Terminal Bayangan Marak Lagi

18
BP/MARDIANSYAH TERMINAL BAYANGAN-Salah satu ruko tempat terminal bayangan angkutan  yang melayani penumpang tujuan antar kota didalam provinsi Sumsel, Minggu (27/3). Terminal yang berada dikawasan 7 Ulu Palembang ini salah satu pilihan calon penumpang.
Salah satu ruko tempat terminal bayangan angkutan yang melayani penumpang tujuan antarkota di dalam provinsi Sumsel, Minggu (27/3).

Palembang, BP

Terminal bayangan bukan hal baru di Kota Palembang. Praktik ilegal ini menjadi pilihan pemilik angkutan umum dan penumpang karena lebih menguntungkan. Sempat vakum beberapa tahun, terminal bayangan kini marak lagi.

Terminal Karya Jaya menjadi salah satu terminal besar di Palembang namun tidak berfungsi sebagaimana mestinya. Pasalnya, selain sepi, tempat pemberhentian penumpang ini tidak nyaman bagi para sopir maupun penumpang. Belum lagi banyaknya pungutan liar (pungli) yang dilakukan oknum petugas.

Terminal yang tidak nyaman, kurang strategis, dan banyak pungli menyebabkan terbentuknya terminal bayangan di sejumlah titik. Terminal bayangan bisa tidak di jalan besar. Contohnya di loket pemesanan tiket di dekat Fly Over Jakabaring, muncul pula terminal bayangan.

Di tempat ini, bus Marlin memenuhi kebutuhan perjalanan penumpang tujuan Lahat hingga Empatlawang. Tempat ini cukup strategis dan ramai karena di dalam kota dan dekat dengan rumah makan.

Anto, pegawai loket, mengatakan, bus Marlin sebelumnya pernah beroperasi di Terminal Karya Jaya. Tetapi akibat beberapa hal, aktivitas tiket dan penarikan penumpang diputuskan fokus di tempat sekarang.

“Sebelumnya juga di terminal itu, tapi karena sepi akibat penumpang lebih memilih di luar terminal, para pemilik loket di sana juga tidak aktif lagi,” kata Anto, Jumat (25/3).

Baca Juga:  NPC Desak Pemkot Kucurkan Bonus Asian Paragames

Menurutnya, mereka sudah lama menetap di tempat sekarang. Penumpang cukup ramai karena loket sangat mudah diakses. Serta tidak ada pungli seperti di tempat sebelumnya.

“Kalau keuntungannya, penumpang lebih ramai, tidak hanya kita saja, penumpang juga untung karena lebih dekat,” ujarnya.

Tak hanya bus antarkota saja yang sebelumnya biasa mangkal di Terminal Karya Jaya. Tetapi travel pun kerap kali menghampiri terminal untuk menjemput dan mengantar penumpang. Kini Travel enggan kembali ke Terminal Karya Jaya karena banyak pungli.

Hasan, sopir Melati Indah tujuan Lahat, mengatakan, dirinya enggan kembali ke Terminal Karya Jaya karena kondisi terminal kurang kondusif.

“Di Karya Jaya itu sepi penumpang. Retribusinya juga besar. Lain orang yang nagih lain juga jumlahnya, ada yang Rp20.000. Makanya kami masuk ke dalam kota, karena penumpang juga tidak repot jauh ke terminal,” ujarnya.

Pendapat senada disampaikan Aldo (25), salah seorang sopir angkutan. Dia mengaku, lebih memilih mangkal di sana lantaran tak ada penumpang yang menghampiri jika dirinya bersama rekan bersikukuh mangkal di Terminal Karya Jaya.

“Kalau di Karya Jaya tak ada penumpang, Pak. Bisa-bisa tak ada penghasilan kalau mangkal di sana. Kalau di sini kita disiplin, sudah ada pihaknya mencarikan penumpang dan keluar masuknya juga ngantri,” ungkapnya.

Baca Juga:  Pemilu 2019: Bagaimana Nasib Partai Politik Islam?

Dalam sekali mangkal dirinya biasa membayar uang sebesar Rp50 ribu kepada pihak keamanan setempat sekaligus dibantu untuk dicarikan penumpang sampai penuh.

“Biasanya Rp 50ribu kalau penuh, tapi kalau hanya beberapa orang saja bisa juga kita bayar kisaran Rp5 ribu sampai Rp10 ribu. Kemudian kita lanjut cari penumpang di jalan, karena ada-ada saja yang mau ikut dari jalan,” bebernya.

Menurut Aldo, dalam sekali berangkat dirinya mematok tarif Rp40 ribu per penumpang. Angka tersebut dinilai sudah mencukupi dan tak jauh berbeda dengan tarif jika berada di terminal Karya Jaya.

“Bedanya penumpang di sini lebih banyak ketimbang di karya Jaya. Mungkin karena terlalu jauh jadi penumpang lebih banyak ke sini, kami pun ikut penumpang saja Pak, mereka yang bayar kita,” ungkapnya.

Lebih Praktis

Penumpang sendiri lebih memilih terminal bayangkan karena jaraknya dekat dan praktis. Seperti diutarakan Lisa yang hendak menuju Lahat. Dia mengatakan, terakhir kali ke terminal Karya Jaya sekitar tujuh tahun lalu karena kondisi terminal yang jauh dari pusat kota meskipun angkutan tersedia. Dia juga pernah mencoba ke Terminal Karya Jaya tetapi cukup sepi karena kebanyakan penumpang memilih di luar terminal.

“Lebih dekat di sini, karena tidak perlu jauh-jauh sudah dapat busnya. Di Karya Jaya juga terasa kurang aman karena sering ada orang-orang yang kurang nyaman dilihat perilakunya,” tandasnya.

Baca Juga:  Naskah Undang-Undang Simbur Cahaya dari Palembang Kini Jadi Ingatan Kolektif Nasional

Penumpang lain Notri (21) mengatakan, saat ini sudah tidak ada bus yang ngetem di Terminal Karya Jaya. Sehingga saat ia hendak mudik lebih memilih yang berada di sana dibandingkan di Karya Jaya.

“Ongkosnya sama saja meski di Karya Jaya atau di tempat-tempat pool bus sekarang. Kalau katanya terminal bayangan, lebih enak itu daripada harus ke Karya Jaya jauh,” kata dia.

Penumpang lain Nur (45) mengaku, dirinya lebih memilih naik angkutan umum ke kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI) melalui pangkalan di Simpang Pamor lantaran jarak akses yang mudah dan harga yang lebih murah.

“Iya kalau kita ke Karya Jaya kan Pak sudah jauh dan nambah ongkos pula. Misalnya kita dari Plaju atau dari daerah lain kan terpaksa harus nyambung-nyambung mobil,” ujarnya.

Untuk mati surinya Terminal Karya Jaya dirinya tak mempermasalahkan hal tersebut karena selain jarak yang terlalu jauh, ketersediaan angkutan umum ke OKI tergolong banyak.

“Mungkin pemerintah bisa mengkaji kembali bagaimana sebaiknya pelayanan untuk masyarakat. Karena masyarakat ini otomatis dengan sendirinya akan mencari yang lebih mudah dan lebih murah,” pungkasnya. #pit/rio/bel/ndi

 

Komentar Anda
Loading...