Siuman, Rizki Panggil Mama
Palembang, BP
Setelah tak sadarkan diri selama lebih 10 jam di ruang Intensive Care Unit (ICU) Rumah Sakit dr Moehammad Hoesin, akhirnya Rizki Rahmat Ramadhan (11), bocah obesitas asal Palembang, siuman.
Begitu sadar, tak ada kalimat yang diucapkan Rizki selain kata ‘Mama’. Dengan nada sayu, bocah dengan berat badan 119 kilogram itu beberapa kali memanggil ibunya.
Salia, ibu Rizki, dengan cepat masuk ke ruang ICU. Ia tak sanggup menahan tangis karena Rizki yang merupakan anak laki-laki satu-satunya dari tujuh bersaudara pasangan Edi Hartono (44) dan Salia Sukiro (40), kembali sadar dari komanya.
“Ini Mama, nak. Ini Mama, nak. Ingat Mama, nak,” ucap Salia beberapa saat setelah Rizki sadar.
Pihak keluarga sempat cemas saat keluar darah dari mulut bocah kelas VI SD ini. Apalagi Rizki kemudian tak sadarkan diri. “Kami serahkan ke dokter. Kami ingin yang terbaik buat kesembuhannya,” ujar ayahanda Rizki, Edi Hartono, Sabtu (23/7).
Ia mengaku khawatir melihat putranya yang mengalami koma cukup lama. Padahal, saat dibawa ke RSMH, Rizki baik-baik saja. “Saat masuk itu sehat. Dan buat khawatir itu keluar darah dari mulutnya,” ucapnya.
Sementara itu, dr Julius Azhar Sp A (K), dokter spesialis anak dan gizi yang merupakan satu dari 10 dokter yang menangani Riski, mengatakan, keluarnya darah dari mulut Riski diduga terlukanya amandel akibat tersenggol selang ventilator yang dipasang untuk membantunya bernapas.
Dikatakan, penanganan mendesak saat ini adalah membuat Riski tidak lagi menderita sesak napas. Tubuhnya yang tiga kali berat orang normal, membuat pernapasannya sangat terganggu.
“Kemungkinan itu tersenggol amandelnya yang bengkak saat pemasangan selang ventilator. Memang keluar darah, tapi itu biasa dalam satu tindakan,” terang Julius.
Disinggung kenapa Rizki sampai tak sadarkan diri, menurut dia, itu diakibatkan suplai oksigen ke otak berkurang sehingga kesadaran menurun. Oleh karena itu dipasanglah selang ventilator.
Tim dokter belum sempat melakukan tindakan berupa pemasangan pembuluh balik (vena) untuk melancarkan peredaran darah ke jantung, lantaran belum mendapat persetujuan keluarga Rizki.
“Kita tidak pasang, karena katanya keluarganya belum menyetujuinya. Tapi Alhamdulillah, sekarang sudah sadar. Setelah normal, baru program penurunan berat badannya kita lakukan,” jelasnya.
Lebih lanjut ia mengatakan, tim dokter tidak akan serta merta melakukan penurunan berat badan Rizki secara drastis. Melainkan secara bertahap dengan target 1-2 kilogram perbulan. Hal tersebut mengingat kesiapan tubuh Rizki, psikologi dan kondisinya yang masih dalam taraf tumbuh kembang anak.
Dirinya menegaskan bahwa pasien harus berkomitmen dan disiplin jika ingin akselerasi penurunan berat badan. Sebab jika tidak, terapi yang dilakukan akan sulit membuahkan hasil. Minimal tentang pola makan, kebiasaan dan dukungan dari orangtua.
Mengenai asupan makanan, Julius sudah menerapkan pasien dengan asupan gizi 2100 kalori dari semula 4500 kalori. Kemudian keluarga harus tegas mendisiplinkan terkait pola makan. Misalnya, menurut Julius, keluarga menjaga Rizki ketika makan jangan di dekatnya.
“Harus komprehensif dan disiplin. Dan utamanya adalah komitmen dari pasien itu sendiri. Anak saya pernah melakukan itu. Bahkan bisa turun 25 kilogram selama empat bulan,” pungkasnya. # sug