Muratara, Sudah Kebanjiran, Gelap Gulita Pula

14

3003.01.kaki.hasBanjir di Kabupaten Muratara merupakan yang terparah dalam 10 tahun terakhir. Dampaknya sangat berat. Sebanyak 12 jembatan gantung putus, ribuan rumah penduduk terendam, siswa pun terpaksa diliburkan.

SUNGGUH memprihatinkan nasib warga Kabupaten Muratara. Kabupaten termuda di Provinsi Sumatera Selatan itu sudah darurat banjir. Pantauan di lapangan, tepatnya di Kecamatan Muara Rupit, ketinggian air memang mulai surut, namun ribuan rumah masih terendam. Warga pun masih mengungsi ke rumah sanak keluarga.

Sejumlah sekolah dan fasilitas pelayanan publik, seperti kantor BPMPD, Disdukcapil, dan Kantor PU serta satu kantor bank swasta tak luput dari terjangan banjir. Meskipun terendam, pelayanan publik tetap berjalan seperti biasa, kecuali sekolah-sekolah yang terpaksa diliburkan.

Informasi yang dihimpun, saat ini lima kecamatan kondisinya terisolir, yakni Kecamatan Rawas Ilir, Karang Dapo, Rupit, Rawas Ulu, dan Karang Jaya. Ini lantaran jalan penghubung utama menuju ibukota kabupaten lumpuh total akibat banjir.

Sebanyak 12 jembatan gantung putus, yakni di Desa Batu Gajah, Noman, Tanjung Beringin, Sungai Baung, Muara Tiku, Kelurahan Karang Jaya, Rantau Telang, Tanjung Raja, Sukarajo, dan lainnya.

Baca Juga:  Fasilitas Kurang, Polsek di Noman Baru Belum Ditempati

Kondisi ini diperburuk dengan aliran listrik yang terputus sejak banjir melanda Muratara. Ini disebabkan tiang listrik banyak yang roboh diterjang banjir. Parahnya lagi, ada gardu listrik meledak. Dampaknya, saluran seluler juga ikut putus.

Wakil Bupati Muratara Devi Suhartoni saat dibincangi usai memimpin rapat dengan Polres, Dandim 0406 Lubuklinggau, Mura, Muratara, mengungkapkan, musibah banjir di Kabupaten Muratara kali ini, adalah yang terparah dalam beberapa tahun terakhir. Dikatakannya, walaupun Muratara selama ini sering dilanda banjir namun tidak sampai memutuskan jembatan.

“Baru pertama kali terjadi 12 jembatan gantung putus dihantam banjir. Ini merupakan kejadian luar biasa di Muratara,” ujarnya.

Pihaknya berencana melakukan kajian terhadap permasalahan banjir di Kabupaten Muratara. Sebab dahulu, banjir hanya terjadi satu tahun satu kali. Sebaliknya sekarang kalau hujan turun langsung banjir.

“Untuk penanganan masalah banjir ini kita akan menggandeng universitas-universitas terkemuka. Apa permasalahannya, apa karena pembalakan liar, atau karena banyaknya perusahaan yang tidak memperhatikan kondisi lingkungan. Itu hanya bisa dibuktikan lewat kajian akademis,” katanya.

Baca Juga:  Arip Purnomo Pimpin HPP Muratara

Selain itu, ia melanjutkan, Pemkab Muratara berencana membuka kantor Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) di Muratara. Karena daerah yang rawan banjir seperti Muratara harus mempunyai BPBD sendiri supaya kalau banjir datang bisa cepat ditangani.

“Daerah kita ini rawan banjir. Kalau ada BPBD kan jadi lebih mudah koordinasi, terutama untuk ke pusat, supaya ketika bencana datang kita sudah siap, tidak harus menunggu seperti sekarang,” ungkapnya.

Dalam kesempatan itu, ia juga mengimbau masyarakat untuk berhati-berhati. Sebab kemarin, pihaknya dapat laporan ada beberapa tiang listrik yang roboh. “Kemarin tidak ada korban jiwa kendati ada 12 jembatan yang putus. Namun begitu, masyarakat tetap harus menjauhi tiang listrik yang roboh untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan,” paparnya.

Musibah banjir Kabupaten Muratara mengundang simpati pihak ketiga. Banyak bantuan seperti sembako dan mie instan mulai berdatangan di Dinas Sosial setempat.

Baca Juga:  FPK Muratara Dikukuhkan

Untuk memastikan bantuan tersebut disalurkan tepat sasaran, Bupati Muratara Drs H Syarif Hidayat dan Ir H Devi Suhartoni melihat langsung barang-barang bantuan tersebut.

Dalam kesempatan itu, Bupati meminta Dinas Sosial cermat dalam mendata masyarakat yang menjadi korban banjir. Jangan sampai ada yang tidak terdata.

Sementara itu, hingga kemarin beberapa sekolah terpaksa menghentikan aktifitas belajar mengajar lantaran masih terendam banjir. Ada beberapa yang terendam seperti di Noman, Karang Anyar dan Rupit. Belum diketahui kondisi di Kecamatan Rawas Ilir. Siswa-siswi diliburkan sampai batas waktu yang tidak ditentukan.

Kondisi demikian masih diperparah oleh matinya jaringan listrik dalam dua hari terakhir. Kondisi ini memaksa masyarakat memakai genset.

“Sudah dua hari Muratara gelap gulita. Untuk penerangan terpaksa memakai genset,” kata Majid (30), warga setempat.

Tidak itu saja, jaringan seluler juga ikut-ikutan terputus. Sehingga untuk berhubungan memakai telepon seluler jadi terkendala. # marwan ashari

 

 

 

Komentar Anda
Loading...