Penurunan Tarif Angkutan Tekan Inflasi
Palembang, BP
Penurunan harga bahan bakar minyak (BBM) berdampak signifikan terhadap pengendalian inflasi di Sumatera Selatan dengan catatan harus diikuti dengan penurunan tarif angkutan.
Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Sumsel Yos Rusdiansyah mengatakan, inflasi pada April bisa saja lebih kecil dibanding bulan sebelumnya setelah ada kebijakan penurunan harga BBM.
“Biasanya kalau harga BBM turun tidak berdampak signifikan tetapi kalau diikuti dengan penurunan komoditas lain, seperti tarif angkutan mungkin inflasi bisa turun,” katanya, Senin (4/4).
Yos mengatakan, penurunan tarif angkutan itu seharusnya juga diterapkan untuk angkutan barang. Sehingga bisa membuat distribusi lancar. “Kalau distribusi lancar pasti akan berimbas pada pengendalian inflasi setelah adanya harga baru untuk BBM,” katanya. Kenaikan harga suatu komoditas sangat dipengaruhi faktor distribusi selain faktor permintaan.
Sementara itu, BPS Sumsel mencatat inflasi di Kota Palembang senilai 0,22% pada Maret 2016 yang dipengaruhi kenaikan harga pada kelompok bahan makanan. Komoditas yang memberi andil inflasi pada bulan lalu adalah cabai merah dan bawang merah.
“Ini memang tipikal inflasi di Sumatera yang mana harga cabai merah sering kali naik dan menjadi kontributor utama terjadinya inflasi,” katanya. Berdasarkan pemantauan terhadap 386 komoditas di Palembang, terdapat 87 komoditas yang mengalami kenaikan harga sedangkan 39 komoditas menurun.
Adapun kenaikan harga bawang merah pada bulan lalu mencapai 55,84% dengan andil inflasi tertinggi, yakni 0,31%. Sementara harga cabai merah naik sebanyak 24,35% dengan andil inflasi 0,14%.
Kenaikan harga pada bahan makanan juga menjadi penyebab utama terjadinya inflasi di Lubuklinggau. Kota Lubuklinggau mengalami inflasi sebesar 0,58% atau lebih tinggi dibanding Palembang. Namun demikian, kata dia, inflasi dua kota di Palembang tercatat masih terkendali dibanding kota lain di Sumatera.
“Lubuklinggau memang masuk peringkat kelima tertinggi di Sumatera Sementara Palembang berada di urutan ke-16,” katanya. Menurut dia, sebenarnya kecenderungan deflasi bisa terjadi jika PT PLN juga akan menurunkan tarif dasar listrik (TDL). Hal ini karena selama ini BBM dan listrik menjadi salah satu komponen penyumbang inflasi.
Dia menjelaskan, turunnya harga BBM bersubsidi itu bakal memberikan pengaruh yang cukup baik bagi daya beli masyarakat. Cost produksi juga ditaksir akan mengalami penurunan dibandingkan bulan-bulan sebelumnya. Dampak akhir dari kebijakan itu akan membuat harga-harga barang konsumsi menjadi turun.
“Kemungkinan terjadi inflasi rendah, tergantung efek multiplier terhadap harga komoditas. Sebab inflasi terutama yang disebabkan oleh penurunan BBM, itu akan berakibat ke produk-produk konsumsi, seperti produk-produk ritel maupun eceran,” katanya.
Kecenderungan akan terjadi deflasi lebih kentara mengingat sebelumnya Pertamina telah menetapkan harga baru untuk BBM non subsidi. Harga yang diturunkan untuk BBM non subsidi ini, telah mampu meningkatkan daya beli masyarakat.
Apabila BBM subsidi dan TDL juga diturunkan maka akan membuat daya beli masyarakat semakin meningkat lagi. “Karena komponen biaya produksi yang penting akan mengalami penurunan, sehingga mereka ada kecenderungan untuk menurunkan (harga produk), sehingga itu juga akan menurunkan tingkat inflasi,” katanya.
Kepala Bank Indonesia Kantor Perwakilan Sumsel Hamid Ponco Wibowo mengatakan, penurunan harga premium dan solar sebesar Rp500 akan memberikan dampak positif, yakni terjaganya tekanan inflasi. “Dampak langsung akan terjadi pada penurunan inflasi pada kelompok administered prices,” katanya.
Ponco mengatakan, untuk jangka panjangnya jika penurunan BBM ini akan diikuti oleh penurunan tarif angkutan umum (angkutan penyeberangan, kereta, dan darat ) sesuai dengan imbauan Menteri Perhubungan maka penurunan inflasi akan lebih signifikan.
Menurutnya, penurunan harga BBM ini dilakukan karena turunnya harga minyak dunia. Melemahnya harga minyak dunia secara terus menerus dapat meminimalisir besaran inflasi hingga di bawah 4 persen. “Lihat harga minyak kalau bisa ya lebih rendah dari rata-rata 40 dolar AS per barel itu sangat mungkin membuat inflasinya lebih rendah dari 4 persen. Jadi simulasi itu tergantung harga rata-rata minyaknya,” katanya.#ren