Karhutlah Pengaruhi Produksi Sawit
Palembang, BP
Kondisi cuaca kemarau dan kebakaran hutan dan lahan (karhutlah) pada 2015 cukup berdampak pada jumlah produksi kelapa sawit di Sumatera Selatan. Pada 2016 ini, produksinya turun terbilang cukup banyak hingga 15 persen.
“Produksi kelapa sawit tahun ini dipengaruhi oleh musim pada tahun lalu, karena musim kemarau dan asap menyebabkan bunga pohon sawit tidak berkembang dan musim panas. Ini menyebabkan produksi turun 10-15 persen,” kata Sekretaris Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit (Gapki) Sumsel Harry Hartanto, Rabu (30/3).
Ia mengatakan produksi kelapa sawit dalam bentuk CPO tergantung pada produksi Tandan Buah Segar (TBS) yang dihasilkan langsung dari pohonnya. “Jumlah produksi tahun lalu 3,2 juta ton Crude Palm Oil (CPO), jika tahun ini kondisi tetap masih sama kemungkinan untuk naik menjadi 3,4 juta ton itu tidak tercapai, bisa jadi bertahan di angka yang sama,” katanya.
Menurutnya, pihaknya cukup optimis produksi akan meningkat. Termasuk pasokan sawit dari perkebunan terluas di Sumsel, yakni Muba, OKU, dan Mura. Produksi yang turun ini, di sisi lain juga memberikan keuntungan bagi petani.
“Harga sawit menjadi cukup tinggi di kalangan petani sawit, saat ini sekitar Rp1.546 /kg, bahkan pernah harganya mencapai di bawah Rp1000. Namun tetap tak cukup membantu petani, kuantitas sawit yang dijual pun sangat minim,” katanya.
Menurutnya, upaya yang harus dilakukan agar produksi lebih tinggi adalah peremajaan bibit yang lebih bermutu. Dari 1 juta lahan perkebunan sawit di Sumsel, 45 persennya merupakan milik petani swadaya dan plasma. Sehingga saat harga dan produksi tidak bersahabat, akan terasa dampaknya.
Sementara itu, Wakil Ketua Asosiasi Petani Kelapa Sawit Indonesia (Apkasindo) Sumsel Tohari, mengatakan, produksi kelapa sawit terutama milik petani swadaya masih sangat minim. “Dalam satu bulan produksi kelapa sawit per hektar (Ha) hanya 2 ton atau 20-24 ton per tahun. Hal ini jauh berbeda dengan Malaysia yang bisa mencapai 3 ton per bulan atau 36 ton per tahun,” katanya.
Ditambahkannya, Sumsel kalah jauh dari wilayah itu. Hal ini karena petani swadaya kalah dari sisi bibit, perawatan, pupuk dan juga karena petani swadaya kurang pengetahuan tentang perawatan sawit. Kecuali petani plasma yang memiliki bibit terjamin dari perusahaan. #pit