Lingkungan Untuk Kemakmuran Semua
# Amanat Prasasti Talang Tuwo

Palembang, BP
Sebongkah batu tertelungkup di dataran rawa. Tempat itu bernama Talang Tuwo, letaknya di sebelah baratlaut Bukit Siguntang dengan jarak lurus lima kilometer. LC Westenenk, Residen Palembang, menemukan batu itu pada 17 November 1920. Permukaan batu pasir itu seluas 50 X 80 cm dan terdapat empat belas baris tulisan Pallawa, India, menggunakan bahasa Melayu Kuno dan Sansekerta.
Sejumlah ahli tulisan kuno telah membaca dan menafsirkan isi Prasasti Talang Tuwo. Pada tahun 1930, seorang ahli tulisan kuno bangsa Prancis, George Coedes, menyempurnakan pembacaan teks dan terjemahannya.
“Kemakmuran! Itulah kata pembuka isi Prasasti Talang Tuwo yang diterbitkan oleh raja Sriwijaya, Dapunta Hyang Sri Jayanasa pada tanggal 23 Maret 684 Masehi. Sebelumnya kata yang sama tersebut pula pada Prasasti Kedukan Bukit bertarikh 16 Juni 682 Masehi ketika sang raja mengadakan perjalanan suci dari Minanga Tamwan dan sampai di ibukota Kerajaan beliau meletakan batu pertama pembangunan permukiman (vanua) baru. Kemakmuran menjadi kata kunci bagi raja Sriwijaya pada masa itu. Kemakmuran tidak sekadar kata atau janji, melainkan suatu tindakan nyata yang dilakukan raja untuk membahagiakan semua mahluk yang hidup di muka bumi,” Kata Arkeolog dari Balai Arkeologi Palembang, Nurhadi Rangkuti, Sabtu (12/3).
Tindakan nyata itu tersurat dalam Prasasti Talang Tuwo. Prasasti ini menurutnya memuat peristiwa pembangunan Taman Sriksetra atas perintah raja. Di taman itu ditanam berbagai tumbuhan seperti pohon kelapa, pinang, aren, sagu, bambu haur, wuluh dan sebagainya. Taman Sriksetra menjadi acuan untuk pengembangan taman-taman atau kebun-kebun lainnya yang dilengkapi dengan bendungan-bendungan dan kolam-kolam.
“Pada masa itu taman, kebun, bendungan dan kolam tersebar di berbagai tempat. Semua itu untuk kebahagian semua: manusia, tumbuhan dan hewan. Raja menginginkan semua kebun dengan berbagai tumbuhan hidup subur dan berlebih panennya, demikian pula ternak-ternak yang dipelihara penduduk terus bertambah.Raja mempunyai komitmen tidak ada lagi orang yang lapar, tidak ada lagi pencuri,tidak ada lagi pembunuh atau pezinah,” katanya.
Selain itu menurutnya Amanat Dapunta Hyang Sri Jayanasa melalui Prasasti Talang Tuwo sangat jelas: kelola lingkungan untuk kemakmuran semua mahluk. Andai amanat itu dilaksanakan di zaman ini, alangkah bahagianya semua mahluk yang hidup di bumi Sriwijaya sekarang. #osk