan Asia Tenggara dengan Cina, India dan Timur Tengah mulai abad ke-7 sampai abad ke-11. Jaringan perdagangan yang membentang di sepanjang selat Malaka dari Sumatera bagian tenggara sampai semenanjung Malaya tetap sangat penting artinya hingga sekarang. Palembang selama paruh pertama abad ke-20 tidak hanya berfungsi sebagai jembatan politik antara pusat kekuasaan di Jawa dan berbagai pemerintahan daerah di Sumatera, tetapi juga barangkali jauh lebih penting jembatan ekonomi yang menghubungkan kehidupan perniagaan Singapura dengan Jawa dan Sumatera.
Pada masa itu pula, beberapa kota baru timbul, seperti Medan, Makasar dan Banjarmasin yang ikut di barisan depan di lapangan perdagangan dan pentas nasional. Palembang mempunyai coraknya tersendiri. Coraknya dalam pergaulan hidup, negara atau kota, umumnya diengaruhi oleh faktor geografis dan geopolitis. Faktor letak daerah, kekayaan alamnya, dan keadaan ekonomi politik di dalam kota dan sekitarnya. Inilah yang memengaruhi dan menentukan corak masyarakatnya.
Dalam tahun 1956, Palembang mempunyai jumlah penduduk sekitar 400 ribu orang. Dari angka perkiraan ini yang terdaftar berjumlah 285.348 orang. Sedangkan selebihnya tidak terdaftar. Penduduk yang tidak terdaftar umumnya penduduk datangan atau kerap disebut penduduk tumpang. Komponen penduduk ini terdiri atas pegawai atau buruh, anggota tentara dan polisi, serta pendatang lainnya dari luar daerah (wong daerah). Istilah terakhir ini dalam lafal wong Pelembang ditujukan ke masyarakat Sumsel lainnya yang berasal dari luar kota.
Cepatnya pertambahan penduduk pada masa itu dibandingkan sepuluh, dua puluh tahun sebelumnya disebabkan beberapa faktor. Menurut R.H.M. Akib seorang budayawan Palembang pada masa itu dalam buku yang ditulisnya tahun 1956 menyambut Perayaan Hari Ulang Tahun Palembang.
Pertama, karena cukup banyaknya mata pencarian. Kota Palembang yang acap disebut atau diberi juluk sebagai kota dagang, karena mata pencarian penduduk yang utama adalah berdagang. Mata pencarian cukup banyak, sehingga dari mana-mana orang datang dan pindah untuk bekerja di kota ini.
Kedua, adanya maskapai minyak di Plaju dan Sungai Gerong. Dua maskapai yang teretak sekitar 10 kilometer dari Palembang merupakan satu faktor “penyihir” yang tidak kurang pentingnya dalam proses pertambahan penduduk. Jika diingat , di kedua maskapai tersebut bekerja puluhan ribu buruh dan setiap tahun bertambah jumlahnya.
Ketiga, letak kota Palembang sebagai kota pelabuhan laut dan udara. Sebagai kota pelabuhan laut dan udara dia merupakan tempat lalu lalangnya pengunjung dari luar kota. Di pelabuhan Boom Baru setiap hari kapal ke luar masuk membawa barang dagangan dari Singapura dan Jakarta untuk ditukarkan dengan hasil-hasil bumi, terutama karet dan hasil hutan dari pedalaman Sumatera Selatan.
Pelabuhan udara Talang Betutu yang disebut sebagai pelabuhan nomor dua di Indonesia setelah Kemayoran Jakarta. Setiap hari ramai dengan penumpang yang datang dan pergi. Jadi letak kota Palembang yang strategis ini dapat disebut satu faktor penting pula.
Keempat, proses perpindahan penduduk dari desa ke kota. Setiap tahun puluhan ribu penduduk dari desa melakukan urbanisasi ke Palembang. Faktor yang mendorong berpindahnya penduduk di antaranya adalah dorongan perjuangan memertahankan kemerdekaan. Mereka memasuki lapangan ketentaraan, kepolisian atau lapangan perjuangan lain di kota.
Faktor lainnya karena alasan melanjutkan pendidikan. Selanjutnya masih menurut RHM. Akib, karena tarikan keadaan penghidupan di kota. Faktor psikologis seperti magnet ini tampak paling mengemuka. Bahwa kehidupan di Palembang lebih mentereng dan penuh hiburan ketimbang di dusun menjadi daya tarik tersendiri. Sebagai gambaran, pada era itu, paling tidak ada sembilan bioskop, yaitu Capitol, Initium, International, Lucky, Majestic, Merdeka, Persatuan, Rex dan Saga. Itu di dunia hiburan, belum termasuk magnet dunia bisnis lain.
Hal menarik pada saat itu, nama perusahaan perniagaan masih sangat variatif dan pekat dengan warna Tionghoa. Secara umum jenis komoditas yang diniagakan sangat bervariasi. Dari agen mobil, bahan bangunan, perusahaan penggesekan kayu, barang kelontongan, tukang penatu, perusahaan impor dan ekspor, perusahaan interensulair, hingga manisan sembako, makanan dan minuman. Jenis usaha pangan tersebut seperti pabrik limun, sarsaparila, kembang gula, perusahaan roti dan mi, serta tidak ketinggalan pabrik kecap.
Kini setelah lebih enam dekade berlalu, kota tercinta ini masih tetap dengan aroma dagang. Suatu aroma yang hendaknya menggugah semangat kita menjadikan Palembang sebagai kota niaga yang tertib sekaligus mencukupi kebutuhan masyarakatnya.*