Kampung Al Munawar Terus Berbenah Hadapi GMT
#Dijadikan Salah Satu lokasi Bagi Turis Saksikan GMT di Palembang
Palembang, BP
Panitia terus mematangkan persiapan acara Gerhana Matahari Total (GMT) pada 9 Maret 2016 di Palembang.
Untuk menyukseskan acara tersebut Kementerian Pariwisata dan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Sumsel menggelar kegiatan sadar pariwisata dan Sapta Pesona, Sabtu (27/2), di Kampung Arab , Al Munawar 13 Ulu, Palembang.
Pengamatan di lokasi, hal yang dilakukan mulai dari melakukan pembersihan di kawasan 13 Ulu Palembang dari sungai hingga pemukiman warga karena tempat ini memang dijadikan lokasi para turis untuk menyaksikan GMT di Palembang. Rencananya ada 12 negara yang hadir ke Palembang.
Turut hadir di antaranya Asisten Deputi Tata Kelola Destinasi dan Pemberdayaan Masyarakat Indonesia Dra Oneng Setya Harini, MM, Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Kadisbudpar) Sumsel Irene Camelyn Sinaga, dinas dan instansi terkait, tokoh masyarakat, tokoh agama, pelaku wisata di Sumsel.
Irene Camelyn Sinaga mengatakan, Pemprov Sumsel bersinergi dengan Pemkot Palembang dalam hal membangun pariwisata.
Tahun ini Disbudpar Sumsel mengembangkan sebanyak lima titik wisata di Kota Palembang. Kelima kawasan tersebut terdiri dari daerah 1 Ulu, 10 Ulu, 13 Ulu, Kapitan dan 3-5 Ulu Palembang.
Menurut Irene Camelyn, sebanyak 28 titik pariwisata yang ada di sepanjang Sungai Musi. Namun pihaknya akan mengembangkan sebanyak lima titik saja. Yang disetujui Walikota Palembang.
“Kita mulai sinergi dengan pemerintah kota membuat program destinasi wisata,” ujar Irene.
Untuk kampung Al Munawar, bukan hanya orang-orangnya yang ganteng dan cantik-cantik, namun budayanya, kopinya, dan tata cara makan serta makannya yang enak.
“Kami sudah mendatangkan blogger dari Indonesia, Singapura, dan Malaysia. Mungkin Kementerian Pariwisata ke depan akan membantu blogger lainya ke Sumsel, selain itu kampung Al Munawar rumah-rumahnya lebih dari 200 tahun ini kami takjub, dengan cerita yang luar biasa. Di sini ada poliklinik untuk menangani wisata dan pengunjung, di sini ada Al Quran bertinta emas, selain itu aktivitas agama di sini hidup karena memiliki madrasah,” katanya.
Acara GMT di Sumsel pada 9 Maret mendatang, menurutnya, didukung oleh Kementerian Pariwisata. ”Tanggal 9 Maret Jembatan Ampera akan kami tutup untuk melihat GMT dan wisatawan bisa menikmati makan di atas Ampera dan kegiatan lain di BKB,” katanya.
Sedangkan Asisten Deputi Tata Kelola Destinasi Dan Pemberdayaan Masyarakat Indonesia , Dra Oneng Setya Harini MM menilai kalau kampung Al Munawar layak menjadi kampung atau desa wisata.
“Untuk membangun destinasi ada enam pilar, perwilayahan, kalau destinasi kita di Al Munawar bagaimana buat perwilayahannya sehingga destinasi Al Munawar menjadi jelas. Kalau mendapatkan sumbangan untuk membangun sudah jelas wilayahnya, lalu membangun daya tarik pariwisatanya di Al Munawar ini menjadi destinasinya, saya kira bagaimana kita membuat daya tarik di Al Munawar,“ katanya.
Selain itu harus ada infrastruktur dengan melibatkan instansi lain dan masyarakat bertanggungjawab dalam membangun pariwisata.
“Apalagi Palembang punya banyak even, tahun ini kita ada GMT dan kami mendatangkan pihak Lapan dan ini menjadi potensi pariwisata dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat, apalagi Agustus nanti ada karnaval nusantara, saya yakin hotel-hotel juga penuh namun masyarakat bisa menyiapkan akomodasinya untuk home staynya, karena peluang usaha bidang pariwisata sangat luar bisa bagaimana kita menangkap ini dan kita teruskan meningkatkan potensi dan kualitas kita untuk menangkap potensi itu,“ katanya.
Sedangkan Peneliti Lembaga Penerbagan dan Antariksa Nasional (Lapan), Roro Priyatikanto, mengatakan, saat bulan belum sepenuhnya menutupi matahari secara total tidak aman saat melihat ke arah matahari tersebut tanpa menggunakan alat pelindung.
“Sebelum gerhana total maka harus menggunakan alat pelindung untuk melindungi mata,” ujar Roro.
Karena itu sebanyak 400 kacamata khusus untuk melihat GMT nantinya.
Namun menurut Roro kacamata tersebut jangan digunakan lebih dari satu menit karena bahannya terbuat dari plastik. Sehingga bisa mengalami kerusakan setelah lama digunakan.
“Gunakan kacamata ini kurang dari satu menit,” katanya.
Selain itu menurut Roro Priyatikanto yang berada di Palembang mengatakan, GMT tepatnya pada pukul 06.20. Tapi saat matahari naik pada pukul 06.00 proses bulan sudah mendekati matahari.
“Puncaknya pada pukul 07.20 seluruh matahari tertutupi oleh bulan. Terang seterang bulan purnama,” katanya, sehingga prosesnya terjadi selama dua jam.
“Palembang termasuk kota yang beruntung karena dalam kurun waktu 28 tahun kembali bisa menyaksikan fenomena GMT pada tahun ini,” katanya.
Diakhir acara juga diserahkan alat kebersihan dan jamban bagi pengembangan wisata kampung Al Munawar.#osk