Harga Kebutuhan Pokok Masih Tinggi
Palembang, BP
Kendati sudah ada penurunan harga untuk bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi, harga kebutuhan pokok di Kota Palembang masih tinggi. Demikian terpantau harga beras, di sejumlah pasar tradisional di Kota Palembang. Baik harga beras bermerek maupun beras curah.
Pedagang beras di Pasar Cinde, Sulistia (32) mengatakan harga beras lokal secara rata-rata masih tinggi, kendati sempat ada penurunan sedikit hingga kin belum ada informasi penurunan ladi dari distributor.
Kisaran harga beras curah untuk kelas baik mencapai Rp10.500/kg, sementara harga beras bermerek 20kg mencapai Rp198.000 hingga Rp202.000.
“Seperti beras Topi Koki, harga sebelumnya pernah mencapai Rp196.000 untuk ukuran 20kg di awal tahun, namun harga terus merangkak naik mencapai Rp200.000,” katanya.
Demikian dikatakan, Surya (30) pedagang di Pasar 16. Kenaikan harga memang sudah terjadi sejak di awal tahun, sempat ada penuruanan sedikit, namun hingga kini belum ada penurunan lagi. Sementara untuk ditribusi tidak ad masalah.
Demikian dikatakan pedagang ayam potong, saat ini per kg mencapai Rp30.000. “Kalau daging ayam masih tinggi, sempat turun sekitar Rp28.000/ kg, tapi saat ini naik lagi,” kata Sunarto, pedagang di Pasar Cinde.
Tidak hanya daging ayam, bawang merah dan cabai saat ini masih tinggi. Jika bawang merah mencapai Rp45.00/kg, sedang cabai saat ini Rp40.000/kg. Harga ini sempat turun, harga ini masih tinggi.
“Hingga pekan lalu, cabai dan bawang masih tinggi, dan belum ada penurunan lagi,” kata pedagang sayur di Pasar Pagi Pahlawan, Atun.
Ketua Asosiasi Pengusaha Retail Indonesia (Aprindo) Sumsel Hasannuri mengatakan, meski tidak terlalu signifikan namun kebijakan penurunan bahan baker bersubsidi telah memberikan angin segar bagi tren peningkatan konsumsi masyarakat.
“Penurunan harga BBM diyakini akan membuat daya beli masyarakat meningkat. Penurunan harga BBM ini akan memberikan kesempatan bagi masyarakat untuk mengalihkan pengeluarannya dari bahan bakar ke sektor konsumsi,” katanya.
Dijelaskan, target pertumbuhan ritel tahun ini hingga 10-15 persen diperkirakan akan mampu tercapai. Daya beli masyarakat menjadi factor yang dapat menentukan keberlangsungan industri ritel.
Ekonom Sumsel, Prof Bernadette Robiani berpendapat secara umun, jika penurunan harga bbm bersubsidi ini tidak diikuti dengan penurunan harga angkutan umum, maka untuk jangka pendek penurunan bbm ini tidak akan berpengaruh besar. Khususnya pada inflasi sebab tarif angkutan menjadi salah satu faktor perhitungan inflasi
“Tapi, dari sisi lainya kebijakan ini akan dapat meningkatkan daya beli konsumennya. Karena akan ada selisih dari pengeluaran konsumen terhadap kebutuhan bahan bakar. Dengan demikian, selisih tersebut tentunya dapat dialokasikan untuk kebutuhan lainya,” kata dia.
Apabila harga premium dan solar turun lebih dalam lagi, daya beli masyarakat tentu dapat melonjak serta berdampak pada pergerakan ekonomi. Pengaruh penurunan BBM memang diproyeksikan dapat menurunkan inflasi tahunan, yang semula diprediksi 5 persen menjadi 4,5 persen.
“Penurunan BBM ini lebih banyak ke dampak turunannya berupa inflasi yang lebih terjaga dengan penurunan biaya produksi,” jelas dia. #ren